{22} Miss X

402 78 4
                                        

Dua hari setelah Ji Woon berhasil membuat sang wartawan membuat pernyataan bahwa foto tersebut hanyalah hasil editan, skandal tersebut perlahan mulai bergeser ke berita pernikahan Mi Kyong dan Jae Hyun yang akan dilaksanakan satu minggu lagi.

Selama itu pula, Mi Kyong memilih untuk tidak menghiraukan semua panggilan maupun pesan Seo Jun. Dia sudah bertekad untuk menjauhi pria itu, sekalipun hatinya terasa sakit karena merindukan pria itu. Yah, Mi Kyong baru sadar, bahwa ternyata hatinya berada di tangan Seo Jun, bukan Jae Hyun. Tidak mungkin dia mendadak membantalkan pernikahan yang telah tersebar ke publik.

Saat ini Mi Kyong berusaha untuk tetap fokus pada pekerjaannya namun gagal. "Kau baik-baik saja?" tanya Jae Hyun di sampingnya. Karena Mi Kyong tampaknya tertekan bekerja di perusahaan, Jae Hyun memutuskan agar mereka bekerja di apartemennya untuk sementara waktu. Namun keputusannya itu ternyata tetap membuat Mi Kyong lesu.

"Aku hanya lelah saja," tutur Mi Myong lesu.

"Kau istirahat saja," gumam Jae Hyun. Dia melirik jam tangannya yang sebentar lagi menunjuk angka 12. "Biar Ji Woon yang menemaniku makan siang dengan Direktur Yoon. Di apartemen ini, kau bisa memesan makan siang lewat telepon di sana. Nanti pelayan bisa mengantarnya ke sini."

Setelah Jae Hyun pergi, Mi Kyong mengikuti instruksi Jae Hyun tadi. Dia mengamati buku menu makanan dan minuman di dekat telepon sambil menunggu si operator menjawab. Selesai memesan makanannya, Mi Kyong meringkuk di atas sofa. Dia sebenarnya tidak nafsu makan, namun Jae Hyun tadi memaksanya untuk tetap makan.

Ada perasaan aneh ketika Mi Kyong teringat Seo Jun. Semacam getaran yang membuat nama itu terkesan istimewa. Benar dan salah terasa kabur baginya, dan segala pikirannya hanya terpusat pada Seo Jun. Dia tahu, bahwa dia seharusnya mencintai Jae Hyun, namun dia tidak bisa mengendalikan hatinya. Yang bisa dilakukannya hanyalah berharap, suatu hari nanti perasaannya kepada Seo Jun menghilang dan digantikan oleh Jae Hyun, suaminya kelak.

Ponsel Mi Kyong lagi-lagi berbunyi. Namun dia tidak perlu melirik siapa yang menelponnya. Selama sekitar 15 menit kemudian, Mi Kyong mendengar suara bel. Mi Myong mendekati monitor kecil di dekar pintu. Tampak sosok pelayan wanita yang membawa nampan dengan makanan dan minuman pesanannya. Mi Kyong pun membuka pintu apartemen tersebut. "Saya membawakan pesanan Anda, Nona," ujar si pelayan muda itu dengan ramah.

"Kamsahamnida," balas Mi Kyong sopan.

"Biar saya letakkan nampan ini di meja," tawar si pelayan lembut. "Anda tampak lelah, saya khawatir nampan ini terlalu berat untuk Anda bawa."

"Oh, baiklah," ucap Mi Kyong tanpa berpikir. Pelayan itu melepaskan sepatunya sebelum melangkah masuk lebih dalam. Dia meletakkan nampan itu lalu mengucapkan selamat makan kepada Mi Kyong yang berdiri di dekatnya. Mi Kyong membiarkan pelayan itu pergi dan menutup pintu.

Dia kembali duduk di sofa, mengamati hidangan di hadapannya tanpa nafsu. Suara pintu tertutup tidak menghentikan Mi Kyong dari lamunannya. "Tidak nafsu makan ya?" Suara pelayan ramah tadi membuat Mi Kyong tersentak. Pelayan itu berdiri tidak jauh dari Mi Kyong. "Mmm, aku sedang malas makan," aku Mi Kyong.

"Pasti persiapan pernikahanmu dengan Jae Hyun Oppa sangat melelahkan," tutur si pelayan. Meskipun suaranya terdengar tenang, Mi Kyong tetap merasa gamang. "Kau... siapa kau?" tanya Mi Kyong was-was. Dia sudah bangkit dari sofa. Tatapannya tak luput dari sosok pelayan yang tersenyum manis.

"Namaku tidak penting. Kau tahu, betapa susahnya aku membunuhmu?" ujar si pelayan lembut. "Jae Hyun Oppa terlalu melindungimu hingga membuatku kerepotan." Mendadak badan Mi Kyong meraung ingin menjauhi wanita itu. Dia mundur selangkah sebelum berkata, "Apa maksudmu?"

"Oh, kau masih tidak paham juga. Sungguh gadis lugu," decak si pelayan. "Apa kau kira, insiden tabrak lari itu kebetulan? Lalu, insiden lampu sorot yang runtuh dan rumahmu yang kebakaran itu juga kebetulan?" Dia tersenyum melihat ekspresi Mi Kyong yang sibuk mencerna perkataannya. "Tapi... bagaimana bisa?" tanya Mi Kyong tak habis pikir

The Lost Soul Mate ♡Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang