Chapter 95: My Worst 911 Call

373 79 1
                                        

Aku sudah menjadi operator 911 selama sekitar tiga tahun sekarang. Aku tidak tahu bagaimana kehidupanku akhirnya membawaku untuk bekerja di bidang ini, tetapi entah bagaimana hal itu terjadi.

Seperti yang mungkin bisa kau bayangkan, ini bukanlah pekerjaan terbaik untuk dimiliki. Bayarannya tidak bagus sama sekali, dan itu pasti tidak sebanding dengan roller coaster emosional yang menyertainya.

Aku tidak dapat memberitahumu berapa banyak malam tanpa tidur yang kualami karena apa yang ku dengar di telepon. Sebagian besar panggilanku tidak terlalu buruk, sebagian besar merupakan perselisihan rumah tangga kecil dan laporan perampokan bersenjata.

Tetapi pada kesempatan yang memang jarang terjadi, aku mendapat telepon yang sangat mengganggu, seperti panggilan di tempat pembunuhan atau sesuatu seperti itu. Panggilan telepon dengan anak-anak juga termasuk yang terburuk.

Tapi ada satu panggilan 911 yang tak pernah bisa kulupakan, dan itu terjadi beberapa minggu yang lalu.

Aku tinggal di kota yang lumayan kecil, jadi kejahatan bukanlah masalah yang sering terjadi. Tapi kurasa itulah sebabnya setiap kali aku mendapat telepon tentang pembunuhan / kejahatan mengerikan, hal itu menjadi lebih buruk secara emosional.

Semua panggilan yang masuk ke line-ku, kebanyakan bukanlah masalah yang serius. Aku tidak membedakan mana masalah yang serius dan mana yang tidak, tetapi kuyakin kau mengerti maksudnya.

Beberapa malam yang lalu, aku ditelepon sekitar pukul 23.30. Aku biasanya tidak bekerja lembur, tetapi salah satu rekan kerjaku sakit, jadi aku mengajukan diri untuk shift ganda, karena bosku akan membayar lembur jika aku melakukannya.

Awalnya aku hanya duduk di meja, melamun tentang apapun, hingga ada sebuah panggilan masuk. Aku mempersiapkan diri dan menjawabnya. Inilah isi percakapannya:

Aku: 911, Apa keadaan daru-

Penelepon: YA TUHAN TOLONG BANTU AKU! KUMOHON HENTIKAN DIA!

Aku benar-benar terkejut oleh penelepon yang berteriak itu dan seketika membuatku gelisah. Penelepon itu seorang laki-laki, seperti yang bisa kuketahui dari kedalaman suaranya. Aku sudah tahu ini bukan hal yang biasa, dan aku segera berusaha menenangkannya agar aku bisa mengetahui keberadaannya dan mengirim polisi / pemadam kebakaran / EMT ke lokasinya.

Aku: Pak, tenang. Saya ingin Anda memberi tahu di mana Anda berada.

Penelpon: 612 Yokar Street. Tolong kirim seseorang, Ada penyusup disini dan dia mencoba membunuhku !

Jalan Yokar berada di pinggir kota, jadi polisi butuh waktu setidaknya sepuluh menit untuk sampai ke sana. Aku harus mendapatkan cukup informasi dari penelepon untuk memberitahu petugas perjalanan tentang apa yang akan mereka hadapi saat tiba di sana.

Aku: Polisi sedang dalam perjalanan. Apakah anda terluka?

Penelepon: Tidak, tapi dia ingin menyakitiku. Dia menghancurkan semua yang ada di rumah, dan dia menjerit-jerit sangat keras!

Melalui telepon, aku sekarang bisa mendengar jeritan teredam seorang gadis. Sekarang terlihat jelas bahwa penyusup itu ada di dalam rumah.

Aku: Apakah ada orang lain di rumah selain Anda dan si penyusup?

Penelepon: Tidak. Aku sendirian sebelum dia masuk.

Aku: Oke, Saya ingin Anda mendengarkan baik-baik. Kunci diri Anda di dalam ruangan dan bersembunyi. Tetap tersambung dengan saya disini.

Penelepon: Aku sudah mengunci diri di dalam kamar tidur dan bersembunyi di bawah ranjang.

Aku: Oke bagus. Ceritakan apa yang terjadi.

Creepy Horror : 2ndTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang