{27} Accident

505 82 9
                                        

Sudah sekitar satu tahun Mi Kyong tidak pernah bertemu Seo Jun lagi semenjak pria itu wamil. Mereka rutin berhubungan lewat telepon dan surat yang selalu dikirim Mi Kyong bersamaan dengan barang lainnya. "Kau masih menunggu teleponnya?" tanya Jae Hyun yang duduk di seberang Mi Kyong.

Mi Kyong mengalihkan tatapannya dari ponselnya di atas meja. Dia mengiris steik yang dari tadi diabaikannya. "Biasanya jam segini dia sudah menelpon," tutur Mi Kyong yang sedikit kecewa.

"Mungkin dia sudah bosan denganmu lalu sibuk dengan wanita lain," cetus Jae Hyun dengan ekspresi tenang khas-nya.

Mi Kyong langsung mendongak, menatap Jae Hyun dengan sorot heran. "Dia sedang wamil, bukan konser," sembur Mi Kyong tak terima. "Tidak banyak yang bisa dia lakukan selama wamil, apalagi berselingkuh!"

Jae Hyun mengangkat bahunya dengan gaya acuh tak acuh. "Memangnya kau kira di sana tidak ada wanita?" sembur Jae Hyun sedikit datar.

Mi Kyong memilih untuk mengabaikan pertanyaan bosnya. Dia meraih ponselnya lalu menghubungi Seo Jun. Beberapa detik kemudian, teleponnya itu pun diangkat. Namun suara yang menjawab sungguh di luar dugaan Mi Kyong. "Yeoboseyo," suara wanita yang menjawab itu masih muda dan lembut. "Seo Jun sedang sibuk, saya bisa menyampaikan pesan Anda."

Apa-apaan ini? Siapa wanita ini? Tanya Mi Kyong tanpa suara. Dia langsung mengakhiri telepon itu.  "Ada apa?" tanya Jae Hyun sambil mengamati ekspresi Mi Kyong yang kebingungan.

"Wanita yang tidak kukenal mengangkat teleponku," tutur Mi Kyong apa adanya.

"Mmm, kubilang juga apa," celutuk Jae Hyun. Samar-samar ada percikan bangga pada suaranya. "Saat aku wamil dulu, ada lumayan banyak petugas kesehatan wanita. Mungkin wanita yang menjawab teleponmu itu salah satunya," lanjut Jae Hyun, mengabaikan kebisuan Mi Kyong.

Mi Kyong meletakkan teleponnya di atas meja. Dia menatap sisa steik di piringnya dengan sorot hampa. "Nanti... aku akan menghubungi Seo Jun lagi," gumam Mi Kyong di tengah lamunannya. Jae Hyun tidak meresponnya. Dia hanya sibuk mengamati Mi Kyong yang mengiris steiknya dengan lesu.

♡♡♡

"Kubilang juga apa, tidak mungkin Seo Jun selingkuh di belakangku," sembur Mi Kyong setelah memasuki mobil Jae Hyun. Pria itu akhir-akhir ini sering menjemput Mi Kyong. Sebagian pegawai juga keheranan melihat mereka yang sering datang bersama.

"Hmmm, lalu siapa wanita itu?" tanya Jae Hyun dengan ekspresi malas.

"Dia memang petugas kesehatan," jawab Mi Kyong riang. "Seo Jun sering bersamanya untuk menghibur gadis itu. Katanya, ibu gadis itu mengidap tumor ganas dan masih dalam perawatan."

"Hmmm," gumam Jae Hyun datar.

"Oh ya, Seo Jun bilang ada kemungkinan wamilnya selesai kurang dari satu tahun lagi," lanjut Mi Kyong antusias. "Kuharap dia pulang sebelum hari Valentine. Apa sebaiknya aku tetap membuat kartu Valentine untuk berjaga-jaga kalau dia belum pulang?"

"Jadi, setelah dia selesai wamil, kalian akan langsung menikah?" ucap Jae Hyun, mengabaikan pertanyaan Mi Kyong.

Raut wajah Mi Kyong seketika berubah sediki gugup. "Mungkin," tuturnya ragu.

"Dan kau... akan berhenti menjadi sekretarisku." Kalimat Jae Hyun terdengar seperti pernyataan, bukan pertanyaan.

"Mmm.... Itu janjiku kepada Seo Jun. Aku juga tidak bisa bekerja sebagai sekretaris Oppa sambil mengurus rumah tanggaku nanti. Oppa tahu sendirikan, pekerjaanku menyita banyak waktu," balas Mi Kyong jujur sekaligus ragu. Dia pernah berjanji akan berhenti bekerja sebagai sekretaris Jae Hyun setelah Seo Jun menyelesaikan wamilnya. Mendengar janjinya itu, Seo Jun pun akhirnya berhenti memintanya berhenti bekerja.

"Kau sungguh mencintainya?" tanya Jae Hyun. Ada nada keputusasaan pada suaranya, membuat Mi Kyong menoleh ke arah pria itu. "Aku sudah mencintainya sejak SMA," Mi Kyong tetap menjawab jujur, walaupun dia merasa kurang nyaman. Jadi, kecurigaan Seo Jun benar? Bahwa Jae Hyun Oppa diam-diam mencintaiku? Tanya Mi Kyong pada dirinya sendiri.

♡♡♡

Satu tahun kemudian...

Mi Kyong mengamati kotak kue tar kecil di pangkuannya. Kue itu merupakan hadiah untuk Seo Jun yang baru saja menyelesaikan wamilnya. Pria itu sudah tiba sore tadi di rumahnya. Namun karena Mi Kyong sibuk dengan pekerjaannya, dia baru bisa menemui Seo Jun pada malam hari. Jae Hyun menawarkan tumpangan kepada Mi Kyong ke toko kue. Tak Mi Kyong sangka, pria itu juga berbaik hati mengantarnya ke rumah Seo Jun juga. Rumah Seo Jun letaknya tidak jauh dari rumah Mi Kyong.

Butiran salju turun dengan perlahan, menyelimuti sebagian jalanan. Mi Kyong mengembuskan napasnya ketika mobil berhenti di depan pagar rumah Seo Jun yang sedikit terbuka. Mi Kyong langsung keluar dari mobil, tanpa menoleh Jae Hyun yang sibuk dengan ponselnya. Dia baru saja ingin mendorong pagar, namun gerakkan tangannya terhenti ketika melihat apa yang terjadi di hadapannya.

Senyum cerah Mi Kyong memudar. Tangannya yang tidak dibungkus sarung tangan terasa membeku. Tatapannya terus tertuju ke arah Seo Jun yang berciuman dengan seorang wanita muda di depan pintu rumahnya. Mi Kyong hanya dapat melihat bagian samping wajah wanita itu. Ciuman itu tampak begitu dalam, membuat Mi Kyong merasa jijik.

Tanpa sengaja, kotak kue di tangan Mi Kyong terlepas dari tangannya. Saat itulah Seo Jun menyadari kehadirannya. Mata pria itu membelalak. Ekspresinya tampak syok, terutama saat Mi Kyong berlari menjauh dari pagar. "Mi Kyong!" teriak Seo Jun sambil berlari. Dia terus mengejar Mi Kyong yang tak menghiraukan panggilannya, ataupun mengurangi kecepatan berlarinya.

"Mi Kyong!" panggil Seo Jun lagi. Dia terus berlari mengejar Mi Kyong. "Kajimayo¹... kumohon dengarkan aku dulu," mohon Seo Jun di tengah rasa frustasi yang menggerogotinya tanpa ampun.

"Karago²!" teriak Mi Kyong marah sekaligus sedih. Dia benci air mata yang membasahi wajahnya hingga menetes ke aspal. "Aku tidak mau mendengar penjelasan apa pun darimu. Tinggalkan aku sendirian," imbuhnya.
______________________
¹Jangan pergi.
²Kubilang pergi!

Namun kata-katanya itu tetap tidak menghentikan Seo Jun yang keras kepala. Jalanan beraspal itu tampak sepi, seolah tidak ada manusia yang menghuni daerah itu. Mungkin karena salju turun cukup deras sehingga orang-orang malas keluar dari rumah mereka yang hangat. Ketika Mi Kyong menginjakkan kakinya ke jalanan yang beraspal untuk menyebrang, dia mendengar suara mesin mobil yang mendekatinya.

Sebelum dia menyadari apa yang akan terjadi, mobil itu menghantamnya dengan keras seperti banteng yang mengamuk. Dia terpental lalu menghantam permukaan yang keras. Napas terdesak lolos dari mulutnya, dan dia merasakan tetesan hangat darah meluncur di sepanjang wajahnya lalu masuk ke telinganya.

Langit dan tanah terbalik. Dunia terasa seperti pemandangan dan suara yang membingungkan baginya. Dia seolah sedang melihat dari balik kaca yang buram. Di saat yang sama, kelopak matanya terasa semakin berat. Apa aku akan mati? pikir Mi Kyong lemah. Dia masih sempat mendengar teriakan Seo Jun dan suara decit ban mobil yang terburu-buru pergi, sebelum semuanya ditelan oleh kegelapan.

Flashback selesai

Lagi-lagi, Mi Kyong terbangun di rumah sakit. Dia membuka matanya yang terasa basah. Nama pasangan jiwanya yang selama ini lenyap dari ingatannya itu terus menggema di kepalanya. Dia tidak memedulikan gumaman keluarganya yang panik. Saat ini yang ingin dia lakukan hanyalah menangis.

Mungkin terdengar bodoh, kalau Mi Kyong baru saja menyadari, bahwa Seo Jun-lah selama ini pasangan jiwanya yang hilang dari ingatannya. Dan yang paling menyakitkannya, pria itu berselingkuh di belakangnya.

CONTINUED...

The Lost Soul Mate ♡Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang