Pen Pal : Layar
Aku sengaja menyembunyikan beberapa detail dari ceritaku. Aku membiarkan harapanku mempengaruhi penaksiranku tentang bagaimana hal-hal sebenarnya terjadi. Aku tak berpikir semua itu masih ada gunanya.
Di akhir musim panas antara TK dan kelas satu aku terserang flu perut. Flu ini memiliki semua komponen flu biasa; namun, dengan flu perut, kau akan selalu muntah di ember dan bukan di toilet karena sesering itulah kau muntah-penyakitnya hilang dengan penuh perjuangan. Ini berlangsung selama sekitar sepuluh hari, tapi tepat sebelum ini berlalu, penyakit itu punya lanjutan dalam wujud pink eye (sakit mata). Kelopak mataku begitu merekat oleh lendir kering yang dihasilkan ketika malam hari, sehingga pada hari pertama ketika aku terbangun dengan infeksi ini, kupikir aku menjadi buta. Ketika aku memulai kelas satu, aku memiliki kerutan di leherku dari sepuluh hari istirahat dan dua mata merah yang bengkak. Josh ada di kelompok lain dan aku belum makan siang, jadi meski kantin penuh dengan dua ratus anak, aku masih punya meja untuk diriku sendiri.
Aku mulai menyimpan makanan cadangan di ranselku yang akan kubawa ke kamar mandi untuk dimakan setelah makan siang, karena jatah makananku biasanya diambil oleh anak-anak yang lebih tua yang tahu aku tak akan menentang mereka karena tak ada yang mau membelaku. Dinamika ini bertahan bahkan setelah kondisiku membaik karena tak ada yang mau berteman dengan anak yang ditindas, karena mereka tak ingin ikut kena getahnya juga. Satu-satunya penyebab semua itu berhenti adalah karena tindakan seorang anak bernama Alex.
Alex duduk di kelas tiga dan lebih besar daripada kebanyakan anak-anak lain di kelas berapa pun. Sekitar pekan ketiga sekolah, dia mulai duduk denganku saat makan siang, dan ini segera mengakhiri kekurangan pasokan makananku. Dia cukup baik, tapi dia tampak agak lambat; kami tak pernah mengobrol panjang lebar kecuali saat aku akhirnya bertanya kenapa dia duduk bersamaku.
Dia naksir kakak perempuan Josh, Veronica.
Veronica duduk di kelas empat dan mungkin gadis tercantik di sekolah. Bahkan sebagai anak berusia enam tahun yang sepenuhnya mendukung gagasan bahwa gadis adalah makhluk menjijikkan, aku masih menyadari betapa cantiknya Veronica. Ketika dia berada di kelas tiga, Josh mengatakan padaku, ada dua anak laki-laki terlibat perkelahian fisik yang dipicu oleh pertengkaran mengenai makna pesan yang Veronica tulis di buku tahunan mereka. Salah satu anak laki-laki itu akhirnya memukul dahi laki-laki satunya dengan ujung buku tahunan dan lukanya butuh dijahit agar menutup. Meskipun Alex bukan salah satu dari dua anak laki-laki itu, dia ingin Veronica menyukainya dan dia tahu kalau Josh dan aku adalah teman baik. Aku berkesimpulan bahwa dia berharap aku akan menyampaikan tindakan filantropisnya yang nyata kepada Veronica dan dia mungkin akan sangat tersentuh oleh ketidakegoisan ini sehingga Veronica juga tertarik padanya. Jika aku sampaikan itu pada Veronica, dia akan terus duduk denganku selama aku membutuhkannya.
Karena itu adalah waktu ketika Josh sering tinggal di rumahku membangun rakit dan menavigasi anak sungai bersamaku, aku tak punya kesempatan untuk menyampaikannya ke Veronica karena aku tak pernah melihatnya. Aku memberi tahu Josh tentang hal itu dan dia mengolok-olok Alex, tapi bilang bahwa dia akan memberi tahu kakaknya karena aku menginginkannya. Aku ragu dia akan melakukannya. Josh kesal karena orang-orang seperti itu begitu perhatian dengan kakak perempuannya. Aku ingat dia memanggilnya gagak jelek. Aku tak pernah mengatakan apa pun kepada Josh, tapi aku ingat ingin mengatakan, bahkan pada saat itu, bahwa dia cantik dan suatu hari akan menjadi wanita cantik.
Aku benar.
Ketika aku berusia lima belas tahun, aku sedang menonton film di tempat yang biasa disebut olehku dan teman-temanku sebagai Bioskop Buluk. Tempat itu mungkin dulunya bagus, tapi waktu dan kelalaian telah menggerogoti tempat itu dengan parah. Bioskop itu memiliki meja dan kursi yang dapat dipindahkan di lantai yang datar, jadi ketika bioskop penuh, hanya ada sedikit tempat yang bisa kau duduki untuk bisa melihat keseluruhan layar. Kukira bioskop itu masih buka karena tiga alasan:
1. Harganya murah untuk menonton film di sana.
2. Mereka memutar film cult yang berbeda dua kali dalam sebulan saat tengah malam.
3. Mereka menjual bir kepada anak-anak di bawah umur selama pemutaran tengah malam.
KAMU SEDANG MEMBACA
Creepy Horror : 2nd
HorrorSeri kedua dari Creepy Horror. Apakah kisah Creepypasta kali ini lebih 'abnormal', lebih santai, ataukah lebih mencengkam? Well, kau tidak akan tahu sebelum kau membacanya. Jangan baca ini sendirian. Karena satu hal yang pasti, you are not alone...
