[] e p i l o g []
Tidak ada yang berbeda setelah perpisahan singkat waktu itu. Mungkin, bedanya hanya Jendral yang semakin manja pada Karina setiap ada kesempatan. Satu hal yang berbeda lagi, Karina juga jadi sama manjanya. Sampai-sampai teman-temannya harus beristighfar melihat keduanya asik ber-uwu ria.
Tak jarang ada yang langsung menyingkir karena katanya uwuphobia.
"Jeno, lepas. Katanya laper," tegur Karina.
Sedikit kesal sebenarnya karena di Sabtu pagi ini sudah berada di rumah kekasihnya. Sebab Jendral terus meneleponnya lalu merengek meminta untuk dimasakkan sesuatu. Ya, sejak kesalahpahaman antara ayah dengannya terungkap, Jendral sudah kembali lagi tinggal di rumah megahnya.
Namun, Jendral menggeleng. Malah makin mendusalkan kepalanya pada ceruk leher Karina dan mengeratkan kaitan kedua lengannya.
"Aku emang laper, tapi lebih dominan kangen ke kamu," ujar Jendral manja.
"Aku susah masaknya Jeno ih!"
"Ini buat simulasi, nanti kalo kita nikah aku bakal sering ndusel ke kamu," kata Jendral.
Karina reflek menepuk punggung tangan Jendral di perutnya. "Nikah-nikah! Aku masih kelas sepuluh tau!"
"Nggak papa, nikah muda," sahutnya enteng.
"Ogah!"
Jendral terkekeh saja. Dia tahu pasti jika gadisnya tengah salah tingkah. Maka keduanya akhirnya sama-sama diam. Membiarkan hening menemani mereka.
"Pantesan Bunda panggilin dari tadi nggak ada yang nyahut, ternyata lagi pacaran."
Teguran seseorang itu sontak membuat keduanya menoleh kaget. Dengan reflek Karina melepaskan kedua tangan Jendral yang masih melingkar di perutnya. Kemudian meringis canggung. Malu sekali.
Lain dengan Jendral yang tidak khawatir atau malu sama sekali. Ia malah beranjak menghampiri wanita berjilbab itu lantas menyalaminya.
"Bunda kok nggak bilang mau ke sini?" tanya Jendral.
"Bunda udah telefon kamu berkali-kali ya! Kamu aja yang asyik pacaran!" cecar Bunda.
Jendral cengengesan. Memang sejak tadi ia tidak memegang ponsel setelah meminta kekasihnya ke sini.
"Ya maaf Bun," kata Jendral, "Sini Na, kenalan sama Bunda aku."
Karina dengan sigap mencuci tangan lalu melepas apron yang menempel pada tubuhnya. Beringsut mendekati Jendral dan bunda yang tengah tersenyum manis padanya.
"Ini Karina, Bun. Pacar Jendral." Jendral memperkenalkan sedangkan Karina menyalami tangan bunda.
Bunda tersenyum, mengelus surai lembut milik kekasih putranya.
"Namanya cantik, kayak orangnya. Pantesan Jendral bucin setengah mati," ujar Bunda.
"Tante bisa aja."
"Jangan panggil Tante dong, Yang. Panggil Bunda aja, bentar lagi juga kamu jadi mantu Bunda," timpal Jendral.
"Dih, ngegas banget kamu, emangnya Karina mau?"
KAMU SEDANG MEMBACA
RENDEZVOUS [✓]
Jugendliteratur❝ Semesta, boleh aku meminta dia sebagai takdirku saja? ❞ 🐧 s t a r t : O3 April 2O21 🐧 f i n i s h : 17 Mei 2O21 ᴄᴏᴘʏʀɪɢʜᴛ ʙʏ ollavena♛
![RENDEZVOUS [✓]](https://img.wattpad.com/cover/264124914-64-k773520.jpg)