Saat kesadaranku perlahan kembali, aku bisa merasakan kehampaan membasahi pikiranku yang rusak. Aku tidak bisa bergerak, apalagi mengingat yang terjadi sebelum aku pingsan.
Mataku seperti terbakar saat aku membukanya. Aku telah menghabiskan terlalu banyak waktu dalam kegelapan dan sekarang aku dipaksa untuk beradaptasi dengan aliran cahaya yang menyakitkan penglihatanku.
“Halo?” Aku mencoba memanggil, tapi yang keluar dari bibirku hanyalah bisikan.
Hingga akhirnya mataku bisa melihat dengan jelas. Aku mencatat ruangan ini. Dinding, lantai, dan langit-langit semuanya ditutupi busa insulasi suara yang aneh.
Aku mencoba untuk berdiri, tetapi kakiku menolak untuk bekerja sama. Kakiku terasa melemah secara signifikan, dan fakta ini, selain kepalaku yang pusing, membuatku sadar bahwa aku pasti telah dibius.
“Apakah ada orang di sana?” Tanyaku, sedikit lebih keras saat itu.
Tidak ada respon.
Aku mencoba berpikir kembali, mengacak-acak ingatanku sendiri, berharap menemukan informasi yang paling samar sekalipun. Aku telah dibius dengan dosis yang berat, itu sudah jelas, tapi aku tidak tahu mengapa mereka menempatkanku di ruangan kedap suara.
Beberapa saat kemudian akhirnya aku berhasil berdiri. Meski langkahku masih goyah, aku mulai mencari jalan keluar. Namun sayangnya, semua yang ada di sekitarku tersegel sempurna oleh busa kedap suara yang menggelikan itu.
Aku terjatuh kembali ke lantai, masih kelelahan karena tidur yang aku tak tau sudah berapa lama. Saat itulah aku benar-benar menyadari betapa sepinya disini. Ruangan ini tidak hanya menahan suara keluar, tapi juga yang masuk. Tidak terdengar orang lain dari luar, tidak ada suara lalu lintas, bahkan tidak ada suara pipa air yang terpasang di dinding.
Ini benar-benar menggangguku. Aku mencoba menahan napas, dan menempelkan telingaku ke dinding, tapi … hampa. Yang bisa kudengar hanyalah detak jantungku sendiri, dan suara ususku yang sedang mencerna apapun yang aku makan sehari sebelumnya.
Segalanya berjalan semakin buruk. Di dalam ruangan ini, aku adalah satu-satunya sumber suara, dan dengan tidak adanya stimulus eksternal, keheningan ini benar-benar akan membunuhku.
“Tolong, keluarkan aku dari sini!” aku memohon.
Lalu, aku ingat sesuatu. Tidak lebih dari sebuah petunjuk samar dari ingatan yang dalam dan sekilas ke waktu yang telah lama berlalu. Itu adalah pertemuan, percakapan yang aku lakukan dengan seorang pria yang tidak dapat aku kenali.
“Mengapa kamu di sini?” pria itu bertanya.
“Maksud anda pak?”
“Ini bukan tempat yang bagus, Ryan. Kamu masih muda, sehat. Bukankah kamu seharusnya berada di dunia nyata, dan mencari seorang istri?”
“Aku sudah punya …”
Memori singkat dipikiranku itu tiba-tiba terpotong oleh sebuah kerta yang entah darimana melayang di udara. Seseorang mengirimkan catatan melalui langit-langit ruangan ini.
“Hei, apa ini? Biarkan aku keluar!” Aku berteriak ketika aku mencari dari lubang mana pun catatan itu berasal.
Tak ada jawaban, aku kemudian mengambil kertas itu. Rasanya sangat aneh, kertas ini sangat… lembut. Hampir tidak ada suara apapun saat jari-jariku menyentuh catatan itu.
Di catatan tersebut, ada satu baris kalimat yang bertuliskan…
“Hari 1: Dengarkan.”
“Dengarkan apa, bajingan?” Aku berteriak.
KAMU SEDANG MEMBACA
Creepy Horror : 2nd
رعبSeri kedua dari Creepy Horror. Apakah kisah Creepypasta kali ini lebih 'abnormal', lebih santai, ataukah lebih mencengkam? Well, kau tidak akan tahu sebelum kau membacanya. Jangan baca ini sendirian. Karena satu hal yang pasti, you are not alone...
