New Friendship

337 62 24
                                        

Keesokan harinya, pasca kejadian kemarin dimana Eren ter*kabedon* oleh Levi. Tentunya bukan pemandangan yang indah untuk di saksikan, apalagi Levi terlihat sangat mungil di hadapan Eren yang lebih bongsor darinya. Mikasa harap tidak ada lagi kejadian yang menimpa Eren setelah itu.

"Ereh maaf"

"Tidak apa-apa sayang, tapi jantungku berdegup sangat kencang kemarin. Aku pikir aku benar-benar akan dihajarnya" Jelas Eren

"Ah.. Biar ku beri dia pelajaran!"

"Tidak, aku rasa ia hanya ingin melindungimu"

Mikasa menunduk, ia merasa sangat bersalah pada Eren. Kemudian Eren menarik dagu Mikasa dan mengecup pelan bibirnya.

"Sudah... Yang penting sekarang kita baik-baik saja"

Semburat merah mulai menghiasi pipi Mikasa, adegan barusan cukup membuat jantungnya berdetak kencang. Karena, ini pertama kalinya Eren menciumnya di depan Armin.

"Tidak masalah, anggap saja aku tidak ada, benar sekali aku transparan, anggap saja begitu" Ujar Armin

Kemudian Mikasa tersenyum kecil, "Bagaimana hubunganmu dengan anak IPS itu, Armin?"

"Eh? Dare?"

"Annie, kah?" Sambung Eren

"Oh kami baik-baik saja, ya begitu..." Jelas Armin

"Aku juga ingin mendengar kabar baik darimu" Ucap Mikasa

Kemudian Armin tersenyum dibuatnya, "Thanks Guys"

~~~

"Anak-anak, aku ingin kalian mengerjakan beberapa latihan soal pada buku paket ini, dan juga soal berbentuk TTS tolong di kerjakan! Erwin aku mengandalkanmu!" Ujar Mr. Rize

"Baik, Mr." Jawab Erwin

Seperti biasa, Erwin, Hanji, dan Levi berkumpul membentuk suatu kelompok. Mereka berniat bekerjasama untuk tugas kali ini.

"Mr. Rize selalu pergi begitu saja, apa dia bosan berada disini?" Tanya Moblit yang tiba-tiba saja datang entah dari mana

"Entahlah aku juga tidak mengerti" Jawab Nanaba yang juga muncul bersama Moblit

"Ada apa ini? Kenapa ramai sekali disini?" Tanya Hanji

"Oh hai! Moblit bilang ia ingin dekat-dekat denganmu, Hanji" Jawab Nanaba

Pipi Moblit mulai memerah, "Apa yang kau katakan! Maaf Hanji, kami hanya ingin ikut bekerjasama dengan kalian"

"Baiklah, lebih ramai lebih bagus, bukan?" Ujar Erwin sembari mengganti tinta pulpennya yang mulai habis

Mereka mulai mengerjakan soal-soal tersebut, membagi tugas untuk pengisian tugas TTS agar cepat selesai, namun sepertinya keadaan kelas jadi tidak terkontrol karena tidak adanya guru yang mengawasi. Gemuruh sana-sini cukup mengganggu konsentrasi Levi.

"Ck... Berisik! Hoi! Kerjakan tugas dengan benar! Atau ku hajar kalian semua!"

Seketika kelas menjadi hening, semua aktivitas terhenti. Murid-murid yang berlarian kembali menduduki bangkunya dan mulai mengerjakan tugasnya.

"Rookie! Sekolah kita tidak memerlukan Hansip lagi" Ujar Nanaba

"Seorang Levi berhasil mengamankan 15 murid kelasnya hanya dengan sebuah gertakan" Sambung Moblit

Kemudian Erwin memberikan tepuk tangan yang meriah, "Bravo Levi... Bravo..."

Levi tidak menghiraukannya, ia kembali melanjutkan aktivitasnya. Bertaut dengan buku catatan dan pulpen di jarinya.

Setelah selesai mengerjakan tugasnya, Levi memberikan buku catatannya pada Erwin dan pergi begitu saja dari kelasnya.

Levi berjalan dengan tujuan yang tak jelas, karena yang ia inginkan saat ini hanya udara segar setelah berkutat dengan tugas dan kelas yang pengap. Akhirnya ia memutuskan untuk pergi menuju rooftop sekolah.

Disana ia terduduk menatap langit biru diatasnya, kemudian ia mengecek kembali kemejanya, cat warna nya benar-benar sudah menghilang. Petra pandai mencuci baju rupanya.

Ia menatap lagi langit diatasnya, suasana tenang disana memang selalu meluluhkan hatinya. Namun, aktivitasnya terganggu karena seseorang datang membuka pintu rooftopnya. Terlihat Eren dengan gagahnya tengah menutup kembali pintunya setelah mendapati Levi disana.

"Tidak perlu menghindar" Ucap Levi

Mendengar perkataan Levi, Eren kembali membuka pintunya. "Apa ini diizinkan?"

"Sekolah ini bukan milikku" Jawab Levi

Kemudian Eren datang menghampiri Levi, terduduk di sampingnya dan menatapnya.

"Apa yang kau lihat" Ucap Levi

"Kau" Jawab Eren

Levi menoleh padanya, "Kemarin, aku sangat ingin menghajarmu. Tak ku sangka saat ini kau malah duduk di sampingku"

"Tidak masalah, aku mengerti kau hanya ingin melindunginya, bukan?"

"Hn"

Kemudian Levi menatap taman di bawahnya,  ia melihat seorang gadis hazelnut yang tengah mencabuti rumput-rumput liar bersama dengan teman-temannya. Levi melihat Petra terjatuh ke tanah karena rumputnya yang sulit ia cabut.

Levi tersenyum, "Pfftt.. Aho"

Eren memperhatikan arah tatapan Levi, dimana mata itu tertuju pada Petra di bawah sana, "Petra-san?"

Levi menoleh lagi, kali ini dengan ekspresi yang sedikit kebingungan

"Aku tidak begitu mengenalnya, hanya beberapa kali bertemu karena ia adalah kaka tingkat Armin sewaktu SMP" Jelas Eren

Setelah mendengar penjelasan Eren, Levi kembali melihat Petra, mencari-cari keberadaannya, namun gadis hazelnut itu telah hilang.

"No lies... Apa saja yang pernah kau lakukan padanya?" Tanya Levi

"Mikasa? Pertanyaan macam apa ini"

"Jawab saja" Perintah Levi

"Ini memalukan tapi... Ya mungkin menggandeng tangannya, memeluknya, menciumnya"

Levi menatap Eren tajam

"Eh.. Tenang saja kami belum melakukan 'itu', aku tidak berniat melakukannya sebelum kami menikah" Jelas Eren lagi

Levi menghela nafasnya, "Baiklah, jangan membuatku harus repot-repot menghajarmu"

"Eh? Apa ini artinya aku direstui?"

Yosh yosh~ selamat malam~ jangan lupa gosok gigi sebelum tidur ya~ see u~

It's My First Love [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang