si bos meresahkan

135 8 22
                                    

Rambut sepundak itu meliuk-liuk mengikuti gerak tubuh pemiliknya yang setengah berlari memasuki salah satu bangunan perkantoran di Ibukota.

Pukul delapan lebih pagi ini, dia terlambat ...
Shagia terlambat lagi, sepertinya sengaja ingin dihukum. Dihukum seumur hidup oleh bosnya, hehe.

Sampai di depan pintu, dia merapihkan penampilan dengan pengaturan napas hingga berkali-kali untuk sekedar menetralisir rasa takut yang seketika hinggap saat melihat pintu bercat putih di hadapannya. Beberapa kali gadis itu ragu untuk mengetuk, karena terdengar suara beberapa orang di dalam.

Tok! Tok! Tok!

"Masuk!"

Suara berat yang sangat dia kenal terdengar, spontan Shagia menggigit bibir meringis ngeri. Jika semalam Rafaan begitu manis, belum tentu sama dengan pagi ini. Baru satu malam Rafaan Dirgantara mendeklarasikan diri sebagai kekasihnya, pagi ini dia sudah berulah.

Kejadian semalam memang berpengaruh pada keterlambatanya hari ini. Bagaimana tidak, semalaman Shagia tak bisa tidur memikirkan apa yang baru saja terjadi, semuanya melenceng dari kesepakatan mereka di awal untuk sekedar berpura-pura sebagai sepasang kekasih, tapi semalam mereka benar-benar resmi menjadi sepasang kekasih.

Pintu terdorong dari luar, tiga orang yang ada dalam ruangan spontan teralihkan. Sebelumnya mereka sudah bisa mengira siapa yang datang, siapa lagi kalau bukan Personal asistant sang general manager.

"Selamat pagi, sa-saya ter-lambat,"

Bu Anne menghela nafas, sebagai sekretaris senior di kantor, dia yang menggantikan tugas Shagia sudah hampir tigapuluh menit ini. Bu Anne melirik arloji berwarna rosegold di pergelangan tangannya.

"Bukan satu, dua, atau sepuluh menit Shagia, sudah lebih tigapuluh menit, kenapa tidak ijin saja sekalian!" cehcar Bu Anne.

"Maaf, Bu!" Shagia menunduk menatap lantai dengan rasa bersalah.

"Jangan dimarahi, Bu." Rafaan menyahut.

Sontak bu Anne dan Miko serentak beralih pandang ke arah sang general manager itu. Sadar guru bisnis dan sahabat karibnya menyadari sikap tak propesionalnya, Rafaan segera mengambil sikap sigap.

"Maksud saya, jangan dimarahi, hu-hukum saja!"

Bu Anne tersenyum, dia bersila tangan menatap Rafaan dan Shagia bergantian. "Ibu bangga sama kamu, walau Shagia kekasih kamu, dia tetap bawahan di kantor ini, dan kamu harus propesional."

"Untuk dua jam kedepan kamu tugas di pantri, kerjakan apa saja disana sebagai hukuman keterlambatan!" ucap Rafaan menggema di ruangan.

"Ya, Pak!" Shagia bergegas pergi melaksanakan perintah.

Sesampainya di pantry, dia meletakan tas yang sedari tadi dia sandang ke atas meja besar yang ada di pantry. Ruangan sepi, mungkin para pekerja pantry tengah berada di tugasnya masing-masing.

Klung!

Notipikasi masuk ke handphone yang ada di dalam tas, segera Shagia meraih benda pipih itu.

[Sayang...]

Seulas senyum terukir, hubungan yang terjalin ini tengah merekah-merekahnya, semuanya terasa begitu indah. Apalagi setelah drama semalam, semakin meneguhkan perasaan cinta mereka.

Seorang gadis berseragam officegirl memasuki ruangan, tangannya menyangga sebuah nampan berisi beberapa cangkir bekas pakai. Saat pandangan mereka berpapasan mereka saling diam. Tari, gadis yang biasanya ramah itu sama sekali tak menyapa Shagia. Aroma persaingan semalam masih terbawa sampai ke kantor rupanya.

Hei ShagiaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang