duabelas

100 3 0
                                    

"Dimana dia? Mengapa dia tidak menjawab telefon saya?"

"O-oh selamat malam Mr. Jordan, mungkin..." Awan menggantungkan kalimatnya, dia tidak tau bagaimana menjawab pertanyaannya. Apakah dia harus berkata jujur jika saat ini Tiara sedang berjuang melawan atau..

"Mungkin Tiara sedang beristirahat. I-iya benar"

"Benarkah? Astaga pukul berapa ini dan dia sudah tertidur?"

"Se-sepertinya terlalu lelah karena dia semakin disibukan dengan mengasah kemampuan otaknya" jawab Awan sambil mengelus tangan yang berada didalam genggamannya

"Begitu.. rupanya dia sudah tumbuh menjadi gadis yang rajin. Ah iya—bagaimana kabarnya? Bagaimana kabarmu sendiri Awan?"

"Kita berdua baik-baik saja. Tiara semakin cantik— ah tidak ma-maksudku dia semakin dewasa" Awan merutuki dirinya sendiri. Bagaimana bisa dia mengucapkan kalimat yang seharusnya tidak dia ucapkan pada ayah Tiara, saat ini Awan hanya bisa menggigit-gigit kuku tangannya karena menahan malu

"Rupanya perasaanmu pada putriku tidak berubah sedikitpun"

"Ah.. itu.."

"Sepertinya saya udah mengetahui jawabannya. Kau tak harus selalu menjaganya, kau hanya perlu memantaunya dari jauh. Peluk dia saat sedang terjatuh"

"Baik akan saya lakukan, tetapi s-saya tidak bisa berada jauh darinya"

"Dasar anak muda" Mr. Jordan terkekeh di seberang sana
"Baiklah, terserah kau saja" lanjutnya

"Terimakasih.."

Tin..
Tin..

"Ah sial.."
Awan memukul stir dengan sangat keras.
Akibat lalu lintas saat ini cukup padat, mobil yang Awan kendarai sudah tidak bergerak terhitung sudah lima belas menit lamanya

Kini matahari sudah mempersilahkan bulan untuk menampakan diri. Gemuruh dan petir pun menemani hujan yang semakin deras

Dilihatnya gadis yang berada disampingnya dan kedua matanya masih tertutup dengan sempurna. Rasanya ingin sekali menembakan peluru kepada orang yang menyebabkan wanita yang dicintainya ini terluka. Tapi sayangnya Awan belum mengetahui siapa pelakunya

"Kau mengumpat?"

Awan membelalakan kedua matanya, dia tidak ingat jika saat ini masih terhubung panggilan telefon dengan ayah Tiara

"Ti-tidak bukan begitu. Hanya saja lalu lintas saat ini sangat ramai"

"Ah begitu kah? Sudah tiga tahun saya tidak menginjakan kaki disana. Sangat padat bukan?"

"Ya begitu.. saat ini juga hujan lebat"

"Saya dapat mendengar suara gemuruhnya dari sini. Ah kau sedang tidak bersama nya ya.."

"Maaf?"

"Putriku suka sekali dengan suara hujan dan aromanya. Coba saja saat ini dia tidak tertidur, dapat dipastikan dia sudah seperti anak anjing yang duduk terdiam dekat jendela dan fokus memperhatikan hujan turun" ucap Mr. Jordan dan diakhiri dengan kekehan khasnya

Sayangnya berbanding terbalik, kondisi saat ini tidak sesuai apa yang dipikirkan oleh Mr. Jordan

"Saya bisa membayangkan betapa menggemaskannya itu" tanpa disadari, Awan mengangkat kedua sudut bibirnya

"Sepertinya kita harus segera mengakhiri perbincangain ini.. karena disini sudah cukup larut, saya harus beristirahat. Beritahu padanya bahwa saya dan juga ibunya akan berkunjung pekan depan"

Regret: Yes or Yes?Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang