Cerita kali ini rada gore. Kalau kurang suka, saya sarankan untuk skip ke cerita berikutnya.
----
Aku adalah pecundang di hari ulang tahunku.
Aku tampak menyedihkan di hari ini.
Perhatian ketiga temanku tentang mengingat hari ulang tahunku justru seperti sedang berlomba-lomba merudungku.
Mereka mengikatku di sebuah pohon.
Kemudian Elisa mulai melempariku dengan telur busuk, Cleo membaluriku dengan tepung, lalu Darla mencetak wajahku di atas kue ulang tahunku.
Tak hanya itu, mereka menelanjangiku di sana.
Mereka seakan mencoba membuatku menyesal karena telah dilahirkan.
Terlebih mereka memandangku seperti aku orang yang tak punya rasa malu.
Ini menyakitkan dan memalukan.
Aku menangis dan meminta mereka untuk menghentikan ulah mereka.
Namun mereka mengabaikanku dan berpura-pura tuli. Tanpa belas kasih mereka kembali menyiramiku dengan air selokan.
Gelak tawa mereka meredam suara tangisku.
***
Beberapa jam berlalu, akhirnya mereka melepaskanku.
Dengan tubuh menggigil kedinginan aku berjalan tertatih mengambil seragamku seraya memeluk diriku sendiri.
Orang-orang kejam itu, dengan masih menyimpan tawa di wajah mereka mencoba berbaik hati menawari untuk mengantarku pulang.
Tapi aku tak sudi.
Aku tak ingin bermain dengan mereka lagi.
Mereka bukanlah temanku sejak saat mereka melakukan lelucon ini.
Akupun bergegas untuk pergi dari sini. Aku sudah muak melihat wajah menjijikan mereka.
Namun, Elisa tetap memaksa untuk pulang bersama.
Ia terus mencoba menggandeng tanganku.
Tapi aku sudah terlampau jijik padanya. Akupun menghempaskan tangannya. Itu membuat dia tak terima dan mendorongku hingga aku terjatuh menggelinding menuruni bukit.
"Erghh... s-sakit," rintihku yang sudah terperosok sangat jauh.
Aku merasa rusukku patah dan membuatku kesulitan untuk bernafas.
Sendiku pun berderik setiap kali aku berusaha menggerakannya.
"Kanna! Kau tak apa?!" pekik Darla.
"Tolong," ucapku lemah.
Namun mereka tak kunjung datang menolong. Mereka hanya menatap lalu berangsur menghilang.
"Tolong," ucapku lagi namun tetap tak ada yang datang.
Aku sungguh tak bisa bergerak. Aku hanya bisa merintih kesakitan dengan tubuh yang kotor.
Bahkan aku merasa para serangga sedang menjilati lukaku.
"Mereka benar-benar bukan teman sama sekali," ucap suara seorang pria yang berbisik di telingaku.
"Tolong." Aku hanya bisa mengatakan itu.
"Hari ini adalah hari ulang tahunmu, kan? Aku akan memberimu hadiah," ucap suara itu lagi. Suara yang tak kutahu dimana wujudnya.
Namun lagi-lagi aku hanya bisa mengatakan, "Tolong."
Kemudian kesadaranku pun menghilang.
***
"Bangun!" seru sebuah suara yang mengejutkanku. Sontak akupun terbangun.
Saat kusadari, aku masih terikat di batang pohon, menatap ketiga temanku yang tergelak menyiapkan kejutan untukku.
"Apa ini? Apa Dejavu?" gumamku keheranan.
"Kanna! Selamat ulang tahun!" seru Elisa dengan telur di tangan kanannya.
Udara tiba-tiba menjadi berat dan mencekam.
Elisa kini mulai berancang-ancang melempar telur itu padaku.
Namun tiba-tiba saja petir menyambar Elisa, membuat Darla dan Cleo serentak berteriak.
Elisa terkapar di atas rerumputan. Tubuhnya menghitam dan wajahnya nampak hancur tak beraturan dengan mata yang menonjol keluar.
"Elisa!" pekik Darla seraya menghampirinya.
"Elisa! Elisa! Elisa!" seru Darla sembari mengguncang tubuh Elisa yang kaku tak bernyawa.
"Aaaaaaaaaaaaaaaaaaa..." teriak Cleo yang masih berdiri terpaku menatap kejadian janggal yang baru saja kami lihat.
Elisa... Elisa yang kami pikir telah mati, tiba-tiba saja menusukkan sebuah ranting ke arah perut Darla, hingga menancap dan menembus ke belakang punggungnya.
Elisapun memutar ranting itu, seakan ingin mengoyak isi perut Darla.
Ngeri dan mual kurasakan saat melihat hal itu.
Tapi, aku tak bisa melakukan apa-apa. Aku hanya bisa bersandar pada pohon tempatku terikat dengan keringat dingin yang membasahi pelipisku.
"Aggggkhhh... la-lari..." ucap Darla yang sedang membeku, seakan memperingati Cleo.
Tanpa pikir panjang Cleopun berlari pergi.
Namun tak lama Cleo berlari kembali kemari.
Aku berpikir Cleo kembali untuk menyelamatkanku yang masih terikat di batang pohon.
Tapi, ternyata tidak.
Ia terus berlari pergi namun juga terus berlari kembali. Ia seakan kehilangan arah.
Cleo akhirnya menyerah dan duduk berlutut seraya terisak.
Ia memohon agar hidupnya diselamatkan.
Namun, aku tak tahu dia sedang memohon pada siapa.
Elisa kembali bergerak. Ia mencabut ranting pada tubuh Darla dan kembali terkapar di rerumputan.
Darla yang tadinya diam membeku tiba-tiba berdiri dengan lubang menjijikan diperutnya.
Darla kemudian menghampiri Cleo dengan tatapan kosong.
"Aku tidak mau mati. Tolong aku, Kanna!" mohon Cleo dengan wajah pucat pasi.
"Kau... kau lupa kalau aku terikat?" tanyaku yang juga ketakutan.
Tanpa peringatan Darla merogoh ususnya sendiri yang telah menggantung dan terburai, lalu menyumpalnya ke dalam mulut Cleo sembari mencekik lehernya.
Cleo terus dijejali hingga mulutnya penuh. Ia dipaksa menelan benda lembek berbau amis itu dengan keadaan tercekik.
Cleo terlihat mual dan terbatuk. Air matanya terus mengalir membasahi wajahnya, wajah yang berangsur membiru.
Bola matanya berputar, lalu tak lama dia meregang nyawa.
Melihat semua adegan mengerikan itu, aku jatuh pingsan.
***
Aku terbangun karena mendengar suara sirine ambulan.
Tapi, aku tak tahu mengapa aku bisa tertidur di sini... di kaki bukit.
Aku hanya ingat ketiga temanku mengajakku melihat bunga liar di atas bukit sana.
Namun sepertinya mereka tak datang, dan aku memutuskan untuk pulang ke rumah saja.
"Kanna! Kanna! Kanna!" seru suara teman-temanku yang berderu memanggilku.
Spontan aku menengok ke segala arah, namun aku tak menemukan siapapun.
Aku hanya menemukan sebuah kartu ucapan di samping aku terbaring tadi.
Akupun membuka kartu ucapan itu dan membacanya.
"Selamat ulang tahun, Kanna. Tahun depan aku akan memberimu hadiah yang lebih menarik. Salam hangat dariku, Penghuni Bukit."
Sc: Creepypasta Indonesia Facebook
KAMU SEDANG MEMBACA
Creepy Horror : 2nd
KorkuSeri kedua dari Creepy Horror. Apakah kisah Creepypasta kali ini lebih 'abnormal', lebih santai, ataukah lebih mencengkam? Well, kau tidak akan tahu sebelum kau membacanya. Jangan baca ini sendirian. Karena satu hal yang pasti, you are not alone...
