sembilan

118 4 0
                                    

"Bagaimana?" tanya Adit pada orang yang berdiri disebelahnya dengan sedikit berbisik

"Astaga, kali ini apa lagi? Tidak puaskah kau menghujaniku beribu-ribu pertanyaan?"

"Aku tidak menyangka kau sainganku saat ini" ucap Adit sambil melonggarkan dasi yang terpasang lengkap dengan setelan kemeja putih dan tuxedo hitam

"Ah ya benar.. kau harus lebih berbaik hati padaku mulai detik ini" balasnya disertai cengiran licik

"Aku juga tidak menyangka jika—orang yang berada disebelahku ini memiliki sifat yang tidak jauh beda denganku"

"Siapa dia? Pasti sangat menyeramkan"

"Ck.. kau bodoh"

Adit dan Zidan sedang berada disebuah acara pertemuan keluarga. Ya benar, mereka berdua adalah saudara—lebih tepatnya Zidan yang merupakan adik sepupu dari Adit. Tidak banyak yang tau akan hal itu bahkan sahabatnya sendiri yaitu Awan. Mereka berdua merahasiakan ini dan hanya pihak sekolah saja yang mengetahuinya. Dan ya, alasan pihak sekolah tidak bisa mengeluarkannya—walaupun dia sudah terjerat banyak kasus karena orangtua Zidan menyumbang sebagian hartanya kepada disekolah ini

"Berhenti bersikap semau mu atau aku akan laporkan itu semua" ucap Adit setelah menenguk segelas soda

"Kau.. kau ingin melaporkannya kepada siapa? Ayahku? Ayahmu?"

"Salah satu diantara mereka atau keduanya"

"Cih.. percuma, itu tidak akan berjalan sesuai rencanamu"

"Kalau begitu, berhentilah mengincar korban selanjutnya. Kau tau? Berita tak mengenakan tentang sekolah kita sudah tersebar diluar sana. Ah satu lagi.. kau tau mengapa alasan kita semua dikumpulkan disini? Itu untuk membahas pelaku pembunuhan yang sering terjadi disekolah—membahas perilaku bodoh yang kau lakukan"

"Jadi mereka sedang membahas aku? Ah sungguh aku sangat terharu mendengarnya" ucap Zidan sambil memotong cheese cake lalu memakannya

"Dan juga mereka sedang membahas perusahaan kita yang hampir gulung tikar.. itu semua berkat berita itu"

"Lalu apa yang harus aku lakukan? Itu semua sudah terjadi. Tidak mungkin aku menghidupkan mereka—enam atau bahkan berapa pun jumlahnya aku tak ingat"  Zidan menaruh piring bermotif anggrek di atas meja yang sedang mereka duduki

"Berkacalah sebelum kau berbicara. Aku tau sifatku ini berasal dari kakek ku, dia menurunkannya pada ayahku lalu padaku. Tentu ayahmu sama dengan ayahku juga" Zidan meneguk segelas wine sebelum melanjutkan perkataannya

"Kau.. pasti memiliki sifat yang sama dengan ayahmu" sambung Zidan sambil mengarahkan telunjuknya kepada Adit

"Singkirkan telinjukmu, bodoh. Kau lupa sedang berbicara dengan siapa saat ini? Aku lebih tua darimu" Adit menebas tangan Zidan yang tepat berada didepan wajahnya

"Persetan.. kau juga pasti memanfaatkan hobi menembakmu itu bukan?"

"Jangan konyol, aku tidak sepertimu"

"Oke mari kita buktikan beberapa tahun lagi"

"S-silahkan saja. Yang pasti aku akan melakukan itu jika merasa berada diposisi terancam"

Adit memiliki satu tingkat keahlian menembak dibanding dengan sahabatnya, Awan. Saat Adit dan ayahnya pergi berburu didalam hutan, dia selalu mendapatkan hasil buruan lebih banyak dari ayahnya. Hanya dengan satu kali tembakan, Adit mampu melumpuhkan targetnya. Tak jarang Adit menahan nafsunya untuk tidak menembakan pelurunya kepada manusia-manusia yang mengganggunya, seperti Zidan saat ini

"Ah ya.." Zidan menjentikan jarinya

"Aku juga mengetahui satu hal—diusia kau yang menginjak akhir belasan ini sudah memiliki cukup banyak bodyguard"

"Ah tentu—dan jumlah pasti akan terus bertambah berkelipatan sesuai dengan usiaku nanti" Adit sebisa mungkin menampakkan sisi cool nya, tapi sesungguhnya dia terkejut

"Dari mana dia mengetahui semuanya" Pasalnya, dia selalu bermain rapih jika menyangkut soal bodyguardnya. Adit pun berjanji, setelah pertemuan ini selesai dia akan segera menemui ayahnya dan membicarakan persoalan bodyguardnya—bukan, bukan untuk menambah jumlahnya melainkan untuk memberitau jika saat ini dia sudah memiliki beberapa bodyguard.

"Dan aku juga mengetahui berapa banyak korban akibat ulah bodyguardmu itu—ah tidak itu adalah berkat perintahmu bukan. Tidak mungkin tidak ada yang mengendalikan mereka"

"Cih.. brengsek! Apa maumu sekarang?"

"Aku? Aku tidak ingin apapun darimu" Zidan memasukan kedua tangannya kesaku celananya, lalu tersenyum meremehkan

"Ah ya, aku mempunyai tawaran yang cukup menarik untukmu"

Zidan semakin mendekat dan Adit pun tak melepaskan mata elangnya pada mangsanya

"Bagaimana jika kau suruh sahabatmu itu untuk menjauhi kekasihku? Jika kau berhasil—aku akan tutup mulut untuk kasus mu itu" ucap Zidan tepat ditelinga Adit

"Kau sungguh mencintainya?"

"Tentu, apa kau tidak mendengar ucapanku yang penuh dengan ketulusan?"

"Kau.. sungguh tidak berniat ingin memanfaatkannya?"

"Maksudmu seperti meniduri nya?" Zidan pun menjauhi Adit dengan memundurkan beberapa langkahnya

"Ayolah itu sudah sepaket dengan mengencaninya bukan? Hanya saja.. aku belum memikirkan waktu yang tepat"

"Brengsek!!" Adit mengepalkan tangannya dan siap untuk melayangkan pukulan

"Kau ingin menghabisiku disaat seperti ini? Kau yakin ini tidak akan menjadi masalah dikeluarga kita?"

"Persetan" Adit pun kembali melemaskan tangannya

"Kau juga pasti memiliki keinginan yang sama denganku, jika kau berhasil mengencaninya. Cih—lihat wajahmu yang memerah itu, sepertinya jawabannya sudah terlihat jelas"

"Kau menjual kekasihmu dengan harga berapa?"

Zidan tertawa puas mendengar ucapan yang Adit lontarkan

"Aku suka pria to the point sepertimu kak, terkesan sangat gentleman"

"Langsung saja, aku sudah mulai muak dengan tingkahmu"

"Lima persen dari tabunganmu tiap bulannya?"

"Dua ribu dolar, apa itu cukup untukmu?"

"Kurasa cukup"

"Baiklah, aku akan membayarmu setelah kau selesai menjalankan perintah"

"Bagaimana jika kau menyuruhku setiap hari?"

"Tentu, akan berlaku dua ribu dolar setiap perintahku"

"Wow.. lihat dirimu kak"

"Aku akan mengirimkan pesan singkat padamu"

Setelah selesai bernegosiasi, Adit meninggalkan Zidan yang masih tersenyum puas dengan segelas wine baru ditangannya yang masih terisi penuh

Regret: Yes or Yes?Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang