Chapter Two

2.3K 193 2
                                        

               Walaupun aku tidur dengan perasaan gelisah, pagi ini aku bangun dengan keadaan yang segar bugar. Aku mandi dan berdandan seperti biasa. Dan semuanya semakin sempurna saat aku tidak menemukan sisir yang melepuh, lotion yang menjadi lem ataupun sepatu yang membeku.  Aku juga turun saat Boyd menjerit untuk panggilan pertamanya. Mencium pipi Dad dan duduk dengan manis di sampingnya. Justin kembali duduk di depanku, padahal itu tempat Boyd. Dan Barney turun sesaat setelah Mom duduk di sampingku.

               Seperti biasa, suasana hatiku akan selalu senang jika piringku terisi oleh Waffle coklat yang gurih. Bahkan wajah Justin akan terasa seperti lukisan malaikat –aku tidak akan menganggapnya mahluk hidup-.

                “Biasanya kau akan lebih dahulu berteriak sebelum turun ke ruang makan.” Dad menggodaku sambil tersenyum. Aku hanya bisa melirik Boyd yang mendengus, dan Justin yang seakan tak peduli.

                “Sepertinya hari ini seseorang sedang berusaha menjaga agar kelakuan primitifnya tidak di ketahui bangsa lain.” Aku menyindir dua orang sekaligus, menekan kata primitif dan bangsa lain. Boyd dan Justin sama-sama menatapku, tapi aku pura-pura tidak melihat.

               Dad tertawa kecil, mengacungkan garpunya ke arah Boyd. “Itu bagus, Boyd. Aku harap setiap pagi selalu tentram.”

                “Apalagi jika tidak ada petir, bukankah janggal jika ada petir di pagi yang cerah?” Aku tahu Barney kini memutar matanya. Dad tertawa lagi sedangkan aku tersenyum sok polos seperti anak kecil. Walaupun aku belum punya sihir dan bakat, aku punya sarkasme dan sindiran yang selalu bekerja untuk semua orang. Biasanya setelah ini Boyd dan Barney akan mendiamiku sehari atau dua hari. Itu lebih baik dari pada menjadi korban kejahilan mereka.

                “Bagaimana denganmu, Justin? Apa yang akan kau lakukan hari ini?”

               Aku tidak mau mengalihkan pandang dari waffle lezatku ketika Dad bertanya akan hal itu.

                “Mungkin aku hanya akan berjalan-jalan sekitar sini.” suara Justin tedengar sopan.

                “Maaf, bung. Jika saja aku tidak bekerja, aku akan membawamu keliling kota Dover.” Boyd tidak pernah mengucapkan kalimat sebaik itu padaku.

                “Tidak apa, aku mengerti.”

                “Sayang sekali, padahal kau disini untuk berlibur. Mengapa kau tidak mengajak Barry saja? Ia punya waktu kosong sepulang kuliah.”

               Aku hampir tersedak, langsung menatap Barney yang balas mengernyit menatapku. Pirang sialan! Kau baru saja memasukkan adikmu ke lubang buaya!

                “Ide yang bagus. Barry pasti tidak keberatan.” Kata Dad, membuatku melenguh tertahan.

               Lalu tatapanku tertuju pada Justin, ia hanya tersenyum untukku. Senyum palsu tentunya. “Aku akan merasa sangat terhormat jika Barry bersedia menemaniku,”

               Oh, mati saja kau!

               Aku mencoba untuk tidak memutar mata di depan Dad, itu akan menghilangkan kesan gadis kecil yang manis dan manja di depannya. Jadi aku hanya menjawab, “Sebenarnya aku pulang sore hari ini.” aku berbohong. Dan ternyata Justin lebih pintar untuk mengetahuinya. Ia menyeringai jahat untuk sesaat tapi segera mengubah ekspresinya menjadi lebih lembut dan manis.

                “Bukan masalah. Kita bisa berjalan-jalan sampai malam hari. Dan kita bisa makan malam di luar.”

               Boyd langsung bersiul, membuat kata-kata Justin yang menurutku biasa saja menjadi menimbulkan efek lain terhadap tubuhku. Aku tiba-tiba merasa malu!

Freezy TimeTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang