Tok... Tok.. Tok...
Suara ketukan Pintu, membuat Septa bergegas bangun dari tidur singkatnya. Rencananya yang hanya akan tidur satu jam, ternyata lebih lama dari perkiraan.
Jam sudah menunjukkan pukul 05:15 sore, membuat seluruh ruangan menjadi gelap. Di lihatnya, Mirah masih tertidur pulas. Enggan membangunkan, Septa memilih untuk menemui tamu seorang diri.
Ceklek..
Pintu terbuka, menampilkan sosok perempuan kumal yang tadi pagi sempat Septa rawat.
"Bu Mega? Mari silahkan masuk" suruh Septa sembari membuka pintu lebih lebar.
Mega menggeleng pelan, sedari tadi dirinya menunduk, menyembunyikan wajahnya.
"Makasih..." gumam Mega.
"Makasih untuk apa Bu?" tanya Septa lembut.
Mega menepuk dadanya pelan. "Luka saya, tidak akan sembuh. Tapi, terimakasih.. Sudah peduli.. Saya kira kamu sama, seperti Dia.. Tarnyata tidak... Kamu baik.. Orang baik.. Kamu pergi saja dari sini.. Di sini bahaya" gumam Mega parau.
Septa mengernyitkan dahinya, bingung dengan apa yang tengah di katakan Mega.
"Dia siapa?" tanya Septa coba mengulik.
Namun, baru saja Mega hendak menjawab, suara Mirah membuat Septa mengalihkan pandanganya dari Mega.
"Mas? Ngobrol sama siapa?" tanya Mirah dari arah kamar.
"Sama warga.." jawab Septa, tapi saat Septa kembali memandang arah pintu, Mega sudah tidak ada.
......
Hari mulai gelap. Anak-anak berlari, bergegas pulang ke rumah masing-masing. Pintu di tutup rapat, jendela pun sama. Semua perempuan berdiam diri, membekap anak mereka sembari mengelus dada.
Bowo menyiapkan lentera, kepalanya pening, tak habis fikir. Mbok Sinem terlihat gelisah, menanggapi kejadian yang tidak terduga.
"Mbok, Warga pun sepakat, mboten wenehi werung marang Pak Dokter, napa maleh wenehi weruh marang Bu Mirah. Dadi, sonten niki, Mega di kuburaken ing alas" (Mbok, warga sudah sepakat tidak akan memberi tahu Pak Dokter, apalagi memberi tahu Bu Mirah. Jadi, malam ini juga Mega akan di makamkan di hutan)
Mbok Sinem berkaca-kaca. Badanya bergetar menahan tangis yang sekuat tenaga dirinya sembunyikan.
"Kuburkan dengan layak! Semua Warga bersalah akan kematianya Le! Aku, Kamu, dan semua Warga akan ketulah! Ini awal bencana hebat untuk Warga Desa Rantru" ucap Mbok Sinem pelan namun tajam.
Bowo, memeluk kaki Sinem erat, dirinya pun takut. Namun sebagai laki-laki satu-satunya di rumah ini, Bowo harus ikut andil dan keluar dari rumah untuk menguburkan rahasia besar yang di bawa oleh raga Mega.
"Kula bidal Mbok" (Saya berangkat Mbok) ucap Bowo, mengambil parang untuk dirinya bawa.
"Sing ngati-ati" (yang hati-hati) ucap Mbok Sinem, melepas kepergian Bowo.
Di pos ronda, perbatasan Desa Rantru, dan Hutan Kayu Mati. Banyak Pemuda desa dan Bapak-bapak tengan berkumpul, dengan lentera dan obor di tangan.
"Heh, Wo" sapa Pak Dadang, saat melihat Bowo dari kejauhan.
"Pak.." sapa Bowo. "Pripun? Pun di dokne mayit e?" (sudah di turunkan mayatnya?) tanya Bowo penasaran.
"Makane iku, wit e rumayan dukur, dadi lak awkmu sing ngedukne yo opo?" (Makanya itu, pohonya rumayan tinggi, jadi kalau kamu aja yang nurunin gimana?) tanya Pak Dadang.
"Yo mosok aku seh Pak? Ngoel lak an, nek dewean" (Ya, masak aku sih Pak? Takut lah kalau sendirian) jawab Bowo dengan mimik wajah masam.
"Yo gak dewean, awakmu kan mung ngedukno, nah warga ngenteni ndek ngisor wit e, seng nampani mayit e" (Ya gak sendirian, kamu kan yang nurunin, nah warga nunggu di bawah yang nangkap mayatnya) ucap Pak Dadang mencoba membujuk Bowo.
Bowo yang mengengar penjelasan Pak Dadang pun ahirnya meng iyakan. Membuat yang lain terlihat lega.
Karna sudah sepakat, warga pun ahirnya bergegas membawa obor dan lentera lalu bersiap memasuki hutan.
*Rumah Dinas sudah sampai bagian 10. Tuliskan komentar jika ada saran dan kritik mengenai cerita ini. Jangan lupa vote agar Jiku bisa up setiap hari, Nuhunn.
KAMU SEDANG MEMBACA
RUMAH DINAS
TerrorRumah itu, bukan hanya Rumah Dinas. Di dalamnya menyimpan pekat, atas banyak darah yang di paksa tumpah. Mawar merah yang tak sempat rekah. - Peringkat 1 #novelhorror 22/05/2021 -Peringkat 1 #cermis 23/05/2021 -Peringkat 1 #bacahorror 24/05/2021 ...
