Pagi-pagi sekali, Levi tengah bersiap untuk berangkat ke sekolahnya. Ia memang tipe orang yang tepat waktu dan telaten, sebelum berangkat sekolah ia selalu melakukan work out kecil-kecilan dirumahnya.
Rumahnya terlihat bersih, Levi selalu membersihkannya. Banyak rak-rak buku dengan bukunya yang tersusun rapi, hanya untuk sekedar melepas penat Levi selalu membaca buku tersebut. Dapurnya besar, namun jarang sekali ia gunakan karena ia tidak terlalu pandai memasak.
Di sisi lain rumahnya terasa sangat sepi, karena ia hanya tinggal seorang diri disana. Ibunya sedang bekerja ke luar negeri karena ayahnya yang kabur sejak ia kecil. Tak jarang juga Kenny datang hanya untuk sekedar bermain atau mengecek keadaan Levi, namun tetap saja ia selalu merasa kesepian.
Setelah siap dengan seragamnya, ia mengambil beberapa potong roti dari plastik bertuliskan roti gandum asli. Kemudian ia mengambil kunci motornya dan berangkat menuju sekolahnya.
Jalanan masih sangat sepi saat itu, hanya ada beberapa truk pengangkut sampah di pinggir jalan, seseorang yang tengah menunggu bus di halte, dan wanita berambut coklat, tunggu? Petra?
Levi menghampiri Petra yang sedang berjalan diatas trotoar, Petra yang tersadar dengan kehadiran Levi sontak menyapanya, "Eh, Yo!"
"Apa yang kau lakukan?"
"Tentu saja berangkat sekolah, sama sepertimu"
"Hm..."
"Kau mau memberiku tumpangan?"
"Kaki mu masih bisa berjalan kan?" Setelah itu Levi benar-benar meninggalkannya sendirian di sisi jalan
"HEISH! DASAR KURCACI SIALAN! TEGA SEKALI KAU MENINGGALKAN SEORANG WANITA BERJALAN KAKI!" Petra tampak sedang memaki Levi dari sana, Levi tidak menghiraukannya, ia terus membawa motornya hingga akhirnya ia sampai di basement sekolahnya dan memarkirkan motornya
Setelah melepas helmnya, ia tersenyum kecil, entah mengapa ia senang sekali menjahili Petra, ia tampak seperti orang bodoh saat Levi menjahilinya
"Pfftt... Aho"
~~~
Petra tengah terduduk diatas bangkunya, dikelilingi oleh beberapa temannya yang sedang menyalin catatan miliknya, suasana hatinya sedang tidak bagus sejak tadi pagi.
"Dahimu mengkerut, Petra" Ujar Mike
"Tidak masalah, aku sedang kesal"
"Ada apa? Sejak masuk kelas wajahmu kasar begitu" Tanya Mike sambil terus menyalin buku catatan Petra
Petra tidak menjawab pertanyaan Mike, namun ia mengepalkan tangannya dan menggebrak mejanya dengan keras, tulisan Mike jadi tidak karuan dibuatnya.
"Ehh... Petra tulisanku jadi seperti ular kobra" Komplainnya
"Ratu agung, apa yang terjadi?" Tanya Oluo
"Akan aku balas kau!"
Kemudian Oluo dan Mike saling memandang satu sama lain, mereka sepakat untuk membiarkan Petra bermain dengan dunianya, mereka kembali melanjutkan kegiatan menyalin catatannya.
Tak lama kemudian bel istirahat berbunyi, Petra bergegas keluar dan pergi menuju kantin. Ia berniat mendinginkan kepalanya dengan segelas jus alpukat.
"Petra Senpai!"
"Armin?" Petra menatap wanita yang datang bersama Armin, rambut blondenya serupa seperti Armin, siapa wanita ini?
"Jus? Tumben sekali, Senpai"
"Ah iya, aku hanya ingin mendinginkan kepalaku" Setelah itu Petra menatap wanita di sampingnya dan tersenyum padanya, namun wanita itu hanya terus menatap Petra dan tidak membalas senyumannya
'Ck, sombong sekali' batin Petra
Tak lama kemudian pesanan Petra sudah siap, lalu ia berpamitan dengan Armin dan pergi dari kantin itu secepatnya. Namun ia mendengar namanya tengah di panggil oleh seseorang.
"Petraa!"
Petra menoleh, dan mendapati Nanaba yang tengah terduduk bersama empat orang lainnya, sialnya Levi juga ikut terduduk disana.
"Kemari!"
Mau tak mau Petra akhirnya mengampirinya. Nanaba adalah teman satu kompleknya, mereka sering bermain bersama saat masih menginjak bangku sekolah dasar, namun sempat terpisah saat SMP dan kembali bertemu di SMA ini.
"Ada apa, Nanaba?"
"Take a sit" Titahnya
Petra mencoba mencari kursi yang masih kosong, namun yang ia dapati adalah kursi kosong di sebelah Levi. Ia menatap Levi tajam, ia masih belum melupakan kejadian tadi pagi.
Levi membalas tatapannya dengan sedikit senyum kecutnya, "Apa?"
"Kau..."
Kemudian Petra berusaha meredam amarahnya, dan memutuskan untuk duduk di samping Levi.
"Petra.. Kau murid kelas IPS kan?" Tanya Hanji
"Ah iya, IPS 2" Jawab Petra
"Woh... Kau sekelas dengan Mike?" Tanya Moblit
"Kami satu kelas, juga dengan Oluo"
"Mike? Maksudmu Mike yang itu?!" Nanaba terlihat kegirangan saat mendengar nama Mike disebutkan
"Sttt Nanaba pelankan suaramu" Ujar Erwin
"Ah maaf"
Setelah itu obrolan masih berlangsung, namun Petra hanya memperhatikan semuanya dan tidak terlalu banyak berbicara disana. Sedangkan Levi hanya terus menatap Petra sedari tadi, memperhatikan bagaimana wanita itu tersenyum dan tertawa karena lelucon yang Moblit lontarkan.
Setelah beberapa menit, akhirnya Petra tersadar bahwa Levi tengah menatapnya, "Apa? Ada yang salah dengan wajahku?"
Levi tidak menjawab, ia masih terus menatap Petra sambil memangku dagunya dengan tangannya.
"Kau tahu, aku masih kesal denganmu jadi aku akan menganggapmu angin sampai aku tidak kesal lagi" Jelas Petra
Namun Levi hanya membalasnya dengan senyum penuh ejekannya, karena sudah tidak tahan dengan tingkahnya, Petra mencubit kecil lengan Levi.
"Rasakan itu, rasakan itu!"
"Cubitanmu tidak ada apa-apanya" Ujar Levi
Kemudian Petra sedikit mengumpat kecil karena tidak ingin menjadi pusat perhatian teman-temannya, "Levi sialan"
Morning up~ pagi gais jangan lupa sarapan ya~ minum juga biar ga seret! See yaaa
KAMU SEDANG MEMBACA
It's My First Love [END]
FanfictionLevi Ackerman, jangan tanyakan hal-hal bodoh padanya. Jangan juga membebankan sesuatu padanya, ia manusia yang mudah kerepotan. Ia sering di cap karena sikap absolut dan otoriternya. Hingga akhirnya datanglah seseorang, memecahkan dinding es dianta...
![It's My First Love [END]](https://img.wattpad.com/cover/264019814-64-k993111.jpg)