Chapter nineteen

306 7 0
                                        

Cassadey's POV

Gue sedang memandang keramaian yang berada di taman dekat rumah gue. Rasanya, gue senang aja kalo berada di keramaian. Ngeliat lalu-lalang orang-orang yang berjalan, anak kecil yang lagi main bareng, orang yang lagi mengerumuni chocolate-truck, yang salah satunya adalah Andrew. Dia kembali ke bangku yang lagi gue duduki dengan dua buah cokelat kedua tangannya dan memberi salah satunya ke gue.

"You know I don't like white chocolate, right?"

"Oh, I don't." dia bilang. "But I'm sure you will eat it."

"How can you be so sure?" gue menaikkan kedua alis mata gue.

"Because I bought it for you. It's not like you're going to throw it away from you." dia membuka bungkus cokelatnya.

Gue memicingkan mata ke arahnya, "You really think so?"

"No. Here." katanya lalu dia mengambil cokelat yang ada ditangan gue dan mengganti cokelat yang ada di tangannya.

Gue memandang cokelatnya dan menaikkan sebelah alis. Dia tau nggak, sih, kalo cokelat yang ada di tangan gue sekarang--maupun yang tadi--ini cokelat putih. Gue menghela napas dan mau nggak mau memakan cokelat ini. Gue menggigit cokelat dan merasakan rasa yang manis sekali. Ini sebabnya gue lebih memilih cokelat biasa atau dark-chocolate karena rasanya yang nggak terlalu manis dibanding cokelat putih.

"It isn't so bad, is it?" katanya.

"It's too sweet."

"But you ended up eating it."

"Because you left me no choice." ujar gue.

"I meant to. And I understand, now. If I gave you a choice, you would choose what's best for you, right? But If I don't have a choice, like it or not, you would take it because it's the best for other person. You eat it, even if you don't like it, with love. Am I right?"

Gue menekan bibir gue sehingga berbentuk seperti garis. "80 percent true. 20 percent is because I still love chocolate even though it's white."

Andrew tertawa dan mengacak rambut gue.

"Actually I know that you don't really like white chocolate. I thought you would literally throw it away. But you're not." kata Andrew masih ada sisa tawa di wajahnya.

"So you're saying is...?" gue bilang, tapi lebih ke sebuah pertanyaan.

"You won't throw me away even if the world don't give you a choice or you don't even like me." ujarnya.

"Oh my God, Andrew, of course I like you. I really like you. I love you. And the world did give me a choice and I choose you."

"I'm afraid you didn't like your choice. I'm
afraid of losing you because I've stucked on you."

"You won't lose me, Andrew. I have made my choice and no one gets to contradict what I have chosen." kata gue.

Dia diam aja, menatap cokelat yang ada di tangannya. Kemudian sebuah pertanyaan muncul di kepala gue.

"You don't trust me, do you? If you don't trust me then you don't love me."

"No!" dia langsung menjawab. "I do both trust and love you. I just don't trust myself."

Gue nggak ngerti sama jalan pikirannya dia. Apa yang membuat di ragu sama dirinya sendiri? Apa dia ragu karena telah memilih gue? Apa dia nggak percaya sama dirinya karena udah mencintai orang yang salah?

"It's funny how you don't trust yourself for choosing me." kata gue.

"No." dia mengusap wajahnya menggunakan sebelah tangannya dan menggeleng. "No. I don't trust myself to be the best one for you. No offense, Cass, but you've been hurt once, and I don't wanna hurt you more."

"Why are you afraid of hurting me? You don't do anything wrong, as far as I know."

Apa mungkin Andrew akan menyakiti gue sama seperti Raffa yang telah lakukan ke gue? Jantung gue berdegup kencang. Nggak. Andrew nggak akan nyakitin gue. Tapi perasaan gue masih nggak tenang. Apa gue takut kejadian yang sama akan terjadi sama gue? Mungkin. Tapi nggak. Gue nggak akan membiarkan ketakutan mengambil alih diri gue. Karena hanya gue yang bisa mengontrol diri gue. Gue nggak akan membiarkan siapapun atau apapun mengambil alih apapun yang udah gue pilih.

"You listen to me, Andrew. I have made my choice and it's you. The world gave me a choice to choose between stuck on a past or move on. I chose move on and I got you. I trust you to love me, to forget about all my past, to not afraid of being hurt again, because I trust you. And you know what? That trust I built for you, is fading now."

Gue beranjak dari kursi dan berlari menuju entah kemana kaki gue membawa gue. Cokelat putih yang diberikan Andrew, gue buang ke tempat sampah terdekat dan gue mulai menangis.

***

Entah kenapa rasanya sakit. Lebih sakit dari apa yang telah Raffa lakukan ke gue. Gue mempercayakan hati gue ke Andrew karena gue pengen jatuh cinta lagi. Pengen ngerasain yang selama 2 tahun nggak gue rasain karena hanya terjebak dalam perasaan hina untuk menyayangi orang yang salah.

Gue kira Andrew beda. Apa maksudnya dia dengan bilang kalo dia nggak percaya sama dirinya sendiri? Itu artinya sama aja kayak dia telah membohongi perasaannya sendiri karena telah menyayangi gue. Dia bilang dia nggak percaya sama dirinya karena dia nggak mau nyakitin gue. Ini nggak masuk akal. Kalau dia takut, pasti dia melakukan hal yang tentunya akan membuat gue sakit hati. Tapi, apa iya?

Tiba-tiba hape gue bergetar. Ada sms masuk.

.

Sender: Andrew

i'm at your balcony.

.

Apa?

Gue langsung beranjak dari tempat tidur dan membuka pintu balkon gue. Yap, benar Andrew berada di hadapan gue sekarang. Gue membelalakan mata, kaget.

"What are you doing here? Go home." bisik gue.

"No." dia menggeleng.

"Andrew, it's midnight. You should leave. What if your parents are looking for you?"

"I won't, Cass. I want to be here, with you."

Gue terdiam sejenak dan menghela napas. "Come in."

Andrew melangkah masuk ke kamar gue dan melihat benda-benda sekitar yang berada di dalam kamar gue. Setelah gue menutup pintu balkon, Andrew berbalik arah ke gue dan mendekat.

"I'm sorry for what I said. I just don't trust myself because I don't want to hurt you. I don't want to lose you. I love you, Cass, more than I love myself."

"I trust you, Andrew. You won't lose me. You won't, okay?"

Dia mengangguk dan mencium kening gue.

"You should go home, Andrew. We'll meet at school tomorrow."

"Okay." dia mencium bibir gue lembut kemudian berjalan menuju balkon.

"Be careful." kata gue sambil melihat dia yang turun dari balkon kamar gue hanya dengan menggunakan bantuan tanaman rambat yang menempel di dinding.

Setelah dia masuk ke mobilnya, gue menutup pintu balkon.

Dalam hati gue sadar kalau Andrew memang pantas dicintai. He's worth it.

***

A/N

makasih buat yang udah mau bacaa!

vote & comment?

The Truth HonestyTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang