Zidan menghisap puntung rokok yang baru dia nyalakan beberapa saat lalu. Dihembuskannya asap hitam keabuan itu dengan perlahan. Disaat hujan seperti ini hal yang dapat dilakukan selain meracik mi instan adalah dengan merokok, sayangnya dia tidak mempunyai segelas kopi yang melengkapinya
Zidan sedang duduk didalam mobilnya yang di parkir dekat halte sekolah. Dia bimbang, kemana tempat yang harus dituju. Zidan tidak mau mengikuti les untuk hari ini karena mood nya sedang tidak baik. Dan sepertinya percuma saja kedua orangtua nya mendaftarkannya ditempat bimbingan belajar terbaik dan tentu termahal jika sampai saat ini Zidan tidak mengalami perubahan—kenaikan dalam bidang akademiknya
"Argh!! Apa yang harus ku lakukan" ucapnya lalu membanting kepala nya pada sandaran kursi
Tahun depan Zidan akan menghadapi ujian yang akan menentukan nasib nya. Ya, ujian untuk memasuki sebuah perguruan tinggi. Mungkin, semua orang tua menginginkan anaknya untuk melanjutkan study nya di perguruan tinggi terbaik tak terkecuali kedua orangtua Zidan. Seperti sedang memikul beberapa ton balok kayu di pundaknya, itulah beban yang Zidan hadapi saat ini
"Ah I see you.." ucapnya sambil menjentikan jari
Zidan dengan gerakan cepat langsung membuka semua jendela mobilnya agar menghilangkan semua aroma dari asap rokoknya, lalu membuang puntung rokok yang dia pakai tadi kesembarang arah
"Hai.." sapa Zidan lewat jendela mobilnya
"Astaga kau mengagetkan ku" ucap Tiara sambil memungut handphone nya yang terjatuh
"Sorry.." jawab Zidan merasa tak enak hati sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal
"Tunggu. Kau baru pulang? Pukul berapa ini?" tanya Zidan sambil mastikan pukul berapa di arloji nya
"Ya begitulah. Kau sendiri?"
"Aku.. aku sedang menunggu kau"
Tiara mengerutkan keningnya lalu tertawa hambar
"Apa yang kau katakan?"
"Masuklah cepat sebelum hujan kembali turun"
"Tidak terimakasih, akan ada seseorang yang menjemputku"
"Who is? Apakah dia yang beberapa hari mengantarmu juga?"
Tiara diam tak menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh Zidan. Tiara justru tetap diam berdiri sambil memainkan handphone nya
Zidan menghela napas
"Baiklah, bilang padanya kalau kau akan pergi denganku hanya sebentar saja untuk mengisi kekosongan perutku. Lalu setelah itu dia dapat menjemputmu ditempat kita nanti"
Pandangan Tiara yang tadinya menatap layar handphone kini beralih menatap tajam lawan bicaranya
"Apa kau sedang memintaku untuk menemanimu makan malam?"
"Yeah that's it" jawab Zidan sambil menaikkan pundaknya
Tiara menimang-nimang tawarannya. Awan berjanji untuk menjemputnya dan membelikannya gula kapas sebagai permintaan maaf, tetapi sampai saat ini Awan belum menghubunginya kembali. Sedangkan perutnya sangat lapar, Tiara tidak memakan apapun dari jam istirahat hingga sekarang, dia hanya terus menerus meminum air mineral yang dibawanya
"Oke"
"Yes!!"
Zidan membukakan pintunya dan mempersilahkan Tiara masuk
"Tetapi kau harus berjanji padaku" Tiara langsung mengacungkan jari kelingkingnya ketika dia baru saja mendudukkan diri disebelah kursi pengemudi
"Katakan. Apapun akan ku turuti" Zidan memakaikan safetybelt pada Tiara dan membuat kedua wajah mereka begitu dekat
KAMU SEDANG MEMBACA
Regret: Yes or Yes?
Historia Corta[BEFORE] My Partner Sex is My Ex-Boyfriend "Regret: Yes or Yes?" menceritakan bagimana Tiara dan Zidan dipertemukan, dan juga berakhir. Zidan yang dicap sebagai badboy sejagat raya meminta Tiara untuk menjadi ke kasihnya. Dan setelah beberapa lama m...
