{11} Kiss

604 104 1
                                        

Setelah berkata "Semuanya," wajah Seo Jun berubah menjadi gelap. Pria itu seolah memiliki kemarahan terpendam yang membuat Mi Kyong tak berani bertanya apa-apa lagi. Sebelum mereka berpisah, Seo Jun menyerahkan sebuah tiket untuk acara fansmeeting-nya. Acara ini akan diadakan pada tanggal 16 Maret nanti.

"Aku tidak bisa menjamin apakah aku akan datang. Akhir-akhir ini pekerjaanku banyak sekali," ungkap Mi Kyong apa adanya.

"Ambil saja," Seo Jun bersikeras. "Aku tidak memaksamu datang. Dengan tiket ini, kau bisa duduk di bagian paling depan. Aku sudah meminta Ah Rim agar menjaga kursi di sampingnya untukmu."

Mi Kyong menerima tiket itu dengan enggan. Meskipun acara itu diadakan hari minggu, dia tetap tidak yakin apakah dia bisa pergi. Jae Hyun pasti tidak akan mengizinkannya pergi karena acara tersebut berkaitan dengan Seo Jun.

Sore harinya, Mi Kyong memasuki kamar kakaknya untuk mengambil isi steples. Saat menelpon Mi Sun tadi, kakaknya itu memberitahunya kalau dia menyimpan isi steples di laci meja. Mi Sun juga tidak pulang malam ini karena sibuk dengan pekerjaannya sehingga dia menginap di apartemen rekan kerjanya.

Mi Kyong mendekati meja Mi Sun. Barang-barang di atas meja itu sedikit berantakan. Mi Kyong membuka laci pertama namun tidak menemukan apa yang dicarinya. Selanjutnya, dia membuka laci kedua. Di sanalah sekotak isi steples itu tersimpan. Lalu, tatapan Mi Kyong menangkap sebuah kotak bening berukuran kecil.

Dalam kotak itu, tersimpan seuntai kalung dengan liotin berbentuk setengah hati berwarna perak. Kalung itu sangat mirip dengan kalung dalam mimpi Mi Kyong sebulan lalu. Lebih tepatnya, memang kalung ini lah yang ada di mimpinya.

"Apa ini punya Eonni?" tanya Mi Kyong pada dirinya sendiri. Dia mengeluarkan kalung itu dari kotaknya. Ketika kulitnya bersentuhan dengan liontin itu, Mi Kyong merasakan semacam desiran aneh. Instingnya mengatakan bahwa kalung itu adalah miliknya. Tapi... kalau benar ini milikku, kenapa bisa ada di sini? Setahu Mi Kyong, kakaknya bukanlah tipe orang suka mengambil barang orang lain tanpa izin, termasuk barangnya.

Mi Kyong memutuskan untuk mengambil kotak kalung itu. Saat Mi Sun pulang besok, dia akan menanyakan tentang kalung itu.

♡♡♡

"Ji Woon-ssi, ini dokumen yang kau minta," tutur Mi Kyong sambil menyerahkan map di tangannya.

"Kamsahamnida¹," ucap Ji Woo ramah. Sikapnya lebih hangat jika kepada Mi Kyong.
_________________________
¹Terima kasih (formal. Biasanya diucapkan kepada klien, rekan bisnis, bos, dan orang yang lebih tua/dihormati.)

Tatapan Mi Kyong menangkap sebuah buku kamus tebal di atas tumpukan buku milik Ji Woon yang rapi. "Apa kau sedang belajar bahasa Arab?" tanya Mi Kyong.

"Ne. Ini merupakan bahasa ke-16 yang kupelajari," ungkap Ji Woo antusias.

Mata Mi Kyong melebar. Dia berkata dengan kekaguman yang terdengar jelas. "Kau mempelajari bahasa sebanyak itu?" Ah, tak heran Jae Hyun Oppa tetap mempekerjakannya, pikir Mi Kyong. Ji Woon bisa menjadi asisten sekaligus penerjemahnya ketika Jae Hyun melakukan perjalanan bisnis ke luar negeri.

"Ne," aku Ji Woon penuh semangat. "Aku tertarik belajar bahasa lain selain Korea dan Inggris sejak umur 14 tahun. Targetku adalah menguasai 22 bahasa."

"Dua--puluh--dua bahasa?" gumam Mi Kyong tercengang. "Banyak sekali. Untuk apa kau belajar bahasa sebanyak itu?"

Ji Woon mengangkat bahunya lalu berkata dengan enteng, "Sekedar hobi saja. Sebenarnya aku ingin mengalahkan rekor si poliglot* bernama Powell Janulus. Dia mencatatkan rekor di Guinness World Record karena berhasil menguasai 42 bahasa. Tapi ternyata belajar bahasa asing semakin lama semakin berat, belum lagi kesibukanku dalam bekerja. Jadi yah, aku putuskan untuk menguasai 22 bahasa saja."
_________________________
*Poliglot adalah orang-orang yang menguasai lebih dari 4 bahasa asing.

The Lost Soul Mate ♡Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang