Aku tidak sadar bahwa aku tertidur. Ketika mataku mengerjap menatapi ruangan, aku mendapati bahwa hari sudah malam. Ada suara ketukan di pintuku, serta Mom yang menyebutkan namaku berkali-kali. Sejak kapan ia disana?
Dengan malas, aku turun dari ranjang. Memutar kunci pintu dan membukanya, Mom tampak terkejut melihatku. Dan aku tahu penampilanku saat ini pasti sangat kacau.
“Ada apa, Mom?” tanyaku malas, membuat Mom tersadar.
“Makan malam sudah siap. Kau harus makan, sayang.” Tangan hangat Mom mengusap sebelah pipiku dan menatapku dengan sayang.
“Aku ingin mandi dan setelahnya akan turun.”
Kulihat Mom hanya mengangguk pasrah dan melepaskan tangannya. Aku segera mundur dan menutup pintu. Kata-kata Justin kembali berputar di ingatanku. Serta bagaimana aku pulang dengan marah dan berkata kasar kepada Mom. Aku menyesal, harusnya aku tidak membiarkan siapapun mempengaruhiku. Apalagi kata-kata Justin. Dia cuma orang asing yang menumpang tinggal karena tidak punya uang lebih untuk menyewa kamar hotel. Pemikiran ini membuat batinku senang.
Aku mandi dengan cepat, mengeringkan rambut lalu segera turun ke ruang makan. Aneh. Tidak ada suara berisik dari sana. Suasananya terlalu hening. Dan benar saja, ketika aku masuk, hanya ada Justin, yang duduk di tempat Boyd dan Mom yang duduk di kursi biasa. Tidak ada Dad, Boyd ataupun Barney.
“Hai, Barry.” Justin menyapaku ramah, yang ku balas dengan tatapan tajam. Apa dia tidak ingat siapa yang menyebabkan kemarahanku? Dia tidak ingat dengan kata-kata kejamnya tadi sore. Dasar tidak tahu malu.
“Justin bilang kau bertemu temanmu dari sekolah khusus di taman, apa itu benar?” Mom bertanya pelan. Keningku berlipat-lipat, jadi itu yang Justin katakan untuk menutupi kesalahannya di depan Mom? Dia bukan hanya tidak punya malu kalau begitu, ia juga pengecut. Tidak berani menjelaskan kepada Mom tentang ucapannya yang membuatku marah.
Aku menghela napas, lalu duduk dan menyantap daging di depanku dalam diam. Tadi, saat di kampus, aku melihat seorang gadis yang selalu diam dengan tampang datar dan dinginnya, mungkin aku bisa mencontoh ekspresi itu sekarang. Lagipula suasana hatiku sangat buruk, mulai dari susu yang membeku, hujan dan petir di pagi hari, serta ucapan sialan Justin Dalrymple. Jadi akan sangat wajar jika aku terlihat begitu marah.
“Oh ya, kau ingat ulang tahunmu empat hari lagi?”
Mom mencoba menarik perhatianku dengan pertanyaannya, dan kurasa ia berhasil.
“Aku baru ingat tadi siang. Mom tidak melupakan pestanya kan?”
“Tentu tidak, sayang.”
Aku hampir melonjak senang jika saja aku tidak mengingat ada keberadaan makhluk lain di ruangan ini.
“Pesta seperti apa yang kau mau?”
Pesta yang ku mau? Mm... baiklah, mari kita pikirkan. Aku ingin pesta yang meriah, diadakan di gedung mewah dan mengundang para artis Hollywood. Aku akan tampil memukau dengan gaun indahku, berkenalan dengan aktor dan penyanyi muda lalu di wawancarai oleh banyak paparazi. Tapi mengingat semua itu adalah hal yang mustahil, jadi aku hanya bilang,”Aku mau pesta kebun.”
Mataku masih fokus pada makanan, jadi tidak tahu bagaimana ekspresi Mom ketika dia mendengar ucapanku. Tapi sepertinya wanita itu senang.
KAMU SEDANG MEMBACA
Freezy Time
FanfictionIni kisah tentang gadis yang tanpa sengaja membuat dunia berubah dalam hitungan detik. Dan di sisa waktunya, Barry berusaha untuk menguasai bakat dan sihir yang ia miliki. Berusaha memperbaiki kesalahannya dan mengembalikan seisi dunia seperti semul...
