Chapter thirteen

201 7 1
                                        

Yoga's POV

Urgh. Udah beberapa hari gue belom ketemu Vanisa lagi. Nggak bisa kayak gini terus. Tapi mau gimana lagi? Gue sibuk, dia sibuk. Tugas makin menumpuk. Hubungan kita makin lama makin menjauh. Udah dua tahun kita bareng tapi nggak ada perubahan. Ya, gitu-gitu aja.

Makin hari tingkahnya Vanisa juga makin aneh. Kayak, matanya menunjukkan sesuatu yang nggak bisa gue artikan. Bosen kali, ya, sama hubungan yang kayak gini-gini aja.

Jujur, gue juga bosen. LDR itu sampe kapan pun nggak akan pernah bisa berjalan drngan lancar. Kayak, lo pacaran tapi jarang ketemuan itu rasanya.. kayak cuma makan nasi tapi nggak pake lauk. Nggak lengkap. Kayak ada something's missing.

Gue kangen dia tiap hari. Tapi gue nggak bisa ngelakuin apapun juga. Oke, lo pasti ngira gue cowok yang nggak gentle. Tapi kalo misalnya kita ketemuan itu pasti berantem.

Mungkin itu yang gue kangenin dari dia. Pas saat-saat kita berantem. Gue emang aneh karena kangen sama pas saat kita berantem aja. Tapi gue nggak pedulilah. Gue mau ke rumahnya dia sekarang.

Gue mengambil jaket dan kunci mobil lalu menuju ke mobil gue. Ketika gue menuruni tangga, ada yang manggil gue. "Yoga? Is that you? Can you come here for a sec?" suara Nyokap dari arah ruang tamu. Gue menghela napas singkat dan menghampirinya. Bokap gue lagi duduk di sofa sambil membaca sesuatu. "So, um, we've been thinking that maybe we can go to Indonesia. What do you think?"

Apa? Indonesia? Lalu kehidupan gue disini gimana? Vanisa gimana? LDR di negara yang sama, bahkan kota yang sama, rasanya aja udah kayak bad idea banget. Nah, sekarang ini? Di negara yang beda? Tambah bad idea banget. "What? What for? We live well here, right?"

"Yeah, we live well, here. But as you know, we came from Indonesia and we have to get back. To our hometown. Even just for a while."

"A while? I don't think so." gue mendesah keras. "Look, Mom, what about my life here? Don't you think about me?"

"We've been thinking about everything, Yoga. Your school, your grade, your happiness. I disagreed at first but then I thought again we could have a better life there."

"Mom, we're just lived here for two years--!"

Ada yang memotong kalimat gue. "Two years and a half." kata adek gue yang baru menduduki kelas 7.

"Shut up, Danny!" kata gue.

"Yoga!" bokap gue teriak ke arah gue. "I've booked the tickets and we're leaving in two weeks whether you like it or not."

"And you didn't even talk to me..." kata gue tapi gue nggak melanjutkan kalimat gue. Mau gue marah-marah kayak apaan tau juga nggak akan merubah apapun. "Whatever."

Gue langsung beranjak keluar rumah dan menderukan mobil.

***

Gue memberhentikan mobil dan memukul setir mobil keras. "Urgh, why!?" tanpa gue sadari gue udah berada di depan rumah Vanisa. Nggak tau gimana tiba-tiba gue udah nyampe disini.

Pasti di jalan tadi pikiran gue melayang kemana-mana sampe-sampe nggak tau mau jalan kemana.

Well, I'm end up here, now. Gue menenangkan pikiran gue sejenak dan mengontrol emosi gue lalu gue mengambil hape dan meng-sms Vanisa.

.

To: Vanisa

I'm in front of your house. Please, just get out.

.

Nggak lama Vanisa keluar dengan pakaian casualnya. Gue langsung turun dari mobil dan menghampirinya.

The Truth HonestyTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang