Chapter Eighteen

1.8K 174 7
                                        

             Aku menatap kotak pizza yang terletak di atas meja yang jaraknya hanya tiga meter dariku. Dan sedetik kemudian kotak itu melesat, jatuh di pangkuanku dan membuat senyumku melebar. Aku tidak berbohong. Ketika aku bilang kotak itu melesat, maka ia benar-benar melesat dalam sekejap mata. Tanpa menumpahkan setengah lingkar pizza yang tersisa ke lantai.

             Ada dengusan kasar yang terdengar saat aku mengambil satu potong pizza daging dan menggigitnya. Justin sedang menatapku, terlihat jengkel atas kesombongan yang ku perlihatkan, namun juga tampak bangga karena kemampuan sihirku benar-benar berkembang pesat.

              "Aku belum kenyang, Barry!" Cetusnya sambil menyeruput sekaleng coke. Justin duduk di set sofa yang biasa anggota keluargaku pakai untuk berkumpul di malam hari, sementara aku duduk dengan kaki terangkat di atas sofa empuk kesayangan Dad.

              "Kau sudah menghabiskan setengahnya!" kataku acuh sambil menguyah pizzaku.

              "Porsi makan laki-laki lebih besar dari perempuan. Kau harusnya mengerti."

              "Tidak." Aku menggeleng, berpura-pura polos. "Aku tidak mengerti. Yang aku tahu, kita harus membagi makanan sama banyak."

              "Oh ayolah, kita sudah kehabisan makanan!"

             Yah, seluruh makanan yang kami ambil dari beberapa restoran puluhan jam yang lalu sudah habis. Hanya tertinggal sekotak pizza, tiga kaleng coke, dan berbotol-botol air mineral di dapur. Kami juga menghabiskan banyak waktu bersama, dan aku tidak lagi terlalu memikirkan bakatku. Jika kami benar-benar akan memudar setelah ini, aku ingin sisa waktuku tidak sia-sia begitu saja. Aku ingin merasakan kebahagiaan dan kebebasan sebelum aku mati.

              "Ini jatah makananku, Justin!"

              "Serius, kau ingin kita berdebat soal makanan? Kau benar-benar serakah."

             Aku tidak bisa menahan tawa dan Justin hanya memutar mata. Ia beranjak bangkit lantas berjalan ke arahku. Dia sudah mengenalku cukup baik, itu sebabnya dia duduk di lengan sofa tanpa permisi dan mengambil satu potong pizza lagi. Aku membiarkannya karena aku tidak benar-benar ingin menghabiskan seluruh pizza ini. Oke, aku bisa saja memakan seluruhnya, tapi untuk Justin, aku akan memberikan apapun.

              "Kemana tujuan kita setelah ini?" Justin turun dari sandaran sofa, menarik sebuah kursi kayu berbentuk bulat lantas duduk di depanku. Perhatiannya tertuju padaku, dan walaupun aku sudah mengalami ini puluhan kali sejak waktu terhenti, aku masih bisa merasakan getaran aneh di hatiku saat mata Justin yang jenih menatap ke dalam mataku. Aku bersungguh-sungguh.

              "Entahlah." Aku mengangkat bahu, berusaha bersikap normal. "Aku lelah berkeliaran di luar, mungkin aku ingin di rumah saja untuk beberapa waktu."

             Aku dan Justin sudah bersepeda dan berteleportasi ke berbagai tempat yang sama-sama kami kenali. Bukan tempat-tempat yang jauh seperti Kanada, hanya tempat-tempat bagus di kotaku yang pernah Justin kunjungi bersama Sir Geordie. Justin lebih suka bersepeda, ia bilang itu membuatnya lebih menikmati waktu.

              "Kita harus mencari makanan, kita sudah kehabisan stok." Justin mengingatkan, dan aku tidak bisa menahan diriku untuk tidak melenguh kesal.

              "Aku benar-benar ingin bersantai." Keluhku.

              "Kita bersantai setiap saat."

              "Tidak, bukan seperti itu. Aku benar-benar ingin duduk di rumah, dan tidak melakukan apapun selain makan, atau membaca, atau mengobrol denganmu. Apa saja asalkan aku tidak menggerakkan kakiku untuk berjalan keluar."

Freezy TimeTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang