Suasana malam itu kacau. Bagaimanapun, sebuah serangan mendadak memang selalu membuat kekacauan.
"Rasakan ini!" Terasaka berteriak puas saat ia berhasil memukul pingsan seorang mafia bersenjata. Ia memegang mic di dekat dagunya.
"Area ini sudah bersih!" Lapornya.
"Oke. Lanjutkan ke titik selanjutnya. Tetap waspada, Terasaka-kun." Terdengar suara Karasuma.
"Heh." Terasaka segera berlari menyusul tim selanjutnya.
•
•
DUAK
BRUK
"Ya-yada-san.. apa yang ada di minuman itu?" Tanya Hara. Yada tersenyum manis.
"Tenang saja, ini hanya akan membuatnya tidak sadar selama beberapa jam." Ucapnya sembari membenarkan rambutnya yang berantakan. Okano hanya tertawa gugup. Ia hanya tidak menyangka Yada bisa berakting seperti itu. Maksudnya, ia jadi terlihat seperti Bitch sensei!
"Hm? dimana Kayano-chan?" Tanya Yada.
"Ah, Kayano sudah bergabung dengan Kanzaki dan Kataoka." Jawab Kurahashi.
"Eeh... bukannya mereka bisa jadi sangat mengerikan?" Yada merasa kasihan. Entah mengapa membayangkan ketiga wanita itu membantai musuh-musuhnya terasa sangat menakutkan.
•
•
"Tu-tunggu du-"
BUAGH
Kayano dengan tongkat panjang ditangannya berhasil melumpuhkan satu lagi.
"Seperti yang diduga dari seorang Kayano." Ucap Kataoka sembari memainkan pisau di tangannya. Kayano tersenyum lebar.
"Aku hanya mengulang apa yang kupelajari di film sebelumnya. hehehe.."
"Tapi tetap saja itu hebat, Kayano-chan." Seru Okuda.
"Tidak.. tidak.. itu tidak seberapa. Kalau berbicara hal yang hebat..." Kayano menggantung ucapannya dan melihat kearah Kanzaki dan tumpukan manusia di belakangnya. Kataoka tertawa datar.
"Aku masih belum terbiasa dengan mode Kanzaki yang seperti ini." Ucapnya sembari memijat batang hidungnya. Kanzaki hanya mengerjap tak mengerti.
•
•
"Uwaaaa mengapa mereka bisa tau lokasi kita?" Sekelompok laki-laki ber jas hitam sibuk berlari sembari menembak kearah 'musuhnya' yang bergerak lincah menghindar.
"Heh... apa mereka benar-benar pro?"
"Maehara.. Karasuma akan mengomel jika tau kau meremehkan mereka." Tegur Kimura. Maehara terkekeh. Tangannya memegang pisau yang berkilat tajam.
"Lumpuhkan? atau bunuh?" Tanyanya. Mimura bergidik ngeri. Maehara pasti kesurupan sampai bertanya seperti itu. Tiba-tiba mereka melihat siluet hitam dan kelompok musuh didepan mereka ambruk bersamaan. Maehara dan lainnya berhenti berlari. Didepan mereka, Isogai mengeluarkan sapu tangannya dan membersihkan bercak darah di pisaunya.
"Y-Yuuma.." Maehara memanggil. Isogai menoleh dan tersenyum.
"Kerja bagus semuanya! kita lanjutkan ke tempat lainnya!" Ajaknya sembari berlari.
"Hhhh.. Aku lupa dia adalah pembunuh." Sugaya menggeleng. Maehara yang tercengang kini menyeringai tampan.
"Yah.. Bagaimanapun kita semua adalah alumni kelas membunuh kan?" Ucapnya sembari bergegas menyusul. Yang lain hanya terdiam sejenak lalu mengangguk setuju sembari menyusul.
•
•
PSTTTT
Ruangan itu kini dipenuhi gas kemerahan. Orang-orang didalamnya mulai terjatuh satu persatu.
"Berapa lama gas itu hilang?" Nakamura bertanya.
"Tunggu 3 menit dan kalian bisa masuk." Takebayashi memberi komando. Ia sendiri tengah tersenyum puas di ruang kontrol yang sudah mereka lumpuhkan.
"Okeee.." Nakamura mengikat rambut pirangnya.
"Tunggu. dimana Itona?" Fuwa menoleh ke kanan dan kiri.
"Oh, mereka bilang mereka ingin menyerang jalur udara." Ucap Nakamura.
"Kenapa aku punya firasat dia dan Okajima hanya ingin melihat aksi tim Yada?" Celetuk Hara. Fuwa menghela nafas. pada akhirnya hanya ia dan Nakamura yang harus membereskan makhluk- makhluk didalam.
•
•
BRUK
BRUK
BRUK
Satu persatu orang yang berlari di koridor itu terjatuh.
"Sial! Sniper!" Orang di barisan paling depan merogoh saku jasnya. Dapat! Ia baru akan menekan tombol di tangannya saat sebuah tembakan tepat mengenai pelipisnya.
"Ryunosuke!?" Hayami menoleh. wajahnya terkejut dan khawatir. Ya, Chiba Ryunosuke baru saja menembak bos kelompok itu tepat di pelipisnya. Chiba diam tak bergeming. Hayami menatap rekannya khawatir. Chiba menjauh dari senapannya dan berdiri. Hayami masih terdiam saat tiba-tiba ia melihat tubuh lelaki itu limbung. Hayami dengan cepat menopang chiba.
"Badannya gemetar.." Pikir Hayami. Ia menatap surai hitam itu sedih. Kemudian ia memeluknya.
"Kau... melakukan hal yang benar, Ryunosuke.. Kalau kau tak melakukannya, kita akan kehilangan teman-teman..." Ucap Hayami. Tubuh Chiba yang gemetar kini mulai tenang. Ia memang pemegang kunci di misi penting ini. Remote yang dipegang oleh lelaki yang baru ia bunuh adalah pemicu ledakan. Jika saja Ritsu terlambat mengatakan ada bom di tempat itu, pasti mereka akan terbunuh. Karena itu saat Chiba melihat gelagat aneh orang itu dan melihat remote di tangannya, Chiba tak bisa berfikir lagi selain membunuhnya. Chiba memejamkan matanya. Menikmati kehangatan dari Hayami. Ia lantas menjauhkan diri dan menatap wanita didepannya.
"Terimakasih, Rinka." Ucapnya.
DEG.
Hayami mengerjap. apa itu barusan?
"A.. a.. tak masalah." Jawabnya tergugup. Chiba tersenyum dan menepuk puncak kepala Hayami.
"Ayo kembali." Ajak Chiba. Hayami mengangguk.
•
•
"Karma-kun, sebaiknya kita berhenti sebentar!" Pinta Nagisa. Bukan tanpa alasan, Karma sudah membawanya sejak tadi. dengan tangan terluka. Nagisa bisa melihat darah yang masih mengalir. Bukankah itu berbahaya?
"Hee?? Tapi aku masih bisa melarikan diri seperti ini, Nagisa~. Bahkan aku yakin aku bisa membawamu sampai ke penginapan kita di pulau." Jawab Karma. Nagisa memutar bola matanya.
"Yah.. kau tak akan bisa." Gerutu Nagisa. Karma tersenyum. Ia lalu berbelok dan menurunkan Nagisa.
"Baiklah kau diam sebentar." Nagisa merobek lengan kemeja Karma dan membersihkan darah yang mengalir disana. Ia lantas memberikan pertolongan pertama. Karma memperhatikan Nagisa yang tengah serius. Kemudian matanya menangkap sebuah perban di pinggang Nagisa yang terbuka. Perban itu menggantung terbuka. Mungkin Karena mereka berlari tadi. Karma melebarkan matanya saat menyadari apa yang terukir disana. Ia membeku.
"Hhh.. oke! sekarang bantu aku mendapatkan pakaian yang pantas untukku." Ucap Nagisa. Karma tersentak. Ia berdiri dengan segera. Nagisa menatap Karma heran.
"Kau.. tunggu disini. aku akan segera kembali." Ucap Karma.
"Oke." Jawab Nagisa masih heran. Karma segera berjalan meninggalkan Nagisa. Ia melihat gaambar di pinggang Nagisa. Ia melihatnya di ruangan Takaoka tadi. Dan Karma yakin itu bukan tato. Itu.. sebuah luka. Apa artinya itu? Kemarahan Karma memuncak. Ia harus tau. Ia harus tau kebenarannya! Karma tak ingin perkiraannya benar. Tapi kepada siapa ia harus bertanya? Karma takut.. jika ia bertanya pada Nagisa, ia akan menyakiti Nagisa.
TBC
MOHON MAAF LAMA SEKALI UPDATENYAA 😣
Author kemarin teralihkan oleh game genshin imp*ct 😅 malah lupa ada hutang disini 😁 selamat menikmati ☺️
KAMU SEDANG MEMBACA
Moonlight
FanfictionShiota Nagisa adalah gadis yang baik. Ia tersenyum dengan cara yang berbeda. Tulus dan menenangkan. Setidaknya, sampai malam itu tiba dan Shiota Nagisa tak lagi sama.. Versi Indonesia dari Underworld Moonlight
