{17} Fire

415 80 4
                                        

Malam menjelang akhir bulan Maret, Mi Kyong tidur gelisah. Dalam mimpinya, dia kembali ke masa dia ditabrak oleh mobil. Mi Kyong tergeletak di jalanan beraspal yang dilumuri darahnya. Samar-samar dia mendengar seseorang memanggilnya. "Mi Kyong! Cepat bangun!" Teriakan panik seorang gadis membangunkan Mi Kyong. Dia mengerjapkan matanya beberapa kali. "Eonni?" gumam Mi Kyong linglung.

Di tangan Mi Sun terdapat tabung pemadam api. "Cepat, bawa barang berhargamu keluar!" desak Mi Sun. "Cepatlah! Rumah kita kebakaran!" Melihat asap tipis dari pintu kamarnya yang terbuka lebar, dan air yang mengalir dari alat kecil yang ditempel di dinding, Mi Kyong pun segera bangun dari tempat tidurnya. Dia meraih tas kerjanya dan tas laptopnya serta boneka kucing pemberian Seo Jun. Setidaknya barang-barang tersebut harus selamat bersama nyawanya, pikir Mi Kyong.

Mi Sun sudah keluar dari kamarnya untuk membangunkan orang tua mereka. Mi Kyong berlari secepat yang dia bisa bersama dengan orang tuanya. Ayah Mi Kyong membuka lemari di meja lalu mengambil sebuah kotak berangkas kecil, dan tas berisi dokumen penting. Dia menyerahkan tas itu kepada istrinya yang juga membawa tas tangannya.

"Appa! Cepatlah keluar sebelum apinya membesar!" bentak Mi Sun kesal karena ayahnya masih sempat-sempatnya menyelamatkan barang. Usai memakai sepatu, mereka pun turun ke lantai dipimpin oleh Mi Sun yang sibuk memadamkan api dengan tabung.

Tiba di luar, Mi Kyong terpana menatap gedung rumahnya yang terbakar. Gedung di sisi kanannya juga terbakar, bahkan jauh lebih besar dari gedung keluarga Han. "Aigu¹," seru ibu Mi Kyong syok sekaligus sedih. "Kenapa rumah kita bisa kebakaran?"
_______________________
¹Kata seruan yang setara dengan aduh. Digunakan saat kesakitan, kesusahan, dan terkejut.

"Yeobo, sebaiknya kau masuk ke dalam mobil," tawar suaminya. Dia membuka pintu mobil yang masih menyala karena Mi Sun terburu-buru memasuki tempat tinggalnya. Mi Sun dan para tetangga lainnya berbondong-bondong memadamkan api dengan alat seadanya sambil menunggu pemadam kebakaran tiba. Mi Kyong hanya memasukan barang yang dibawanya tadi ke dalam mobil. Dia masih bergeming sambil menatap api yang melahap rumahnya.

Mungkin karena dia merasa putus asa sehingga akhirnya dia menelpon Jae Hyun untuk meminta bantuan. "Yeoboseyo," suara Jae Hyun yang baru bangun tidur terdengar. "Mi Kyong?" Kali ini Jae Hyun terdengar was-was. Sangat tidak biasa Mi Kyong menelpon saat tengah malam. Mi Kyong menjelaskan apa yang terjadi dengan suara gemetar. Tanpa pikir panjang, Jae Hyun langsung menuju tempat tinggal Mi Kyong.

♡♡♡

Setelah memastikan api reda, Mi Kyong dengan keluarganya mengungsi ke hotel milik Jae Hyun. Pria itu meminjamkan kamar jenis penthouse suite dengan fasilitas kelas atas. Keluarga Han yang selama ini tidak pernah menginjakkan kaki ke kamar hotel semewah itu tentu saja ternganga sambil mengamati sekeliling mereka.

Kamar itu luas dan memancarkan aura rumah kecil yang mewah. Terdapat ruang tamu kecil yang dilengkapi TV layar datar berukuran besar, dapur yang dilengkapi dengan peralatan dan sedikit bahan memasak, serta tiga kamar tidur yang masing-masing dilengkapi kamar mandi. Kamar ini biasanya digunakan oleh para turis yang datang berombongan. Dan tentunya mempunyai dompet tebal.

"Jae Hyun-ssi," ujar Mi Sun yang akhirnya sanggup bersuara. "Kamar ini terlalu berlebihan untuk kami. Kami hanya butuh kamar standar saja."

Jae Hyun tersenyum ramah ketika berkata, "Kamar standar di hotel ini sudah dipenuhi turis. Jadi hanya kamar ini saja yang bisa kalian pakai."

"Oh, kalau begitu, kami akan pergi ke hotel lain saja," sahut Mi Sun lelah.

Jae Hyun mengernyit tak suka. "Sekarang sudah hampir pukul empat pagi. Kau masih mau repot-repot mencari kamar hotel yang kosong?" sahut Jae Hyun masuk akal.

The Lost Soul Mate ♡Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang