2.0 ; epilog

122 16 2
                                    

—yuk didenger dulu yg ada di mulmed sebelum baca! ini coveran halu fav aku bgt dan sesuai aja gitu sama point of view wonwoo di book ini hihi

🔥🔥🔥

"Morning, say—"

"OTW KE DEPAN!"

Tut!

Wonwoo melengos mendengar panggilan teleponnya diputus begitu saja oleh Wonra. Untung yang putus bukan hubungan mereka yang baru seumur jagung.

Tangannya terangkat untuk melepas helm, lalu merapikan rambutnya. Sangat amat disayangkan Wonra tak bisa melihat nikmat Tuhan satu ini. Wonwoo memajukan tubuhnya ke spion motor, melihat-lihat jikalau ada sesuatu yang mengganggu pandangan. Lelaki itu sudah amat sempurna. Rambut yang ditata ke atas, kaos panitia festival tahun ini yang menambah kesempurnaannya, serta kokarde yang tergantung yang membuatnya makin berkharisma. Wonwoo memakai celana jeans berwarna hitam untuk bawahannya, membuat Wonra yang melihatnya langsung mengernyitkan dahi.

"Yakin nge-mc begitu?"

"Emang kenapa? Ganteng gini juga."

Wonra mendesah. "Ah, emang sengaja, ya, pengen bikin anak orang kesemsem sama kamuuu."

"Kan, aku kayak gini buat kamu juga," jawab Wonwoo melembut.

Semenjak pacaran dengan Wonra, nada Wonwoo tak sedingin dan sedatar biasanya. Ia lebih banyak mengeluarkan berbagai macam ekspresi yang kadang membuat Wonra merasa gemas.

"Hmm, padahal tahun kemaren biasa aja tuh style-nya. Rambutnya juga gak di keatasin kayak gitu," ucap Wonra setelah mendekat ke motor Wonwoo.

"Yaudeh, deh. Salah Bambam mesan baju panitia warna navy gini, dan salah Lisa nyuruh kita nge-mc pakai kaos ini," kata Wonwoo jengah.

"Kok, jadi nyalahin mereka? Gak nyambung, ah," sungut Wonra sambil melipat tangannya. "Yang salah tuh kamu. Kenapa coba milih jeans warna itu? Jadi, makin ganteng—"

Wonwoo mengulum senyum mendengar Wonra yang keceplosan. Ini alasan mengapa ia tak terlalu mempermasalahkan jika harus berdebat sesering mungkin dengan Wonra. Karena gadis itu bisa saja menjadi manis di tengah-tengah perdebatan. Lagipula sudah dari sebelum mereka dekat, mereka sering beradu mulut. Jadi, wajar jika kebiasaan kecil itu susah dihilangkan.

"Kamu juga!" serang Wonwoo tiba-tiba. "Kok, kaosnya dilapisin baju kodok gitu? Pengen biar cowok lain muji kamu imut, gitu?"

"Aku gak punya jeans hitam, Won. Adanya baju kodok warna hitam aja," bela Wonra yang masih salting akibat keceplosan. "Kan, kamu juga yang request sama-sama warna hitam biar bisa couple-an."

Wonwoo tak menjawab lagi karena perkataan Wonra benar adanya.

"Kamu begadang sampai jam berapa, Won?" tanya Wonra yang sedang berjingkit melihat mata panda Wonwoo.

"Kelihatan banget emang, Ra?" tanya Wonwoo yang setengah salting karena jarak di antara mereka yang tinggal beberapa sentimeter lagi. "Jam 4 aku pulang sekalian subuhan. Si Bambam ngedumel gak berhenti di sekre, gimana mau pegi?"

Wonra mengambil concealer miliknya dari tas kecil, lalu mengoleskannya pada wajah Wonwoo. "Kamunya aja kali yang terhanyut sama ceritanya mereka, kan? Pasti, nih, nyeduh kopi item juga. Ngaku, deh, kalian sepanjang malam ngeghibah, kan, kerjaannya?!"

"Astaghfirullah, enggak, by. Ngebahas kabar perekonomian negeri ini ajaaa," jawab Wonwoo.

"Hilih," cibir Wonra. "Mau sekalian pakai lipbalm, gak?"

Hareudang ; [JWW] ✔️Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang