1.7 ; bukan iron man

155 15 0
                                    

Wonra selesai latihan pertama sebagai pembawa acara hari ini. Hanya pengenalan daftar acara yang akan dibacakannya—yang dia sendiri sudah tau berhubung Wonra juga panitia acara. Sebentar, tapi sudah seperti setengah hari dia habiskan waktunya berdiri di samping Wonwoo.

Tatapan Wonwoo tak berhenti mengarah pada dirinya, membuat Wonra menjadi tambah canggung. Wonra sendiri sebenarnya juga tak tahu jelas alasannya berlaku demikian. Hanya saja hati kecilnya seperti menyuruhnya untuk menjauh dari lelaki yang sudah menjadi teman sekelas selama 3 tahun itu.

Setelah festival ini, dia juga akan disibukkan dengan berbagai macam try out dan ujian-ujian sekolah yang sudah menanti di depan mata. Satu semester lagi, dan setelahnya Wonra akan benar-benar pergi dari kehidupan Wonwoo Jeon.

Wonra mengambil totebag yang diletakkannya di backstage, lalu pergi mendahului Wonwoo. Hari ini terasa sangat panjang baginya.

Jun tak menjelaskan apa-apa saat lelaki itu bersama Wonwoo dan meninggalkan Wonra sendirian. Jun hanya menyapa lalu berpamitan padanya. Wonra sendiri juga merasa tak harus selalu tahu mengenai hal-hal yang dibicarakan dua lelaki yang pernah sangat dekat dengannya itu.

Di tengah-tengah lamunannya, Wonra benar-benar tak menyadari jika sekarang dia melewati ruang OSIS dan tepat di depannya ada Yerin yang sedang mengobrol dengan beberapa panitia konsumsi. Hampir saja Wonra menabrak Yerin jika adik kelasnya sekaligus panitia konsumsi yang bernama Jihyo tak menegurnya.

"Eh, sorry. Gue gak lihat jalan tadi," kata Wonra lalu melanjutkan langkahnya ke arah gerbang sekolah.

Namun, baru beberapa langkah, pergelangan tangan Wonra ditarik terlebih dahulu oleh seseorang di belakangnya.

Wonra menoleh karena menyadari jika pegangan itu seperti memanggilnya. "Yerin?"

"Ra, kayaknya gue harus ngomong ini ke lo. Bisa luangin waktu lo sebentar?"

Wonra menatap Yerin yang terlihat sangat bersungguh-sungguh. Mau tak mau, Wonra mengikuti ajakan Yerin. Yerin terlihat senang, dia sampai meminta maaf kepada panitia lain hanya karena dia ingin berbicara empat mata dengan Wonra. Mereka memakluminya, lalu berpamitan pergi dan menyisakan dua gadis yang pernah dan sedang menjadi bagian dari hidup seorang Junhui Wen.

"Apa yang mau lo omongin sampai ngusir adkel lo?" tanya Wonra.

"Gue gak ngusir. Kan, tadi udah minta maaf dan bilang alasannya," jawab Yerin polos, membuat Wonra tak tahan untuk tak tersenyum dan terus-menerus bersikap dingin padanya.

Sekedar untuk memberitahu, setelah Wonra melihat Yerin bersama Jun beberapa waktu lalu, Wonra tak pernah menegur duluan ataupun mengobrol panjang dengan Yerin seperti dahulu. Seperti ada sebuah tembok besar yang dibangunnya karena kejadian itu. Namun, tembok itu berhasil diruntuhkan Yerin hari ini. Wonra juga berpikir jika dia harus mendengar hal yang ingin dibicarakan gadis berkuncir dua itu.

Wonra tersenyum miring. "Sama aja kali lo ngusir secara halus."

"Eh? Iya, ya? Hehehe," kekeh Yerin.

"Boleh gak kalo gue ngebahas tentang gue dan Jun ke lo?" tanya Yerin hati-hati.

Walaupun dengan hati-hati, tetap saja membuat raut muka Wonra yang tadinya sudah seperti biasa menjadi datar lagi. Wonra tak menjawab, melainkan berdiam diri beberapa detik lalu menganggukkan kepalanya sekali.

"Gue ngerti perasaan lo waktu lo tau kalo ternyata temen lo sendiri jadi selingkuhannya pacar lo. Gue ngerti karena kita sama-sama cewek."

"Lo... tau darimana? Jun yang bilang ke lo?"

Yerin menggeleng. "Bukan. Gue sebenarnya sadar pas ada lo sama Wonwoo. Cuman gue berpikir lebih baik diam daripada bikin suasana tambah tegang waktu itu. Gue juga sebenarnya tau kalo Jun pacaran sama lo waktu Jun ngedekatin gue. Gue gak habis pikir kenapa gue juga mau aja ninggalin Wonwoo yang tulus demi dia. Maafin gue, Ra. Maaf karena gue baru berani bilang gini ke lo."

Hareudang ; [JWW] ✔️Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang