Saat aku terbangun, hari sudah gelap. Namun, seperti yang ku katakan sebelumnya, hutan ini seperti hutan di negeri dongeng. Langit di atasku begitu kelam tanpa bintang ataupun cahaya bulan, dan satu-satunya penerangan adalah kunang-kunang yang berterbangan di sekitar kami. Aku tidak pernah melihat kunang-kunang secara langsung -dan sebanyak ini- , tapi sekarang, aku tahu bahwa serangga itu sangatlah indah.
Berbaring disini, sambil menatap langit dan kelap kelip cahaya dari kunang-kunang, aku merasa bisa menghabiskan seluruh hidupku untuk menikmatinya. Menikmati keindahan dan kemewahan alam yang tidak pernah ku miliki sejak aku lahir. Diam-diam, aku bertanya, apakah di dunia nyata aku bisa menemukan keindahan seperti ini? Keindahan yang bisa membuat hatiku tentram dan berpikir, betapa egoisnya manusia yang telah merenggut dan melenyapkan salah satu karunia Tuhan yang indah ini.
Kalian akan menghilang.
Kata-kata itu kembali berputar di otakku. Kami akan menghilang, memudar jika aku tidak segera menguasai bakatku.
Menggerakkan kepalaku ke samping, aku menemukan wajah tenang Justin. Dia berbaring menyamping ke arahku, dan aku baru sadar bahwa aku tidak tidur di atas dadanya lagi. Cahaya merah kekuningan yang samar-samar menerpa wajah Justin membuat hatiku menghangat namun juga sakit. Begitu besar kemungkinan dia akan memudar juga, mati sia-sia hanya karena kesialanku.
Andai saja segalanya berjalan normal, dimanakah Justin saat ini? Apa yang dia rencanakan untuk masa depannya? Apakah ia akan tetap bersama Mallory dan menikahi gadis itu?
Dia akan bahagia.
Ya, yang pasti, Justin akan bahagia. Dia akan segera lulus dari pendidikan terakhirnya di sekolah khusus, tentunya Justin telah memikirkan apa yang akan ia lakukan setelah itu. Aku mulai membayangkan bagaimana Justin nantinya bekerja, tumbuh semakin dewasa dan berencana untuk menikah dengan seorang wanita yang dicintainya. Lalu Justin akan mempunyai seorang anak lelaki yang tampan dan pintar juga seorang gadis kecil yang sangat manis. Dia akan menua dan mati dalam keadaan bahagia dan tenang.
Namun semua itu takkan pernah terjadi.
Aku akan mengacaukan masa depannya. Aku akan membuat hidupnya musnah sebentar lagi. Dia tidak akan pernah menikah, tidak akan pernah menjalani masa depan yang telah direncanakannya. Justin akan mati bersamaku dan milyaran manusia dan bukan manusia lainnya di seluruh bumi.
Aku sama sekali tidak takut mati, aku hanya merasa bersalah kepada semua orang. Kepada Dad yang selalu memanjakanku, Mom yang selalu membuat waffle coklat kesukaanku setiap pagi, Boyd si kakak laki-laki brengsekku, Barney yang sinis namun diam-diam menyayangiku, Helen yang cantik dan tulus bersahabat denganku, juga Justin. Justin yang telah berhasil membuatku membencinya di awal pertemuan kami dan membuatku sangat menyukainya beberapa hari kemudian. Aku sangat menyayangi lelaki ini, entah bagaimana lagi aku harus mengatakannya, aku sangat menyayanginya. Aku ingin memilikinya dan terus berada di dalam hidupnya.
"Barry?" Justin menyentuh bahuku sehingga aku menoleh ke belakang untuk melihatnya. Aku bahkan tidak tahu sejak kapan aku duduk dan memandang ke arah kunang-kunang yang berterbangan di bawah rimbunan pohon rindang. Percayalah, apa yang aku lihat detik ini sangat indah.
"Hey," aku menyahut tanpa memandangnya. "Lihatlah, Justin, tempat ini sangat indah. Sialan indah." Bibirku tertarik membentuk senyuman tipis.
Justin beranjak bangkit dan duduk di dekatku, ternyata ia pulih dengan cepat dari tidurnya dan sekarang ikut memandangi sekeliling hutan. Aku tidak bisa melihat bagaimana ekspresi wajahnya, namun aku tahu bahwa dia juga terpesona.
KAMU SEDANG MEMBACA
Freezy Time
FanfictionIni kisah tentang gadis yang tanpa sengaja membuat dunia berubah dalam hitungan detik. Dan di sisa waktunya, Barry berusaha untuk menguasai bakat dan sihir yang ia miliki. Berusaha memperbaiki kesalahannya dan mengembalikan seisi dunia seperti semul...
