enambelas

92 2 0
                                        

Tiara pun membawa secangkir coklat hangat miliknya kesebuah ruangan yang cukup luas. Tiara sangat jarang menduduki sofa ruang tamunya karena sangat jarang atau hampir tidak ada seseorang datang untuk berkunjung. Jika teman-temannya datang berkunjung, mereka selalu menerobos masuk kedalam kamarnya, dan Tiara membiarkan itu

"Maaf, sudah menunggu sedikit lama"

"Tidak apa lagipula aku ditemani oleh dirimu terdahulu" jawabnya sambil memunjuk sebuah foto seorang anak kecil menggunakan pakaian tanpa lengan berwarna hitam dengan boneka didalam pelukannya

"Astaga, seharusnya kau tidak melihat foto masa kecilku. Itu memalukan" Tiara berusaha menutupi wajah kekasihnya menggunakan sebuah bantal kursi

"Mengapa?" tanya Zidan yang berhasil menahan kedua tangan Tiara

"Kau terlihat sangat menggemaskan dengan dua gigi depan" ucapnya sambil mencubit gemas kedua pipi kekasihnya

"Jangan katakan bahwa aku mirip seperti.."

"Seekor kelinci" jawab Zidan diakhiri gelak tawa yang mengisi kosongan ruang

"Kau tau gigi ku tak sebesar gigi kelinci" Tiara menyilangkan kedua tangannya diatas perut sambil masang wajah masam

"Hanya perumpamaan sayang" Zidan mengelus pucuk kepala kekasihnya agar kembali tersenyum

"Tapi sungguh didalam foto itu kau tidak mempunyai gigi taring, dan saat ini... coba perlihatkan padaku" ucap Zidan menyuruh Tiara untuk tersenyum dan menampakan deretan giginya

"Benar bukan ucapanku? Kau memiliki gigi taring pada bagian kanan dan kirinya. Seperti serigala berkedok kelinci"

Tiara memutar kedua matanya malas
"Aku tau itu. Aku sudah hidup bersama dengan gigi ini beberapa belas tahun yang lalu"

"Tidak-tidak, bukan itu maksudku" ucap Zidan memegang kedua bahu kekasihnya

"Kau jarang tersenyum, itu yang menyebabkan aku baru mengetahui satu hal tentangmu"

"Ya benar.. aku cenderung memasang wajah asliku—maksudku.. aku jarang tersenyum pada mereka yang tidak ku kenal. Bahkan tak jarang mereka yang tidak mengenalku akan mencap diriku dingin"

"Kau sadar bukan.. kau hanya tersenyum lepas pada orang tertentu—seperti Awan, dan kau hanya tersenyum simpul pada mereka yang tak sengaja berpapasan denganmu atau mereka yang menyapamu"

"Lagipula—"

"Lagipula? Mereka sama hal nya denganku. Aku tidak mengetahui hal apapun tentangmu. Aku seperti seorang pria yang bodoh"

Zidan menarik napas panjang lalu menghembuskannya secara perlahan

"Maukah kau.."

Diraihnya kedua tangan Tiara kedalam genggamannya. Telapak tangan yang halus dan juga dingin, apakah perasaan kekasihnya sedang berdegup kencang?

"Untuk?"

"Saling bertukar cerita tentang diri masing-masing" ucap Zidan lalu mencium dengan lembut tangan kekasihnya

"Dan juga.. kau harus menceritakan tentang orang-orang terdekatmu padaku"

"Maksudmu? A-aku tidak menyembunyikan apapun darimu" ucap Tiara mengerutkan dahinya bingung

"Haruskah ku jelaskan?" Zidan melepaskan genggaman tangannya, lalu beralih mengelus surai hitam kekasihnya

Melihat gerak-geriknya, membuat Tiara sedikit ketakutan. Tiara memundurkan sedikit duduknya, dan menudukan kepala. Kedua tangannya dingin, dan gemetar

Regret: Yes or Yes?Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang