Aku adalah wanita biasa. Aku juga punya nama seperti manusia biasa pada umumnya. Namaku Samantha Bellrook. Hidupku sangat normal dan wajar. Kalian pasti tidak akan suka mendengar cerita hidupku yang menurut kebanyakan orang sangat membosankan.
Aku lahir dan dibesarkan dalam sebuah keluarga sederhana di kota kecil yang damai. Aku menjalani tahun-tahun pendidikanku tanpa meraih prestasi yang gemilang. Aku patuh hukum, tidak pernah melakukan pelanggaran dan selalu menghindari masalah. Aku menikah dengan seorang pegawai biasa yang ramah. Suamiku meninggal setahun yang lalu karena penyakit paru-paru yang dideritanya. Sekarang aku tinggal sendiri sambil menerima pesanan jahitan dari para tetanggaku untuk memenuhi kebutuhan hidupku.
Sungguh, yang paling kuinginkan sepanjang hidupku hanyalah kehidupan normal yang tenang dan tanpa masalah. Tapi rasanya itu mustahil karena anak-anak kecil di kota ini sangat berisik. Mereka selalu bermain sambil berteriak di depan rumahku saat seharusnya aku menikmati tidur siangku. Sudah berkali-kali aku menghalau mereka tapi mereka selalu kembali sambil mengejekku, sangat tidak sopan!
Aku bersyukur suamiku meninggalkanku tanpa sempat memberiku keturunan, aku tidak mau anakku terpengaruh oleh sikap nakal mereka. Aku sempat berpikir untuk pindah saja tapi kurasa di kota lain pun pasti akan ada anak-anak bengal seperti mereka. Apalagi ini rumahku sejak kecil, aku tidak mungkin meninggalkannya.
Hingga akhirnya tibalah salah satu hari perayaan yang kubenci seperti hari libur lainnya, hari Halloween. Aku tidak tahu apa untungnya orang menyisakan satu hari penting mereka untuk para iblis dan setan yang tidak nyata. Bukankah lebih baik mereka menggunakan satu hari biasa itu dengan bekerja atau berdoa pada Tuhan yang seharusnya mereka yakini? Kurasa ini hanyalah salah satu ide bodoh penjual permen yang mengajarkan anak-anak kecil untuk memeras orang dewasa. Sama seperti para penjual coklat yang menciptakan Valentine, atau seperti para Santa Claus palsu yang menjajakan hadiah di hari Natal, mereka menciptakan kebodohan ini demi keuntungan mereka sendiri.
Yah, setidaknya kuharap Halloween tahun ini sama dengan tahun lalu. Tahun lalu tidak ada satu anak pun yang datang, sepertinya mereka sudah bosan karena aku tidak pernah memberikan permen untuk mereka. Kuharap hari ini aku bisa menonton rekaman film kesayanganku sambil minum teh dengan santai walaupun di luar sana masih terdengar bunyi petasan, pekik dan tawa anak-anak nakal itu.
"Tok tok tok" bunyi pengetuk pintu terdengar sayup dari ruang depan. Aku jarang menerima tamu, jadi aku yakin ketukan lemah itu bukan berasal dari orang dewasa.
"Tok tok tok" bunyi ketukan terdengar makin keras hingga aku tak bisa menganggap itu hanya khayalanku saja. Sial, apakah anak-anak itu mau menggangguku lagi?
"Trick or Treat!" suara lengking mencicit itu segera menyambutku setelah aku membuka pintu. Ternyata benar, tamuku adalah anak kecil penganut Halloween.
Aku mengamati anak lelaki pendek itu dengan pandangan sinis. Umurnya sekitar 6 atau 7 tahun. Rambut coklat gelapnya disisir rapi di atas kepalanya yang bundar seperti labu. Pipinya kembung berwarna kemerahan, hidungnya kecil, mata coklatnya yang bulat memancarkan keceriaan. Dia memakai tirai panjang berwarna merah darah yang mungkin dimaksudkan sebagai jubah drakula. Di tangan kirinya ada lampion kuning mini sedangkan ditangan kanannya ada kantung kertas sebagai wadah penyimpanan permen.
"Apa kau anak baru?" aku baru menyadari bahwa aku belum pernah melihat bocah ini sebelumnya. Pantas saja dia berani mengunjungi rumahku sendirian.
Bocah kurus itu mengangguk penuh semangat. Aku bisa melihat satu gigi susunya hilang saat dia tersenyum lebar. Dia kembali menyodorkan kantung kertasnya yang sudah terisi separuh.
"Aku tidak punya permen untukmu" pandanganku tertuju pada gerakan samar dibalik semak tanaman hias di depan rumahku. Aku bisa melihat moncong berbulu serigala dan ujung kerucut topi penyihir. Rupanya anak-anak nakal itu yang menyuruh bocah ini menemuiku.
KAMU SEDANG MEMBACA
Creepy Horror : 2nd
HororSeri kedua dari Creepy Horror. Apakah kisah Creepypasta kali ini lebih 'abnormal', lebih santai, ataukah lebih mencengkam? Well, kau tidak akan tahu sebelum kau membacanya. Jangan baca ini sendirian. Karena satu hal yang pasti, you are not alone...
