Chapter 41: The Under

578 120 11
                                        

Oke.. hmm , aku tidak terbiasa melakukan hal ini. Tapi aku akan berjaga – jaga seandainya kalian bertanya tentang bukti atau yang lainnya.. namaku Graham Luciani. Umurku 28 tahun. Hidup sendiri di rumah keluarga ku. Aku mewarisi rumah ini setelah kedua orangtuaku meninggal. Tentu saja mereka meninggal tidak dalam waktu yang bersamaan. Ibu ku meninggal duluan dan berapa tahun kemudian ayahku menyusul . Kadang – kadang aku cukup kerepotan untuk tinggal disini. Aku anak bungsu dari 8 bersaudara, jadi kalian bias bayangkan betapa besar rumah ini untuk ditinggali sebegitu banyak orang.

Kesepian seringkali membuat aku marah. Dikarenakan aku bekerja didepan computer sendirian didalam kamar. Gak ada interaksi manusia sama sekali. Ketika aku mewarisi rumah ini. Kondisinya sangat tidak layak untuk ditempati. Aku tidak tau apa yang telah dilakukan orangtuaku. Semua jendela ditutup papan. Semak – semak menutupi halaman. Dan semua perabotan rumah tertutup debu.

Aku mencoba untuk membersihkan tempat ini tapi setelah beberapa hari aku menyerah. Rumah ini terlalu luas untuk aku bersihkan sendiri.. daripada aku pindah atau rumah ini dijual. Aku memutuskan untuk membagi rumah ini menjadi 2 bagian. Yang satu untuk di kontrakkan, dan bagian lain nya untuk aku tempati. Jadi aku tidak harus capek - capek membersihkan nya, dan aku bisa dapat uang dari para penyewa. Kalau mereka mau merenovasi bagian rumah juga tidak masalah, asalkan mereka membayarnya sendiri. Semuanya sempurna!

Dikota tempat aku tinggal, kalian harus melapor ke kantor pemerintah sebelum melakukan renovasi. Tapi dalam kasusku, lumayan sulit. Aku mengunjungi kantor setelah membuat janji dengan tuan Alan Carter si supervisor pembangunan kota. Aku duduk di ruangannya. Setelah itu, aku mendiskusikan ideku untuk membagi rumah ini menjadi 2. Tuan Alan meminta seseorang untuk memberikan cetak biru rumah ku lewat intercom jadi aku bisa dengan mudah menjelaskan rencanaku. Setelah beberapa menit, datanglah wanita muda yang menarik membawa kertas –kertas seukuran A3. Dia memberikan kertas itu kepada Tuan Alan, lalu meninggalkan ruangan ini setelah memberikan senyumnya yang manis kepadaku.

Semuanya lancar ketika Tuan Alan menunjukkan padaku denah rumah. Pertamanya, aku tidak melihat dengan jelas. Tapi setelah beberapa saat aku menyadari ada yang aneh dengan denah rumahku. Di kertas itu menunjukan ada pintu ke ruangan kecil dengan tangga menuju ke dapur. Aku memberitahukan hal ini ke Tuan Alan dan menanyakan ruangan apa ini. “Tuan Luciani, sepertinya ini tangga menuju ke ruang bawah tanah”. Aku terkejut. Hampir 20 tahun aku tinggal dirumah itu (lahir disana. Meninggalkan rumah. Lalu kembali lagi) tanpa mengetahui keberadan ruang bawah tanah ini. Aku bertanya pada Tuan Alan dapatkah aku meminjam denah rumah ini untuk menginvestigasi ruang itu. Tetapi sayangnya Tuan Alan tidak bisa memberikan yang asli namun dia dapat memberikan copyan nya.

Ketika aku sampai dirumah, aku membuat kopi terlebih dahulu. Lalu mengambil senter dan menelusuri bagian dapur dimana seharusnya letak pintu tersembunyi itu berada. Orangtua ku menempelkan wallpaper di dinding dapur bertahun tahun yang lalu. Motifnya sungguh jelek. Corak bunga bunga kuning yang kusam. Aku meraba raba dinding untuk mengindetifikasi keberadaan pintu. Ya tuhan , wallpaper jelek ini akan aku bakar! Setelah beberapa saat. Aku menemukan celah sempit dibagian dinding itu yang aku yakin adalah pintu itu. Aku cukup penasaran, jadi aku mengambil pisau dari bak cucian, lalu memotong wallpapernya secara perlahan.

Setelah memotong beberapa potongan wallpaper, aku merobeknya hingga wujud pintu itu terlihat. Pintu itu terbuat dari kayu yang kokoh tanpa pegangan pintu, sehingga membuat aku bingung bagaimana cara membukanya. Dilihat dari bentuknya. Mungkin ini pintu geser. Mirip seperti pintu otomatis yang ada di supermarket. Bingo. Pintu terbuka , menghembuskan angin dingin dengan kekosongan didalamnya. Dilihat dari letak pintunya, mungkin ruangan ini berada di bawah tangga lantai rumah ku. Aku nyalakan senter untuk melihat sekitarnya, tidak ada yang menarik dari ruangan ini. Tidak ada sesuatu yang harus disembunyikan sehingga harus ditutupi oleh wallpaper. Bau ruangan ini aneh. Sepertinya berasal dari pasir dan tanah yang menempel dilantainya. Aneh. Berarti orang tua ku tahu akan keberadaan ruangan ini karena mereka yang mendekorasi dapur dengan wallpaper jelek itu. Disebelahnya, nya terlihat ada tangga yang sangat gelap seperti tak berujung.

Apakah aku harus mengurungkan niatku lalu kembali? Tapi ruangan ini sangat menyeramkan, dan kamar tempat dimana aku tidur berada di atas ruangan ini. Ya, aku harus mengeceknya. Tangga berderit ketika aku menuruninya. Langkahku membuat tangga kayu ini semakin berbunyi keras. Disaat aku berjalan semakin jauh menuju kegelapan.. udaranya makin dingin menusuk tulang, dan bau tanah semakin tercium kuat. Dan ketika aku mencapai dasarnya, terasa seperti bukan menginjak lantai kayu. Aku tak merasakan karpet selayaknya ketika kalian berada di lantai bawah tanah, tetapi lumpur! Senter menunjukkan bahwa aku berada di sebuah koridor panjang, dengan hati – hati aku melangkah.

Aku menemukan ruangan di sebelah kiri yang terpisah dari koridor dan ditutupi tirai tua. Aku buka tirai itu dan terkejut. Didalam nya ada mayat – mayat! Tercerai berai, menumpuk , bau tanah berubah menjadi bau busuk yang menyengat ketika aku memasuki ruangan ini. Bau daging yang membusuk menusuk hidungku. Aku mau muntah, kabur dari ruangan ini. Aku PANIK!

Aku rasanya ingin keluar untuk menelpon polisi ketika keadaan ku sudah lebih baik. Namun kuurungkan niatku. Aku lalu kembali ke ruangan tadi untuk melihat lebih jelas menggunakan senterku, dan menggunakan kaosku untuk menutupi hidung dari bau yang menyengat. Didalam sini banyak terdapat barang – barang aneh , radio rusak diatas rak, boneka boneka teddy bear berserakan di lantai. Mainan kuda kayu bergoyang yang sudah hancur. Dengan perasaan cemas. Aku melihat tempat tidurnya “Selama ini ada mayat didalam rumahku”. Aku melihat sebuah buku usang yang terbuka di samping radio. Aku mengambilnya lalu segera keluar dari tempat terkutuk ini. Polisi bisa memeriksa kemana koridor ini berujung. Aku tak tahan lagi untuk keluar dari sini sebelum pembunuh itu kembali.

Setelah aku melewati pintu geser, aku melempar buku yang aku temukan ke meja dapur. Lalu menutup pintunya. Aku sangat takut! Khawatir siapapun yang sudah membunuh orang – orang itu kembali dan mungkin melihat keberadaan ku disana. Tak ada cara untuk mengunci pintu ini, jadi aku mengambil HP lalu menelpon polisi dan duduk menghadap pintu dengan memegang pisau. Polisi berkata akan segera datang ketika mereka selesai dengan pekerjaannya, aku duduk diatas meja, dan mengencangkan pegangan ke pisau. Setelah beberapa menit keheningan, aku menyadari betapa kotornya tangan dan bajuku setelah masuk keruangan itu, dengan cepat aku membersihkan tangan di bak cuci ketika aku melihat buku yang aku letakkan tadi. Aku ambil dan kulihat lebih dekat. Sepertinya terbuat dari kulit yang sudah usang dan masih layak untuk digunakan. Sangat tebal, ku buka halaman satu persatu, aku bingung.

Ada gambar aneh yang dibuat anak kecil berwujud makhluk misterius. Aku tak mengerti. Sepertinya ini sebuah buku harian, karena ada tanggal nya disetiap lembar, menunjukan tahun 1978. Padahal ini buku harian, tetapi banyak gambar makhluk aneh beserta coretan yang berulang ulang, keliatannya samar seperti manusia. Dan dibawahnya terdapat kata “dUG” memenuhi halaman. Aku sedang mencoba untuk mengartikannya ketika pintu depan rumah ku diketuk. Aku bangkit sambil tetap memegang pisau dan menjawabnya. Akhirnya polisi datang juga.

Mereka memeriksa rumah dan menaruh ku di kantor polisi. Salah satu kekhawatiran ku adalah mereka akan berpikir akulah yang membunuh orang – orang didalam ruangan itu. Tapi polisinya kelihatan baik. Aku menunjukkan buku harian itu kepada mereka. Mereka akan menyimpan buku itu untuk di investigasi. Tentu saja aku membiarkannya. Aku diantar pulang setelah mereka selesai memeriksa rumahku. Tiga hari kemudian mereka memanggil ku ke kantor polisi. Mereka punya berita baru. Seorang polisi berperawakan gemuk dengan mukanya yang galak (Pak Beeves? Revees?Entahlah) memberitahukan ku bahwa koridor itu menyambung ke gudang kecil tak jauh dari rumahku. Pintunya sudah rusak dari dalam bertahun tahun yang lalu dan belum diperbaiki.

Dia menjelaskan bahwa ada seseorang yang tinggal di ruangan bawah tanah rumahku. Dan setelah dilakukan analisis DNA dari rambut, diketahui rambut itu sangat cocok denganku. Mereka juga menemukan informasi bahwa siapapun yang tinggal disana selama ini telah memakan mayat mayat itu. Mereka juga telah mengecek rekaman medis ku, saudara saudara ku dan orangtua ku, dan menemukan fakta bahwa ibu ku melahirkan 9 anak, yang paling tua lahir pada tahun 1972. Dia didiagnosis dengan penyakit misterius yang menyebabkan mutasi menakutkan.

Aku juga ditunjukan akte kelahiran nya. Dan ketika aku melihat namanya. Kaki ku lemas. Kepalaku sakit.

Lahir 29 Mei 1972 – DOUGLAS LUCIANI

Aku anak bungsu dari 9 bersaudara.

Creepy Horror : 2ndTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang