Chapter Eleven

1.8K 179 3
                                        

            Sejak perjalanan ke masa lalu yang terakhir kali ku lakukan itu, pandanganku mengenai Barney sedikit bergeser. Aku tahu bahwa semua perkataan Mom benar, bahwa sesungguhnya Barney menyayangiku dan takkan tega menghancurkan pesta ulang tahunku meskipun ia mampu melakukannya. Tapi, yang hingga sekarang tak ku mengerti adalah mengapa ia harus bersikap sinis terhadapku. Boyd juga. Sepanjang aku bisa mengingat, tak pernah sekalipun Barney dan Boyd memperlakukan dengan baik selayaknya seorang adik. Itu sebabnya selama ini aku berpikir mereka tak pernah sekalipun menyayangiku.

            Aku tentunya masih ingat saat-saat kami kecil, Mom dan Dad akan membawa kami ke taman bermain yang berakhir dengan aku menaiki wahana bersama Dad seorang karena Barney dan Boyd tidak mau bermain dan bersenang-senang bersamaku. Saat itu aku masih sangat kecil, namun sikap merekalah yang membentukku. Seiring berjalannya waktu, aku menjadi gadis yang ketus, sinis dan bermulut tajam di hadapan mereka. Dan di hadapan Mom dan Dad, aku akan menjadi gadis yang polos dan manis.

            Aku tahu, jauh di dalam hatiku aku juga menyayangi Barney dan Boyd sebagai saudara kandung, tapi itu tidak cukup untuk membuat mereka keluar dari list hitamku.

            Selain semua itu, aku juga berpikir apa yang telah membuatku kembali melakukan perjalanan ke masa lalu tanpa sadar setelah bertahun-tahun hampir melupakannya. Aku mengira itu terjadi akibat ledakan emosiku. Saat kecil, aku melakukan perjalanan masa lalu untuk yang pertama kalinya saat aku begitu marah kepada Barney. Emosiku meledak tak terkendali sehingga aku masih bisa mengingatnya walaupun saat itu aku masih kecil. Lalu, ketika waktu terhenti, aku juga sangat marah karena aku mengira Barney telah menghancurkan pestaku dengan bakat sialannya. Aku mengamuk, bergitu murka dan melampiaskan seluruh amarahku terhadap Barney hingga tanpa sadar aku menghentikan waktu.

            Lalu yang terakhir, aku patah hati. Aku sangat kecewa karena Justin telah memiliki kekasih dan aku meluapkan emosiku dengan merenung, menjerit pada bantal dan membiarkan otakku terus bekerja keras untuk memaki ataupun menyalahkan takdir. Itu juga termasuk ke dalam ledakan emosiku dan akhirnya aku kembali melakukan perjalanan ke masa lalu.

            Aku heran. Ada banyak ledakan emosi yang ku alami setelah aku tertidur berminggu-minggu saat kecil dulu, namun, mengapa baru sekarang semua ini terjadi?

            Dan satu kejutan lagi, sihirku menjadi membaik. Aku mengalami kemajuan besar. Aku telah berkali-kali memindahkan benda-benda kecil dari satu tempat ke tempat lain, walaupun masih lambat, setidaknya aku puas. Justin terus memujiku untuk hal itu padahal aku tahu dia pasti pernah melihat kekuatan sihir yang lebih dahsyat dari punyaku.

             “Apa masih jauh?” aku bertanya dengan napas terengah, aku agak lelah karena bersepada begitu jauh. Aku sama sekali tidak tahu bahwa kediaman Sir Geordie  sangat jauh dari rumahku. Memang tidak akan menjadi masalah jika kami mengendarai kendaraan bermesin, tapi akan menjadi bencana karena saat ini kami hanya bisa mengayuh sepeda. Otok betisku sudah tegang dan pantatku mulai sakit. Aku memang mencintai bersepeda tapi sangat jarang melakukannya hingga berjam-jam.

             “Beberapa kilometer. Apa kau lelah?”

            Sangat lelah. “Itu pertanyaan bodoh.” Ketusku kembali menarik napas panjang dan menghembuskan dengan keras. “Bagaimana kau tahu jalan ke tempat ini?

             “Aku sudah kesini belasan kali, Barry!” Justin terdengar agak jengkel.”Aku sudah memberitahukannya padamu.

             “Lalu, disaat hari-hari pertamamu disini, mengapa kau membutuhkanku untuk berkeliling kota sementara kau mengenal jalan-jalan kota Dover dengan baik.”

Freezy TimeTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang