Wonra melipat tangannya di depan dada. Giginya masih saja menggigiti tangkai permen yang telah dia habiskan.
Wonra masih kesal.
Bukan hanya karena permintaan dari adik kelasnya—ah, Wonra sudah lelah dengan segala tetek bengek kepanitiaan, rasanya jika bisa dia ingin pensiun agar tak ada lagi yang menyuruhnya menjadi panitia —namun, penyebab sebenarnya adalah waktu temunya dengan Wonwoo akan lebih sering dari biasanya.
Sudah cukup bagi Wonra untuk terus berhadapan dengan pemilik muka datar itu setiap hari di kelas. Apa harus Wonwoo selalu berada di sekitar Wonra sepanjang hari saat festival nanti?! Memikirkannya saja membuat Wonra sebal setengah mati.
"Kak, mau, ya, bantuin gue...," bujuk Dokyeom. Tangannya menggoyang-goyangkan tangan Wonra, membuatnya semakin terlihat mirip dengan anak anjing yang meminta diberi makan.
Wonra menghela napas berat. "Gue percaya, kok, sama lo, Kyeom. Bukannya lo udah berpengalaman sebagai seksi acara? Gak perlu ada gue lagi, kan?"
"Tapi, kita bener-bener butuh Kak Wonra," sela Yuju. "Festival kali ini lebih ribet dari tahun lalu, kak. Sekolah nyuruh OSIS buat menyelenggarakannya selama dua minggu, dari siang sampai jam 5 sore, ditambah lagi permintaan-permintaan mereka yang membuat kami kewalahan. Kami kebingungan bikin susunan acara. Dokyeom bilang dia gak sanggup kalau tanpa bantuan Kak Wonra."
Wonra menatap Dokyeom yang masih saja memasang ekspresi yang sama. Sebenarnya, jika ego Wonra tidak setebal buku kamus, bisa saja dia segera luluh. Kasihan juga melihat adik kelasnya menanggung beban itu tanpa ada bantuan dari orang yang lebih berpengalaman.
Sementara Wonwoo mendelik. "Ck, tumben banget ngebolehin diselenggarakan dua minggu. Tahun lalu aja, panitia kesusahan buat ngebujuk kepsek biar bisa seminggu full dilaksanain."
Wonwoo menahan diri untuk tidak mengumpat dihadapan adik-adik kelasnya ini. Pasti, ada saja kekesalan yang terpendam sejak lama.
"Dan kita juga butuh Kak Wonwoo buat ngontrol dan ngebantu kita selama festival ini, kak," ucap Lisa yang membuat Wonwoo melunturkan raut wajah geramnya.
"Iya. Guru pembina OSIS bahkan yang ngusulin buat minta Bang Wonwoo ikut kepanitiaan tahun ini. Katanya, cuman Bang Wonwoo satu-satunya ketua panitia yang dikenal sopan, tegas, dan bertanggung jawab sejak adanya festival tahunan di sekolah ini," tambah Junhoe.
Wonra mendecih. "Dih, kata siapa?"
"Guru-guru bilang gitu, kak. Kepsek juga."
Wonwoo yang mendengar hal itu berbangga diri. Dia melemparkan tatapan sombong pada Wonra yang duduk bersebelahan dengannya.
Sontak saja, Wonra yang tak tahan akan sifat Wonwoo langsung menjitak bagian belakang kepala lelaki itu dengan keras.
"Anjir! Sakit tau!"
"Siapa suruh nyebelin."
Semua yang berada di ruangan itu menahan tawa. Jika orang itu bukan Wonwoo, mungkin mereka sudah menertawakannya sekencang mungkin.
"Gak usah ketawa," hardik Wonwoo. "Kalau kalian ketawa, gue gak bakal setuju jadi seksi acara."
Otomatis semua membungkam mulut.
Wonra membalas. "Kalau kalian ngetawain Wonwoo, gue janji bakal bantuin kalian bikin susunan acaranya."
Mereka jadi kebingungan. Butuh sekitar satu menit bagi Wonra untuk menunggu reaksi yang diinginkannya. Tetapi percuma, semua tetap merapatkan mulutnya.
"Ih, kok, gitu," rengek Wonra yang kalah mutlak dari Wonwoo.
Cogan-cogan yang berjejer di samping Wonra hanya dapat menyatukan kedua tangan sembari menggerakkan mulut, menyampaikan permintaan maaf kepada kakel kesayangan mereka tanpa berbicara.
Wonwoo yang puas mengacungkan ibu jarinya. "Sip. Gue bakal bantuin kalian sebagai anggota seksi acara."
"Bener, kak?" tanya Lisa antusias, yang dibalas Wonwoo dengan anggukan.
"Kalau Kak Wonra gimana?"
Jika bukan karena Wonwoo, dia tak akan memikirkan ulang dan sudah menyetujuinya. Wonra memandang mereka semua satu persatu. Dia tak tega.
"Hhh. Yaudah, deh."
Mereka yang sedari tadi menunggu jawaban Wonra, langsung menghela napas lega lalu tersenyum lebar. Kompakan mereka terdengar di udara. Wonwoo bahkan ikut tersenyum kecil menyaksikan kegirangan mereka.
"Asyik! Makasih, Kak Won!" seru Dokyeom yang langsung memeluk Wonra, diikuti Yugyeom yang sedang loncat-loncat.
"Kak Wonra mau makan apa? Junhoe bayarin, nih, kak," celetuk Bambam yang langsung mendapat jitakan kecil di kepalanya.
"Hmm, apa, ya...," pikir Wonra sambil senyum-senyum. "Gue gak minta ditraktir makan. Cukup starbucks aja."
Junhoe tersenyum kecut. "Yaudah, demi Kak Wonra. Langsung gue go-food, ya, kak."
"Eh, traktir mereka juga," sambung Wonra, membuat semua orang disitu kecuali Wonwoo dan Junhoe menghambur kepelukannya. Boro-boro ikut senang, Junhoe malah tambah meringis melihat saldo go-pay miliknya yang semakin berkurang.
Adasisibaiknyajuga, nih, anak, batin Wonwoo.
Wonwoo memandangi ponsel Junhoe yang sedang memperlihatkan daftar menu di aplikasinya. "Gue pesan america—"
"Semua boleh kecuali Wonwoo."
Wonwoo menatap tajam Wonra yang sedang menyeringai. "Sialan lo."
🔥🔥🔥
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.