lima belas

102 2 0
                                    

"Kau pulang terlambat kak" ucap Tiara yang melihat Awan baru saja melewati pintu

"Kau tiba saat makan siang" Tiara kembali mengomel

"Ku pikir kau kembali ke rumah mu"

Awan tidak memberikan jawaban apapun dan memilih untuk meninggalkan Tiara yang masih mengoceh diambang pintu

"Ayolah bicara padaku. Apa aku mempunyai sebuah kesalahan padamu" tanya Tiara yang segera menyusul Awan

"Tetapi kurasa tidak" ucap Tiara dengan suara sekecil mungkin tetapi masih dapat terdengar jelas oleh Awan dan membuatnya menyunggingkan senyuman dibalik bahu kekarnya

Sepertinya Awan sudah berubah menjadi pria berhati dingin, dia terus melanjutkan langkahnya dan tidak memperdulikan Tiara yang berusaha menghampirinya

Sebelum matahari memancarkan sinarnya, Tiara sudah mengetuk pintu kamarnya berkali-kali namun sayang tidak ada sahutan dari dalam. Gadis tersebut memutuskan untuk berkutat di dapur dan menyiapkan sarapan

"Aku tidak enak hati jika terus bergantung padanya" ucap Tiara dalam hati saat sedang menata meja makan tadi pagi

Sayuran didalam sandwich sudah tak segar lagi, daging yang dihimpit oleh sayuran pun sudah tidak hangat lagi. Pukul sembilan pagi akhirnya Tiara memilih untuk sarapan seorang diri, dan memakan jatah sarapan milik pria yang tak kunjung datang. Tiara berjanji akan memarahinya jika dia tiba dirumah

"Baiklah apapun itu, terserah kau saja" gadis itu tiba-tiba menghentikan langkahnya

Tiara memilih untuk memutar arah, menaiki anak tangga dan memasuki kamar tidurnya. Berendam didalam bathup dengan diiringi oleh musik klasik adalah cara terbaik untuk menyegarkan tubuh

Gadis itu menaiki anak tangga dengan perlahan dan menutup pintu kamar tidur serta tak lupa menguncinya dengan hati-hati agar tidak menimbulkan suara apapun

Sudah dua jam yang lalu Tiara menghabiskan waktunya didalam bathroom. Gadis itu benar-benar memanjakan tubuhnya—dari ujung rambut hingga ujung kaki—seperti, dia memberikan perawatan pada rambutnya yang sepertinya hampir tiga hari tak dicuci akibat perban dikepalanya, memberikan lulur disekujur tubuhnya, dan terakhir adalah memperindah penampilan kuku nya dengan sentuhan warna nude

Biasanya Tiara hanya membutuhkan waktu sekitar satu jam untuk memanjakan diri, tetapi kali ini tidak. Dia menikmati setiap pijatan-pijatan kecil dari jari-jari tangannya yang mungil. Sayangnya itu hanyalah alasan kedua, alasan utamanya adalah dia terlalu malas untuk bertemu dengan seseorang yang sudah mengacuhkannya

Saat ini Tiara sedang duduk diatas kursi kecilnya didepan meja rias. Tangan kanannya memegang hairdryer dan tangan kirinya memegang sebuah sisir. Sebenarnya gadis itu tidak terlalu suka menggunakan alat pengering rambut, karena itu akan merusak rambut hitamnya tetapi karena dirinya sudah tidak sabar ingin merebahkan diri diatas tempat tidurnya

Ctak..
Dirasa rambutnya sudah tak basah lagi akhirnya Tiara mematikan pengering rambut, lalu menyimpannya kembali didalam box

Diliriknya jam weker yang berdiri gemas diatas nakas tempat tidurnya

"Haruskah?" tanyanya pada diri sendiri

Kedua kaki yang memakai alas kaki berbulu—melangkah dengan sangat malas. Berjalan menuju jendela kamarnya, lalu menutup tirai dengan rapat-rapat. Pukul empat sore—matahari sudah mulai bergerak kearah barat, kamarnya tidak terlalu terpapar oleh sinar matarahi seperti pagi hari tadi tetapi tetap saja gadis itu tidak menyukai kamar yang terlalu terang bahkan dia sangat jarang menyalakan lampu kamarnya—Tiara hanya akan menggunakan lampu kamarnya pada saat dia sedang belajar

Setelah dirasa tidak ada lagi cahaya yang berasal dari luar menembus kamarnya, gadis yang saat itu tengah mengenakan piyama pendek berbahan satin hitam memilih untuk bersembunyi dibalik selimut dan tertidur

Disaat yang sama, Zidan baru saja bangun dari tidurnya. Pria itu menyandarkan punggungnya pada sandaran ranjang lalu meraih segelas air putih yang berada di nakas

"Sial, bagaimana bisa aku tergoda dan menuruti semuanya" ucap Zidan sambil melihat jam dinding yang menunjukan pukul empat sore

"Aku tidak pernah meminum sebanyak itu—kepalaku sangat pusing" Zidan memijit pelipisnya itu dengan penuh penekanan dan berharap agar rasa sakit itu perlahan menghilang

"Bodoh..bodoh. Bagaimana bisa kau bertemu dengan seorang Awan Alona?"

Zidan merutuki kebodohan yang dia lakukan semalam dengan memukul pelan kepalanya menggunakan sebuah bantal

"Bagaimana jika si tikus itu menceritakannya?" Zidan menggigit-gigit kuku ibu jarinya sembari memikirkan apa yang harus dia lakukan

"Aku harus menghubunginya lebih dulu" ucapnya sambil merogoh kolong bantalnya tempat dia menyimpan handphone nya

Setelah mengaktifkan handphone nya, Zidan segera mencari sebuah nama yang berada didalam kontaknya

Terhubung

Zidan menunggu dengan cemas, dia mengharapkan agar Tiara menjawab panggilannya nya tetapi disisi lain dia tidak tau apa yang harus dibicarakan

"Aku tidak tau.. apakah harus bersyukur atau tidak" ucapnya ketika melihat layar handphone nya kembali memunculkan kontak kekasihnya

"Dia tidak menjawabnya. Kemana dia?" tanya Zidan sambil memutar-mutarkan benda berwarna hitam itu menggunakan ibu jari dan telunjuknya

"Ah dia menelfon" setelah beberapa menit, benda persegi panjang itu berdering dan Zidan segera menggeser tombol berwarna hijau tanpa berfikir panjang

"Bagaimana keadaanmu? Baik-baik saja?" tanya Zidan pada yang diseberang sana

"Cih"

Zidan menjauhkan benda tersebut dari telinganya lalu mengecek sebuah nama yang tertera dilayarnya

"Brengsek" umpatnya setelah melihat nama Adit yang ada disana

"Ada apa kau menghubungiku?" tanyanya sambil mendekatkan kembali benda hitam itu ke telinganya

"Bodoh bagaimana kau bisa bertemu dengan nya?!"

"Kau tau, dunia itu sangat sempit"

"Dunia itu luas, kau saja yang bodoh"

"Arrghh! Terserah kau" ucap Zidan yang sudah mulai emosi

"Lalu bagaimana dia juga bisa menemukanmu?" tanya Zidan merasa tidak mau dikalahkan

"Dia mendatangi rumahku lalu seseorang memberitahu jika aku sedang berada di sebuah kelab. Lagi pula, kelab itu sudah menjadi tempat favorit kami berdua"

"Ck, bodoh. Ku beritahu, diluar sana banyak sekali kelab malam yang sering dikunjungi wanita cantik"

"Aku datang hanya untuk minum dan menenangkan pikiranku. Tidak seperti kau. Dari seberang sana—kau lihat aku bukan? Aku menghabiskan beberapa botol seorang diri, dan tidak menghiraukan jalang yang menggodaku"

"Ya ya ya.. terserah kau saja" ucap Zidan sambil berjalan menuju ruang dapur. Rasanya dia membutuhkan secangkir kopi untuk membuka lebar kedua matanya

"Bagaimana? Bagaimana jika kekasihmu itu mengetahui kelakuan busukmu itu!"

Zidan yang sedang mengaduk secangkir kopi pun tertawa kencang

"Kau mengkhawatirkannya?"

"Kau sudah siap untuk kehilangan kekasihmu? Ah tidak—aku lupa jika kau tidak memiliki perasaan yang serius padanya"

"Sepertinya kau salah besar" ucap Zidan lalu menyesap kopi yang masih berkepul

"Kau.. kau sudah siap untuk terkalahkan lagi?"

Zidan segera menutup sambungannya tanpa menunggu jawaban dari Adit yang berada diseberang sana

"Aku tidak akan meninggalkannya dan dia juga tidak akan meninggalkanku. Sekalipun dia berniat seperti itu, ku pastikan dia akan kembali dalam genggamanku"

Regret: Yes or Yes?Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang