Perasaan Yang Sama

66 8 4
                                    

"Ikut saya, saya ada perlu sama kamu!" ucapnya mengarah pada Shagia.

"Ada perlu apa ya, Pak?" tanya Shagia. Gadis itu masih syok dengan kemunculan Rafaan yang tiba-tiba.

"Saya perlu stopmap yang pernah saya titipkan sama kamu."

"Saya bisa bawakan besok, Pak."

"Oh, ya sudah. Besok bawa!" ucap Rafaan seraya berbalik badan dan berlalu pergi meninggalkan taman.

Shagia dan Nenti masih menatap punggung itu sampai benar-benar menjauh.

"Udah? gitu aja? aneh banget nggak, sih!" Shagia menyikut gadis yang berdiri persis di sebelahnya, "kan bisa kirim pesan aja, ngapain coba cariin aku sampe sini?"

Nenti terkikik, "kamu tau nggak artinya, saat seorang pria melakukan hal yang nggak penting kayak Pak Rafaan gitu?"

"Pa-an?"

"Seriusan nggak ngerti?"

"Udah deh! jangan bikin teka-teki, please, Nen! kamu itu orang yang paling tau kalau aku itu nggak pinter."

"Dia lagi jatuh cinta barangkali." jawab Nenti seraya menggedikkan bahu.

"Oh, jatuh cinta ..."

"Hmm, udah pulang, yuk! hampir gelap, nih."
.
.

Hari berikutnya berjalan seperti biasa. Beruntungnya, Bu Anne sudah kembali ke kantor, kecanggungan antara Rafaan dan Shagia sedikit teratasi. Setiap kali mereka berdua saja dalam ruangan, Rafaan akan memanggil Tari untuk membersihkan apa saja di ruangannya. Sebenarnya pria itu tak punya maksud apa-apa, dia sendiri mengakui rasa tidak enak  masih berasa, kalau hanya berdua saja dengan Shagia.
.
.

"Kamu pake pelet apa sih, Ri? aku juga mau dong!"

"Iya ih, pergi ke dukun mana?"

"Apaan sih, mbak. Dukun apa, pamali maen dukun-dukunan," Tari terkekeh

Shagia tak sengaja mendengar percakapan di Pantry saat melewati ruangan itu. Tari dan dua orang rekannya tengah bercengkrama, sementara Tari tersipu-sipu malu saat dua rekannya menggoda. Karena penasaran Shagia memasuki ruangan itu.

"Tari, bisa buatin teh?"

"Siap, mbak!" gadis itu beranjak bangun.

"Lagi ngobrolin apa sih? seru banget kayaknya." Shagia mendekati meja di mana dua wanita berseragam biru itu duduk. Shagia bahkan ikut duduk berbaur dengan mereka.

"Em, itu mbak, Tari ..."

"Ish! jangan ah, malu! Mbak Shagia ini asistennya Pak Rafaan!" sela Tari.

"Nggak apa-apa! aku kan, teman kamu juga. Iya, kan?"

Tari tersenyum, "i-iya, Mbak!"

"Ya sudah, cerita saja!" pancing Shagia.

"Itu Mbak, Tari di ajak ke perayaan milad kantor sama Pak Rafaan!" cetus salah satu.

"Oh ..." sialan! jika tau akan sesakit ini dia memilih tidak mau tau akan hal itu. Shagia meraih cangkir teh yang Tari sodorkan, "terimakasih!" ucapnya seraya beranjak berdiri.

Shagia berjalan dengan menyangga cangkir teh lalu menjatuhkannya dengan sengaja hingga bunyi pecahan cangkir menghentikan candaan yang berlanjut dari para gadis di Pantry. "Ups! maaf, tolong dibersihkan!" ucapnya tanpa menoleh.

Shagia berjalan di sepanjang lorong kantor dengan perasaan marah dan bersalah. Marah pada Tari, kenapa gadis itu bisa menarik perhatian Rafaan. Shagia juga merasa bersalah, kenapa dia bisa jadi antagonis seperti tadi. Hal apa yang membuat dia bisa menjadi seperti ini? ada apa? kenapa? dia sendiri tidak mengerti.

Hei ShagiaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang