0.2 ; duo won

186 22 4
                                    

"Baik, kalian semua sudah mengerti materi yang telah ibu berikan hari ini, kan?"

Setengah kelas menjawab iya, sudah pasti seperti tak ada opsi lain selain itu. Sedangkan setengahnya lagi cuman menggaruk-garuk kepala, seperti yang dilakukan Wonra, Momo, dan Hoshi.

"Lo beneran ngerti, Won?" bisik Hoshi ke Wonwoo. Dia iri mengapa sahabatnya itu bisa mempunyai otak yang berkualitas.

"Hooh. Materi ini mudah banget kali, Hosh. Lo cuman disuruh naruh angka ini disini, terus dikaliin."

Wonra yang tak sengaja menguping menatap Wonwoo sinis. "Sok bener ngajarin orang."

Wonra gak tahu kalau Wonwoo sepeka itu. Cowok itu melepas kacamatanya, lalu berpaling menghadap belakangnya, tepat dimana Wonra duduk. Wonra agak mundur, tapi langsung merubah ekspresinya menjadi datar kembali.

"Apa lo?" sungut Wonra.

Wonwoo menatapnya datar. "Heh, lo jangan sok iye, deh."

"Cih, iklan biskuat ditiru."

Momo yang melihat mereka berdua segera memotong. "Udah, udah. Pusing gue kalo lihat dua triplek adu mulut mulu."

"Iya, udah ah, Won. Mending lo lanjut ngajarin gue aja," tambah Hoshi.

"Dih, biologi aja gue kagak bisa, apalagi matematika, Chi."

Lah, malah Wonra yang nyahut.

"Ra, gue ngomong ke Wonwoo kali. Lagian sejak kapan, sih, lo jadi nyahut kalo dipanggil Won. Perasaan dulu lo cuman nyahut kalo dipanggil Ra doang," balas Hoshi. Dia gemes banget soalnya Wonra manggil dia Ochi mulu, makin berasa kek mochi aja.

"Lah, terserah gue dong. Protes aja ke ortu gue yang ngasih nama begitu."

Hoshi mengelus dadanya. "Sabar, gue sabar. Gak lo, gak Woozi, kalo ngomong suka ngegas."

Momo menepuk-nepuk pundak Hoshi. "Namanya juga kembaran, Chi. Sabar aja."

Wonwoo dan Hoshi kembali ke aktivitas mereka tadi. Sementara Wonra sama Momo malah asyik ngeghibahin anak kelas sebelah.

"Nah, karena kalian sudah mengerti, ibu akan memanggil beberapa orang dari kalian untuk maju mengerjakan soal di depan."

Wonra dan Momo otomatis terdiam. Gugup, kalau-kalau inisial mereka dipanggil. Bu guru matematika memang suka banget memanggil nama murid pakai inisial huruf depannya. Heran juga apa motivasi beliau.

"Hmm, inisial H sudah maju kan, ya, minggu lalu?" gumam bu guru yang membuat Hoshi bernapas lega karena sudah dipastikan dia tidak maju untuk mengerjakan soal-soal dari neraka itu.

"Ya sudah. W saja. Ayo bagi yang inisialnya W harap maju ke depan."

Wonra merutuki dirinya sendiri dalam hati. Dia tidak tahu harus menjawab apa. Terlebih lagi dia harus maju berdua dengan Wonwoo. Ah, mengapa hanya dia dan Wonwoo yang berinisial W, batinnya.

"Mana orangnya? Apa perlu ibu sebutkan namanya?" tambah bu guru. "Wonwoo Jeon, Wonra Lee, silakan maju ke depan."

"Wtf," desis Wonra saat melangkah maju ke depan kelas. Wonwoo mengikutinya di belakang dengan tampang yang biasa saja.

"Nah, pas sekali soalnya ada dua. Wonwoo kerjakan nomor satu, dan Wonra nomor dua, ya," perintah bu guru sembari memberi dua spidol untuk Wonwoo dan Wonra.

Wonra mengambilnya dengan terpaksa, lalu beralih ke papan tulis. Setidaknya, dia harus menuliskan rumus yang benar agar tidak terlalu menjatuhkan harga dirinya.

Wonra melirik Wonwoo yang dengan santai mengerjakan soal tanpa kebingungan sama sekali. Dia lalu mencuri pandang ke jawaban milik Wonwoo. Soal mereka mirip, hanya berbeda di angkanya saja. Berarti, rumus dan cara penyelesaian soal Wonra sama seperti milik Wonwoo, pikir Wonra.

Dia lalu memandang rumus miliknya. Berbeda. Wonra saja tidak tahu mengapa dia menuliskan rumus itu, mungkin karena hanya itu yang dia ingat.

Wonra segera mencari penghapus papan tulis. Dia berputar-putar demi mencari penghapusnya. Bahkan, Wonra sampai berbisik pada teman yang duduk tidak jauh dari tempatnya berdiri hanya untuk menanyakan dimana penghapus itu.

"Lo nyari ini?" tanya Wonwoo tanpa mengalihkan matanya dari papan tulis. Wonra menoleh, lalu matanya beralih ke tangan Wonwoo.

Hampir saja tangan Wonra menyentuh penghapus itu jika Wonwoo tidak segera menaruhnya di atas papan tulis yang bagi Wonra cukup tinggi.

"Gak semudah itu, Ferguso."

"Won!" pekik Wonra, tangannya refleks membekap mulutnya. Untung saja ibu guru sedang asyik selfie, jadi Wonra tak perlu cemas akan dihukum.

"Won, kembaliin! Gue butuh itu sekarang!"

"Ambil aja sendiri."

Wonra gemas. Tangannya terkepal. Dengan tampang kesalnya, Wonra menginjak keras kaki Wonwoo.

"Argh!" erang Wonwoo. Wonra tak memedulikan raungan Wonwoo dan hanya tersenyum miring.

Dengan matanya, Wonra menyuruh Wonwoo untuk mengambil penghapus itu. Wonwoo yang masih meringis mau tak mau mengambilkannya. Toh, daripada kaki satunya diinjak Wonra lagi, lebih baik dia patuh.

Detik demi detik berlalu. Jawaban Wonwoo sudah sempurna dan menemui titik terang. Dia membersihkan tangannya dari bekas spidol hitam lalu melirik ke arah Wonra. Gadis itu tampak berpikir keras.

"Sesusah itu ngerjainnya?" cibir Wonwoo lengkap dengan seringaiannya.

Baru saja Wonra ingin mengumpati cowok itu, namun itu tak terjadi karena Wonwoo langsung mengambil alih bagian Wonra. Wonra bengong, memandang Wonwoo yang tengah menyelesaikan soal miliknya.

Wonra tak mengerti mengapa Wonwoo berlaku begitu. Apa ini karena saking bodohnya Wonra akan matematika sampai Wonwoo yang pintar tak tahan melihatnya?

🔥🔥🔥

🔥🔥🔥

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Hareudang ; [JWW] ✔️Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang