What a Beautiful Noise

372 65 11
                                        

"Hoi? Kemana seragammu?" Tanya Hanji

"Ck, seragamku basah" Jawab Levi

"Bagaimana bisa?"

"Seseorang tidak sengaja mencipratkan cat warnanya" Jelas Levi lagi

Kemudian Erwin menghampiri Levi, "Apa Mr. Pixis akan memberimu surat peringatan lagi?"

"Kurasa iya" Celoteh Hanji

"Untung saja kali ini hanya sebuah seragam" Lanjutnya

Pasalnya, satu bulan ke belakang Levi pernah bertengkar besar dengan teman setingkatnya, murid jurusan IPS, hanya karena Levi tidak sengaja menyenggol bahunya.

"Untung saja kau pandai bertarung" Ujar Erwin

"Lain kali kau harus menendang bokongnya lebih keras" Sambung Hanji

"Yang ingin aku tendang saat ini hanyalah si bocah sialan itu"

"Siapa?"

"Eren Yaeger"

~~~

"Hachu!"

"Ereh... Apa kau baik-baik saja?" Tanya Mikasa

"Hum.. Mungkin hanya debu"

"Ereh maafkan aku"

Kemudian lelaki yang disebut-sebut sebagai Eren itu tersenyum dan mengelus pelan pipi Mikasa, "Tidak apa-apa, mungkin aku memang terlalu akrab dengan Historia. Maaf ya"

"Aku terlalu banyak berpikir negatif" Ujar Mikasa lagi

Eren masih terus mengelus pipi wanitanya, "Sudahlah, jadi itu alasanmu menjauhiku selama seminggu ini. Terlebih lagi kau selalu pulang bersamanya"

Mikasa tidak berkata apapun lagi, ia menenggelamkan kepalanya pada bahu Eren. Ia merasa selama ini terlalu over thinking terhadap Eren.

Untung saja semuanya sudah jelas sekarang, tidak ada yang perlu di pikirkan lagi oleh Mikasa, ia juga tidak perlu meminta Levi lagi untuk mengantarnya pulang.

Kemudian Eren memeluk wanita di hadapannya, berharap agar Mikasa tidak lagi menghindarinya seperti yang telah ia lakukan semingguan ini, hingga akhirnya ia hanya terus berbincang berdua bersama Armin.

Tiba-tiba armin datang menghampiri keduanya, "Syukurlah" Ujarnya

Armin tersenyum menatap kedua rekannya, ia tahu kalau Mikasa sedikit perasa dan Eren adalah spesies manusia yang kurang peka terhadap sekitarnya. Sulit bagi Mikasa untuk mengungkapkan perasaannya, sejak kecil mereka bertiga memang selalu bersama.

"Kita harus kembali ke kelas, pelajaran selanjutnya adalah Matematika" Ucap Armin

"Sial! Aku belum menyelesaikan pekerjaanku" Ujar Eren

"Kau boleh melihat bukuku, Ereh"

"Benarkah? Terima kasih, Mikasa"

~~~

"Dimana seragammu kali ini?"

"Sudah ku bilang, seragamku basah"

"Apa menurutmu mengenakan kaos hitam adalah sebagian dari tata tertib sekolah?"

Levi menghela nafas, "Tidak, Pak" Jawabnya malas

"Cepat kenakan seragammu, sebelum aku memanggil Kenny kemari"

"Baik, pak"

Kemudian Levi lekas keluar dari ruang guru, ia tidak memperdulikan ucapan Mr. Pixis karena mau bagaimana lagi? Kemejanya dibawa kabur oleh Petra

Ditengah jalan, Levi mendapati Mikasa sedang berjalan bergandengan dengan bedebah sialan itu, ditambah lagi dengan teman flower boynya, Armin. Tanpa basa basi Levi menarik bahu Eren dari belakang dan menjorokannya pada tembok di sisi kirinya.

Eren terkejut bukan main, sebelum akhirnya Mikasa mencoba menghentikan aksinya, "Levi apa yang kau lakukan!"

"Aku ingin menghajarnya" Jawab Levi

"Senpai! Tolong lepaskan Eren!" Armin menarik tangan Levi dari tembok tersebut

Levi menebasnya, ia malah menarik dasi Eren dan menatapnya tajam, "Aku sudah muak, setidaknya biarkan aku memberikan satu pukulan pada bedebah ini"

"Tidak!" Mikasa mendorong Levi keras hingga tersungkur pada lantai koridor tersebut

Hingga akhirnya terdengar suara nyaring dari ujung koridor, "Hentikan! Kegaduhan macam apa ini!"

Levi menoleh ke belakang, rupanya si gadis hazelnut. Waktunya sangat tidak tepat, Levi sedang ingin sekali menghajar lelaki di hadapannya.

"Petra Senpai" Ucap Armin

"Apa yang kalian bertiga lakukan disini? Cepat pergi ke kelas!" Titah Petra

"Ah baik!" Kemudian ketiganya menghilang dari hadapannya

Levi masih memandangi Petra dengan tatapan ketusnya, gadis ini menghancurkan harinya.

"Ini bajumu, sudah kering" Ucapnya sembari memberikan kemeja Levi yang rupanya sudah benar-benar kering

"Kau benar-benar menjemurnya"

"Tentu saja, apa kau pikir aku akan kabur setelah berhasil mewarnai kemejamu?" Kemudian Petra membungkuk setelahnya "Sekali lagi, maafkan aku"

Levi menatap gadis di hadapannya, kemudian ia mengambil kemejanya. Setelah itu Petra kembali mengatur posisi badannya seperti semula, "Kalau begitu sampai jumpa" Petra melambaikan tangannya sebelum akhirnya pergi dari hadapannya

Levi memandangi kemejanya, kemudian ia mulai mengenakannya lagi, padahal tidak masalah baginya untuk mendapatkan surat peringatan dari Mr. Pixis

"What a beautiful noise, Petra"

Ciaoo~ selamat siang semua~ selamat datang di chapter 3~ see u next chapt!

It's My First Love [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang