Chapter 54: An Unforgettable Meeting

575 101 8
                                        

Aku tidak gila. Aku belum kehilangan akal sehatku. Aku tahu bahwa apa yang telah terjadi adalah sebuah fakta. Aku tidak sedang berhalusinasi.

Aku tidak sedang berada di bawah pengaruh obat-obatan. Dan tak ada tumor di dalam kepalaku yang membuatku melihat hal-hal yang tidak nyata.

Aku juga sama sekali tidak pernah menderita gangguan jiwa apa pun. Jadi semua ini bukanlah rekaanku semata. Ini benar-benar terjadi. Ini nyata. Camkan itu.

Aku tidak benar-benar apa yang membuatku terbangun dari tidurku saat itu. Apakah karena bau amis yang tercium di udara, atau karena aku merasakan sesuatu yang hangat dan lengket membasahi tempat tidur kami.

Tapi aku ingat aku langsung menjerit sekeras-kerasnya saat menyadari apa yang telah terjadi. Istriku, Darla, hanya mendengus pelan seakan-akan tidak peduli dengan apa yang  sedang terjadi. Dia menatapku dengan lemas dan matanya tampak berkaca-kaca.

“Ada apa?” gumamnya.

“Kau berdarah!” teriakku. “Oh ya Tuhan, ya Tuhan, ya Tuhan.”

Rasa panik mulai menyelubungiku. Aku bisa melihat bahwa pendarahan yang sedang dialaminya benar-benar serius. Dia telah kehilangan begitu banyak darah sampai-sampai wajahnya tampak pucat dan dia mulai tidak sadarkan diri.

Yang terlintas dalam benakku saat itu adalah skenario terburuk dari apa yang mungkin akan terjadi. Kematian istriku dan janin yang sedang dikandungnya. Pandangannya tampak tak fokus, seakan-akan dia mengalami kesulitan untuk tetap sadar.

Akhirnya aku menggendongnya dari tempat tidur dan langsung berlari ke mobil dengan panik luar biasa.

Perjalanan menuju rumah sakit hari itu adalah perjalanan paling mengerikan yang pernah ku lakukan seumur hidup. Beberapa kali aku hampir bertabrakan dengan kendaraan yang sedang melaju kencang dari arah berlawanan.

Entah sudah berapa banyak peraturan lalu lintas yang ku langgar karena aku sama sekali tak dapat memfokuskan perhatian ke jalanan di depan kami.

Kami beruntung bisa sampai di rumah sakit dalam keadaan hidup-hidup. Tapi aku tahu aku harus bergegas sebelum kami kehabisan waktu. Karena aku tak dapat hidup tanpa Darla.
Rumah Sakit, cepat…. Cepat… cepat sebelum terlambat. Kumohon Tuhan selamatkan istriku….

Aku tidak repot-repot memarkirkan mobilku saat kami tiba di rumah sakit dan langsung membawa mobilku tepat ke pintu depan.

Lalu tanpa mematikan mesin terlebih dahulu, aku langsung membawa Darla keluar dan berlari ke dalam sambil berteriak-teriak meminta tolong pada siapa pun yang dapat mendengarku untuk menyelamatkan nyawa istriku.

Aku tak begitu ingat apa yang terjadi selanjutnya. Seseorang muncul dan langsung mengambil Darla dari pelukanku dan menaruhnya di atas sebuah ranjang dorong dan kemudian membawanya pergi.

Meninggalkanku seorang diri di sana dengan tubuh bermandikan darah dan seorang petugas rumah sakit menanyaiku apa yang telah terjadi.

“Usia kehamilannya sudah memasuki bulan ke delapan!” isakku, “Ku mohon, selamatkan istriku. Ku mohon, ku mohon, ku mohon.”

“Tenanglah, tuan,” seru perawat tersebut yang wajahnya tak dapat ku ingat, “Kami akan melakukan yang terbaik untuk menyelamatkan istri Anda. Tapi pertama-tama tenangkan dulu diri Anda. Percayakan istri Anda pada kami.”

Tapi aku tak bisa tenang. Sama sekali tidak bisa. Tidak saat seseorang yang sangat kau cintai sedang berada dalam bahaya. Saat kematian berada begitu dekat padanya. Dan tak ada yang bisa kau lakukan. Kau hanya bisa merasa kuatir, stres, panik, takut, putus asa, sedih, semua campur aduk menjadi satu-satunya hal yang membuatmu masih tetap bisa mengendalikan diri.

Creepy Horror : 2ndTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang