HARI PERTAMA MENJALANKAN MISI

16 5 0
                                        

☁☁☁

Tring!

"Mit, kantin kuy!" ajak Caca dan Sandra.

"Kalian duluan aja, ntar gue nyusul."

"Tumben banget. Emang lo mau ngapain?"

"Udah ah, luan aja." kesal Mita.

"Oke, kita duluan ya."

Akhirnya kedua temannya itu pergi juga. Mita sudah sangat pusing sekarang, dan dia tidak mau mendengar cerocosan temannya itu tanpa henti. Kan gak etis kalau otaknya sampai nyerah untuk tetap berfungsi.

Mita mengacak rambutnya frustasi. Orang yang tersisa di dalam kelas pun melihat Mita dengan aneh. Bagaimana tidak, jarang sekali orang-orang melihat Mita dalam kondisi seperti ini. Namun, tak ada yang berani mengajak Mita berbicara. Karena dalam keadaan biasa saja Mita ngegasnya minta ampun, apalagi dengan dia yang seperti ini. Bisa-bisa disembur abis-abisan.

Senggol dikit, bacok. Asyiap!

"Ekhem!"

Mita mendongak, dan kemudian memutar bola matanya jengah. Rasanya muak sekali melihat orang yang sekarang sedang berdiri di sampingnya.

"Mau apa lagi lo?"

Tia, orang itu adalah Tia. Tia menyodorkan selembar kertas kepada Mita. Dan Mita mengerutkan dahinya, bingung. Mau apalagi perempuan ini ya Tuhan? Kenapa sekarang dia sangat berani mendatangi Mita secara terang-terangan?

Mita tak bersuara, begitupun dengan Tia. Lalu Mita merampas kertas tersebut dengan kasar, dan dia mulai membacanya dengan rasa malas.

"Jadi, maksudnya lo gak percaya sama gue?" ucap Mita setelah dia membacanya secara keseluruhan.

"Percaya gak percaya sih. Tapi lebih baik mengantisipasi, kan?"

"Pd banget kayaknya lo bakal menang dari gue." sindir Mita, namun Tia malah mengangkat kedua bahunya.

Tanpa ragu, Mita menandatanganinya di atas materai. Isi yang tertulis adalah tentang kesepakatan mereka semalam. Bahkan bukan Mita saja, tapi Tia juga ikut menandatanganinya.

"Nah, out lo sekarang."

Setelah Tia mengambil kembali kertasnya, dia berjalan menjauh dengan senyumannya. Menjengkelkan.

"Hari ini hari pertama, tapi gue juga belum mulai apa-apa. Mana bisa kalau kayak gini." gumam Mita. Dia berdiri dari duduknya.

"Semangat Mita!" ucapnya yakin.

☁☁☁

Mita mengedarkan pandangannya ke seisi kantin, tapi orang yang dia cari tidak ada di tempat ini. Dia juga tidak boleh sampai terlihat oleh Caca dan Sandra, bisa-bisa mereka berdua malah memaksa Mita untuk ikut makan bareng.

Mita menghembuskan nafas kasar, lalu dia pergi dari kantin. Sepanjang jalan dia juga terus memperhatikan sekitar, mana tahu orang yang dia cari ada.

Sampai akhirnya Mita berniat mendatangi kelas orang tersebut. Dan Mita berhenti tidak jauh dari kelas orang yang dicarinya, karena dia dapat melihat orang tersebut sedang berkumpul dengan teman-temannya di depan kelas.

BARATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang