temu delapan belas

2.1K 263 25
                                        

[] 18. Oke []







Hal yang paling menyebalkan bagi semua orang termasuk Karina?

Menunggu.

Padahal Jendral bukan tipe orang yang akan membuatnya menunggu lama. Ia akan selalu datang tepat waktu atau bahkan menjemputnya lebih awal dibanding dengan waktu yang sudah dijanjikan. Namun, untuk pertama kalinya, Karina diharuskan menunggu lebih dari setengah jam di teras rumah.

Karina menghela napas, lalu membuka ponsel. Siapa tahu ada pesan dari kekasihnya.

Syg (.◜ ◡◝)


Maaf Sayang,
aku nggak bisa jemput kamu:((((
Aku ada urusan mendadak
Kamu berangkat sendiri ya?

Ya


Bahu Karina melemas. Ia menghembuskan napas dengan kesal. Seharusnya Jendral memberitahukan dari awal. Maka dia tidak akan menunggu selama ini. Padahal ia sudah ingin bertemu Jendral.

Kemudian ia bergegas memanggil supir pribadinya. Tidak ada pilihan lain.

"Silakan masuk Non."

Gadis itu mengangguk lantas masuk ke dalam mobil.

"Tumben nggak sama mas Soedirman, Non?" tanya Pak supir.

"Jendral, Pak. Bukan Soedirman," balas Karina.

Lelaki berumur itu hanya terkekeh lalu minta maaf karena salah menyebut nama.

"Ada urusan penting katanya," jawab Karina kemudian. Tatapan sendunya beralih melihat keluar jendela.

Sembari mengangguk-angguk, pak supir lalu menjawab. "Semoga beneran ada urusan penting ya, Non." Pak supir berujar bermaksud bercanda.

Namun, anehnya setelah mendengarnya perasaan Karina mulai tidak enak. Jendral benar-benar sedang ada urusan penting 'kan?

Ia menunduk menatap ponsel dengan sendu. "Iya, semoga pak."

Harap-harap perasaan tidak menyenangkan yang tengah ia rasakan, tidak berarti apa-apa.


.
.
.





Karina sosok wanita yang jarang sekali menangis. Saat kecil pun meski jatuh berkali-kali dia tidak akan pernah menangis. Setelah bisa bicara mungkin ia hanya menangis tiga kali. Saat ia dikirim ke Sumatera, lalu hari pertama ia berada di sana, dan yang terakhir saat kakek neneknya menghembuskan napas terakhirnya.

Namun, kini kedua mata bulat milik Karina rasanya memanas. Saat tanpa sengaja netranya menemukan sepasang punggung laki-laki dan perempuan yang sialnya postur laki-laki itu benar-benar mirip dengan Jendral. Dan posisinya, si gadis tengah bergelayut manja di lengan cowok itu.

"Nggak mungkin," gumamnya.

Ia memilih mengalihkan pandang. Mengerjapkan mata berkali-kali agar kristal bening tidak jatuh dari matanya. Tapi jika itu bukan Jendral, lalu siapa? Karina hafal tubuh yang selalu direngkuhnya itu.

Lantas, jika benar, urusan penting yang dikatakan oleh Jendral adalah bersama wanita lain?

Karina menepuk-nepuk dadanya yang terasa sesak tak terobat. Jantungnya terasa ditikam ribuan jarum dalam waktu bersamaan. Kepalanya ikut pusing. Setelah ini, Karina akan dibuang?

Ia menggelengkan kepalanya berkali-kali. Menghalau berbagai macam pikiran negatif yang hinggap dalam benaknya.

"Jeno nggak mungkin berkhianat," monolognya, "Iya, 'kan?"

RENDEZVOUS [✓]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang