Chapter seventeen

223 7 2
                                        

Raffa's POV

Maybe I am no worth for Cassadey. Ya, of courselah Raffa, what do you expect? Dia balik sayang sama lo? Orang gila yang mikir kayak gitu. Dapet cowok baik-baik maunya sama yang nggak baik. It's beyond impossible.

In case you wonder kenapa gue melakukan hal ini sama Cassadey adalah karena gue tau gue udah nggak akan bisa dapetin dia. Emang kesannya gue kayak jahat banget sama dia but it's for her own good. Kalo dia sama gue, gue yakin dia juga nggak akan bisa bahagia karena gue nggak bisa memberi dia itu.

Dulu, banyak yang bilang kalo gue nggak pantes dapetin dia karena dia terlalu sempurna buat gue. Gue orangnya jarang nepatin janji hanya untuk kesenangan gue sendiri. Makanya banyak orang yang nggak suka sama gue. Tapi Cassadey nggak tau. Gue nggak pernah mau kasih liat ke dia gimana buruknya gue.

Iya, sih, gue sahabatan sama dia udah lama dan dia haruanya bisa tau sifat asli gue gimana. Tapi Cassadey terlalu baik dan gue nggak mau nyakitin dia. Iya, gue emang pernah sayang sama dia dan pas saat itulah gue sadar kalo gue sangat nggak pantes buat dia jadi, gue memutuskan buat pergi ke London. Menghindar dari dia dan buat dia benci sama gue. Dan selama di London, track record gue emang udah kelewatan tapi cuma cara itu yang bisa buat gue lupa sama dia.

Selama setahun gue coba dan hasilnya gue bisa lupain dia tapi lama-kelamaan, nggak tau kenapa, rasa bersalah itu muncul. Gue nggak pengen ketemu dia atau balas e-mail atau hal-hal yang menyangkut dia supaya gue bisa lupain dia dan nggak ngerasa bersalah lagi.

Makanya gue jadi player banget di London. I know, such an asshole, huh? And it worked. Sampai gue harus ke Amerika lagi untuk mengurusi beberapa urusan. Dan emang, pada hari ini gue akan balik ke London. Gue harusnya menyelesaikan masalah disini, sama semuanya termasuk Cassadey. Gue pengen jujur tapi pas gue ketemu dia aja rasanya kangen dan dia udah punya cowok. Gue nggak mau ada kesalahpahaman.

Tapi, serius, gue masih ngerasa bersalah. Apalagi pas ketemu dia. Gue baru nyadar betapa bodohnya gue bisa menyia-nyiakan cewek setulus dia. Tapi sekarang gue hanya bisa ikut seneng karena dia udah dapetin yang terbaik buat dia.

Gue harus minta maaf dan jelasin semua ke Cassadey. Ya, harus.

Gue mengambil laptop dan menulis e-mail ke dia.

.

From: raphaeljames@gmail.com

To: cass_lavinnn@gmail.com

Subject: please read this

Hi, cass. Um, can i see u right now? Can we meet? Please? At redlaw café? I really need to talk to u. Just come by, okay?

.

E-mail sent.

Here we go.

Raffa's POV end

***

Cassadey's POV

Gue udah baca e-mail dari Raffa sekitar beberapa menit yang lalu. Dia nyuruh gue buat ketemuan di Redlaw café--cafe yang sering kita kunjungi. Apa dia sengaja? Biar gue bisa balikan lagi sama dia? Okay, gue terlalu pede. I have Andrew. That's all I need.

Apa gue sama Raffa emang harus bener-bener ketemu? Apa gue harus dateng? Apa yang pengen dia omongin? Mau bahas apa lagi? Gue kayaknya udah denger semua penjelasan dari dia, deh.

Apa gue nggak usah dateng aja? Tapi, mungkin ada hal penting yang pengen dia bilang ke gue? Setelah gue pikir-pikir lagi, gue memutuskan untuk menemuinya.

Perjalanan ke Redlaw café hanya memakan waktu sekitar 15 menit dan dia udah menunggu disana. Gue mengambil tempat duduk di seberangnya.

Raffa tersenyum simpul. "Thankyou for coming."

Gue hanya mengangguk dan memanggil salah satu pelayan. "One Grappocino, please." pelayan tersebut tersenyum dan mengangguk lalu pergi.

Kita berdua hanya diam.

Dia menarik napas dan menggeleng perlahan. "I am so sorry, Cass."

"I know."

"No, you don't know. You don't know how guilty I feel. And I think sorry is not enough." katanya. "Look, I just want to be honest with you. I am no worth for you. I always broke anyone's promises. Everybody hates me. And the promise that I made years ago, it's not real."

What? batin gue. Tiba-tiba tangan gue terasa lemas dan mata gue mulai memanas.

"We can't always be together, Cassadey. I am a shameful person. You need to find the right guy and you are. I am sorry that I lied. It's okay for you to hate me. I'm here to clear things with you and I'm sorry. But my feelings for you were real. I loved you."

Air mata gue mulai menetes perlahan di pipi gue.

"For two years I suffered--"

"You think I didn't? Oh my God, you're really selfish, Raffa. You are just thinking about yourself." gue memotong kalimatnya. Suara gue bergetar dan gue mulai menangis tanpa bisa gue tahan.

"I know and I'm sorry."

"Stop saying sorry. I forgive you."

"Really?" katanya dengan mata yang melebar.

Gue mengangguk. "I just want this to be over." gue menghapus jejak air mata gue. "I don't want to talk about this again, Raffa. Though I can't believe you did this to me, you're right. I found the right guy whose better than you and I'm thankful."

Gue tau itu sangat sarkastik, tapi gue nggak peduli. Dia udah banyak nyakitin gue.

"Thank you for have left America because if you didn't, I would never have Andrew in my life. Now, we're clear and live your life. Forget what have happened between us. I'm glad you're sorry."

Gue beranjak dari tempat duduk dan pergi dari cafe itu tanpa menunggu dia ngomong lagi.

Ya, mungkin emang bener gue udah maafin apa yang udah dia perbuat ke gue. Gue dibohongin dan dimainin sama dia. Gue emang sakit hati. Tapi emang bener, kan? Tanpa dia ngelakuin begitu ke gue, gue nggak mungkin dapetin Andrew yang setulus itu sayang sama gue. Andrew yang lebih bertanggung jawab dan lebih dewasa dibanding Raffa. Gue lihat dari sisi positif dan gue dapetin kebahagiaan gue sekarang.

Gue nggak peduli lagi sama Raffa. Terserah dia mau ngelakuin apa, yang jelas masalah kita udah cukup sampai disini. Kita udah menyelesaikan masalah kita dan kita udah nggak ada hubungan apa-apa lagi. Nggak lebih dari 'long-distance-friend'

Cassadey's POV end

***

A/N

Ahh haii! Maaf gaje dan kalo ada bahasa yang ngaco sama typo

Makasih buat yang udah mau baca

Vote sama comment yaa!

The Truth HonestyTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang