Tertangkap basah

68 9 5
                                    

"Rafaan," sapa Devan pertama kali, saat dia berpapasan dengan sepupunya.

"Hai, Kak," balas pria itu tampak kikik. "Em, aku kesini cuma mau memastikan Shagia tidak terlambat lagi. Kalau begitu aku duluan, jangan telat, ya!" pesannya pada Devan sebelum pamit pergi.

Devan hanya mengangguk, dia merasa aneh dengan ekspresi Rafaan yang terburu-buru pergi, seolah dia tidak ingin dirinya menanggapi lain perhatiannya pada Shagia. Perasaan yang sengaja ditutupi, tapi lolos begitu saja dari pengamatan Devan.

"Pak Rafaan pergi?" tanya Shagia sesampainya dia di hadapan Devan.

Devan menggedikkan bahu, "Ayo!" Devan mempersilahkan Shagia untuk segera masuk. Mobil melesat membelah jalanan pagi yang mulai padat, tapi masih cukup lancar pagi ini.

"Shagia,"

Gadis itu menoleh,.

"Kalian masih pura-pura pacaran?"

Dia tak menjawab.

"Apa, pacaran beneran?" terka Devan

"Nggak lah ..." elaknya.

"Tapi sepertinya, Rafaan beneran suka sama kamu."

"Mas Devan sok tau!" cebik Shagia, padahal di sisi lain hatinya tiba-tiba saja dia tertarik dengan ucapan Devan barusan. Berharap ada kelanjutannya lagi.

Ayo katakan lagi, aku ingin denger, Mas!

Devan terkekeh, "Rafaan itu saudara Mas, Mas sudah hafal betul gelagat-gelagatnya." Devan melenguh setelahnya, "Berat juga ...."

"Apanya?"

"Ya masa saya harus saingan sama adik sepupu sendiri," kekehnya ringan.

"Siapa juga yang suka sama kalian berdua!" celetuk Shagia.

"Wah ... wah ... udah berani nolak ternyata," Devan menganalisa.

"Mas Devan nggak pernah menyatakan apa-apa, ya. Jadi, aku juga nggak merasa menolak apapun!" skak Shagia.

Tak berapa lama mereka tiba di halaman ND media.

"Shagia!" Devan menahan tuas pintu yang akan Shagia buka. Gadis itu terpaksa mengurungkan niatannya untuk segera keluar, bahkan saat ini dia begitu dekat dengan Devan, tangan Devan membentang di hadapannya.

"Kita sudah sama-sama dewasa, Mas rasa kamu sudah bisa menyimpulkan arti perhatian Mas selama ini. Jika seumpamanya memang harus ada ucapan langsung, kamu bersedia menjawabnya sekarang?" kata Devan.

Lidah Shagia seperti terkunci. Sial! Dia terjebak karena pernyataannya sendiri.

"Mas suka sama kamu, Mas akan minta kamu berkomitmen, kamu siap? Siap tidak memikirkan pria lain, hah?"

Shagia semakin menunduk dalam, padahal ini adalah moment yang selama tujuh bulan ini dia tunggu. Tapi kenapa, saat ini ada keraguan di hatinya?

Devan menyunggingkan senyum, lalu membukakan tuas pintu. "Nggak perlu jawab sekarang, Mas tau saat ini kamu sedang bimbang."

Devan beringsut kembali ke posisi semula, memberi ruang pada Shagia, Shagia menengadah menatapnya, akhirnya tatapan mereka tertaut. Shagia mencoba mencari getaran-getaran itu lagi, tapi hanya mendapat sedikit saja. Kemana ... kemana perasaan itu ....

"Maaf, Mas. Terkadang aku belum bisa bersikap dewasa, bicarapun asal nyeplak."

"Nggak apa-apa. Masuk gih, nanti telat lagi!"

"Ya, Mas. Terimakasih ... terimakasih untuk pengertiannya."

Devan membalasnya dengan senyuman manis. Satu nilai plus dari pria itu, dewasa dan sikapnya sangat pengertian.

Hei ShagiaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang