Gimana Rasanya?

2K 246 137
                                        

Pukul 12 siang, matahari bersinar terik sekali. Panasnya bahkan sampai menembus hati nuraninya Seulgi.

Emang Seulgi punya hati nurani? Kemarin siapa yang bilang dia  nggak punya hati nurani sini maju! Dia punya, cuma emang disembunyikan aja keberadaannya. Kalo Seulgi nggak punya nurani, dia nggak mungkin kok mau bersusah-susah kayak gini demi mencari cincin tunangan yang Irene lempar dua hari yang lalu.

Bukan karena alesan harga cincinnya mahal atau ingin menjual cincin itu, cuma Seulgi nggak ikhlas aja cincin yang sematkan ke jari manis Irene berakhir dijalanan seperti ini. Dia nggak rela cincin pertunangan mereka berakhir kayak sampah.

"Heh! Lo niat bantuin gue kagak sih?!" protes Seulgi dengan peluh mengalir deras sejagung-jagung.

Tentu saja Seulgi protes. Dia udah bekerja keras lihatin rumput satu persatu buat mencari itu cincin, ublek-ublek selokan pake centong sayur yang dia ambil dari rumah, sedangkan Naeun? Cih! Cuma duduk-duduk aja macem orang bego, kalo Jaehyun sih lagi beli minuman di indoapril.

"Doa kan juga bagian dari membantu Gi." celetuk Naeun enteng, sambil kipas-kipas manja.

Seulgi yang jengkel sama Naeun terusan lempar segepok rumput yang barusan dia cabut, tapi karena rumputnya letoy jadi nggak kena Naeun, terbang ke bawa angin.

"Heh kambing! Tuhan mana mau ngabulin doa makluk pedopil macam lo!"

Ucapan nggak beradab Seulgi barusan jelas bikin Naeun sakit hati,  tapi ya Seulgi nggak peduli tuh. Bodo amat! Seulgi pikir, salah Naeun sendiri punya hati yang gampang baper. Lagian yang Seulgi bilang kan benar adanya, fakta.

Note : Perkataan yang diatas yang bilang Seulgi punya hati nurani sepertinya perlu direvisi lagi.

"Buru sini! Atau mau gue laporin ke Auntie gue kalo lo medopilin anaknya? Mau kek gitu?" ancam Seulgi lagi.

Kalo ancamannya kayak gitu mau nggak mau Naeun kudu nurut sama Seulgi. Dia terlalu cinta sama sepupunya Seulgi, tentu dia nggak sanggup kalo kudu pisah sama Jaehyun.

Naeun menghentakan kakinya ke tanah, berjalan nggak ikhlas sambil bibirnya meracau mengumpati Seulgi dengan berbagai macam bahasa. Apes banget nasibnya Jaehyun, punya sepupu berkelakuan biadab macem dia. Tsk!

Sepuluh menit saling bekerja sama, sebuah motor matic berhenti tepat di sebelah Seulgi dan Naeun yang lagi gelosotan ditanah berumput macem gembel. Seulgi awalnya bahagia karena mengira yang datang itu Jaehyun, tapi kebahagiaannya berganti rasa panik pas dia lihat yang datang orang yang nggak Seulgi kira sebelumnya.

"J-Joohyun..."

Irene membuka kaca helm, dan menurunkan masker ke dagunya.

"EHEM!" Irene berdehem keras, meringankan tenggorokannya. "Duhai senangnya pengantin baru, duduk bersanding bersenda gurau. Bagaikan rajaaa dan permaisuuuu~ri, tersenyum sipu bagaikan bidadari. Duhai senangnya menjadi pengantin baruuuuuuuu~"

Irene selesai bernyanyi, dan Naeun bertepuk tangan mengapresiasi suara merdu dari tunangan pacarnya.

Beda dengan Naeun, Seulgi bengong nggak kedip natap Irene yang barusan nyanyi lagu khas orang kawinan. Keheranan menggelayuti otak Seulgi, gimana mungkin Joohyunnya tersayang berkelakuan absurd kayak barusan? Apa jangan-jangan Irene kena sawan? Atau kesurupan setan? A-atau jangan-jangan Irene gila gegara psikisnya sering dia siksa akhir-akhir ini? Duh!

Seulgi yang merasa khawatir luar biasa lantas bangun, melepas sarung tangan, melihat Irene lekat-lekat. Berusaha melepaskan helm yang Irene pakai untuk mengecek suhu tubuh tunangannya lewat jidat. Tapi nggak semudah itu, Irene langsung menepis tangan Seulgi.

SEULRENE || HEI SISTER!Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang