[] O9. Day—3; percaya aku ya? []
"Jen, berhenti di minimarket dekat sekolah ya."
Jendral menoleh pada gadis di sebelahnya. Hari ini ia sengaja membawa mobil, karena tidak ingin kekasihnya terekspos. Alasan kedua karena udara lumayan dingin dan ia benar-benar tidak mau gadisnya kedinginan.
"Kenapa sih?"
"Nanti pasti pada julid, gue nggak mau ah jadi sorotan. Bikin kesel," kata Karina.
"Kok pake gue lagi?" keluh Jendral, bahkan sudah tak malu-malu untuk berlaku manja dan ngambek seperti saat ini.
Karina tersadar, baru ingat jika kemarin keduanya sudah berjanji untuk menggunakan aksen aku-kamu. Sebenarnya hanya Jendral, Karina tentu saja ogah-ogahan. Namun, Jendral terus merengek seperti anak kecil, membuatnya terpaksa mengatakan iya.
"Maaf. Pokoknya turunin aku di depan minimarket aja."
"Enggak. Aku nggak mau ya kalo pacarku jalan kaki dari minimarket ke sekolah, mana jauh lagi," balas Jendral tidak setuju.
"Nggak jauh Jeno, cuma berjarak satu rumah doang."
Jendral menoleh. "Enggak Sayang, lagian udah nyampe nih."
Senyum Jendral melebar melihat bagaimana kekasihnya mencebik. Perlu diakui, tiap-tiap ekspresi gadisnya itu begitu menggemaskan. Jendral menyukainya.
Ia kemudian keluar, mengambil langkah untuk membuka pintu bagian samping. Mempersilakan gadisnya keluar.
"Manyun mulu, mau dicium?" goda Jendral sembari mengacak surai milik Karina.
"Jeno!" Karina mendelik tajam, sontak membuat Jendral tertawa keras.
Tangan kekarnya terulur untuk mendekap bahu kekasihnya, mendekatkan tubuh keduanya. Sementara tangan kanan ia gunakan untuk merapihkan rambut Karina yang sedikit berantakan.
"Na, sehari aja jangan buat aku gemes bisa nggak sih?" tanya Jeno, "Eh tapi nggak papa deh, yang penting gemes ke aku aja ya, jangan ke cowok lain."
Karina berdecak kesal. Bukan karena ucapan Jendral, namun karena pekikan para anak hawa yang melihat dan mendengar interaksi keduanya.
"Lebay banget fans kamu. Sampe aku budeg, tanggung jawab ya Jen."
Jendral mengangguk dengan senyum bukan sabitnya. "Iya Sayangnya Jeno. Maaf ya."
Jendral Orlando, bisakah berhenti sejenak dan membiarkan Karina bernapas sebentar saja?
.
.
.
Kantin pada istirahat pertama selalu jauh dari kata sepi. Namun, hari ini rasa-rasanya kantin terlalu ramai dibanding biasanya, menurut Karina. Ini menyebalkan, terlebih keramaian itu dominan tengah membicarakannya.
"Bacot banget buset," cecar Dinda sambil menempati salah satu bangku yang sudah mereka pilih.
"Kayak nggak ada kerjaan banget sampe ngomongin orang."
"Lah lo aja tukang gosip My, sama aja kali."
"Ya 'kan ini yang digosipin temen gue, Vel. Ga terima lah gue," ujar Amy.
"Tapi beneran lo jadian sama kak Jendral, Na?" Ife yang sejak tadi diam akhirnya bertanya untuk memastikan. Sejak tadi ia tidak mempunyai kesempatan bertanya karena sibuk mengerjakan tugas.
Karina mengedikkan bahu.
"Jangan buat gue penasaran ye—"
"Loh udah di sini? Pantesan aku samperin ke kelas nggak ada."
KAMU SEDANG MEMBACA
RENDEZVOUS [✓]
Fiksi Remaja❝ Semesta, boleh aku meminta dia sebagai takdirku saja? ❞ 🐧 s t a r t : O3 April 2O21 🐧 f i n i s h : 17 Mei 2O21 ᴄᴏᴘʏʀɪɢʜᴛ ʙʏ ollavena♛
![RENDEZVOUS [✓]](https://img.wattpad.com/cover/264124914-64-k773520.jpg)