Bagian 13

1.8K 164 9
                                        

Mirah terlihat bingung, menanggapi pertanyaan Anak Kecil yang ada di hadapanya.

"Kamu mau permen? Tante gak punya" ucap Mirah, "Besok Tante kasih ya, sekarang kamu tidur di sini saja" pinta Mirah.

"Di sini kan rumah aku" ucap Anak itu dengan tatapan tajam. "Aku mau permenya" imbuh Anak itu.

Mirah mengerutkan keningnya, setiap kata-kata yang keluar dari mulut anak itu membuat Mirah bingung.

"Mir..." panggil Septa, dari dalam kamar.

"Iyaaa..." jawab Mirah "Emhh, sebentar ya.. Jangan kemana-mana" pinta Mirah pada Anak itu.

Mirah bergegas masuk ke kamar. Namun, saat Mirah sudah berada di dalam kamar,  bukan hanya Septa yang dia temukan, namun sosok hitam yang tengah membekap mulut Septa. "Sussttt" ucap sosok itu sembari menaruh jari telunjuknya pada bibirnya yang koyak.

"Aaaaaaaaaaaaaa" teriak Mirah sekuat tenaga.

"Bu Mirah... Bu..." panggil Mbok Sinem sembari mengguncang-guncangkan tubuh Mirah.

"Mbokkk" teriak Mirah sembari mencengkram erat tangan Mbok Sinem.

Hari sudah pagi, sinar matahari masuk melaui celah-celah jendela. Tak juga di temui Septa di sebelahnya.

"Hanya mimpi buruk.." gumam Mirah sembari mengelus dada, nafasnya masih memburu, dahinya di penuhi keringat.

"Mimpi apa Bu Mirah?" tanya Mbok Sinem penasaran.

"Engga Mbok" ucap Mirah, bergegas keluar kamar untuk mencuci muka. Namun, sebelumnya Mirah menatap Mbok Sinem "Mbok, bisa belikan saya permen seperti yang kemarin siang?" tanya Mirah.

"Bisa" jawab Mbok Sinem, sudah bisa menebak apa yang tengah terjadi.

................

Dharma menggigit kukunya, sudah satu jam lebih Dharma hanya mondar mandir akibat kepalanya yang terlalu pening.

Kabar tentang kematian Mega sudah menyebar ke seluruh Desa. Seperti rahasia umum yang semua penduduk desanya tau, namun memilih untuk bungkam.

"Aku ndelok gae mataku dewe! Edan! Iso-isone dee nggowo gawan seng wayae ilang" (Aku lihat dengan kedua mataku sendiri! Gila! Bisa-bisanya dia membawa sesuatu yang harusnya hilang) ucap Dadang, yang notabenya adalah kakak kandung Dharma.

"Dee musti gawe janji karo demit! Ra mungkin gawan iku balek maneh! Gawan iku wes di taleni, gak mungkin iso ucol soko alas!" (Dia, pasti membuat janji dengan Iblis! Gak mungkin sosok itu balik lagi! Sosok itu sudah di ikat, gak mungkin bisa lepas dari hutan itu.) gumam Dharma.

Dadhang, membuang muka. Memastikan Dharma tidak tau, kalau sebenarnya Mega belum di kuburkan.

"Awkmu seng ngati-ati. Mung iku seng iso kok lakoni. Mega nglakoni kui musti onok alasane, Awkmu dewe mustine ngerti alasane opo" (Kamu harus hati-hati. Hanya itu yang bisa kamu lakukan. Mega melakukan itu pasti ada alesanya. Kamu sendiri pasti tau alasanya apa) ucap Dadang meninggalkan ruangan Dharma. Namun, saat Dadang masih berada di ambang pintu, Dharma bergumam.

"Awkmu kan yo malu urusan" (Kamu kan juga terlibat) gumam Dharma, suara itu tak terdengar oleh Dadang. Tapi cukup mewakili tentang apa yang dirasakan oleh Dharma. Ketakutan, memikirkan apa yang akan terjadi padanya setelah ini.


*Hallo semuanya, terimakasih sudah setia membaca cerita "Rumah Dinas" sesuai janji Jiku upp 2 bagian hari ini. Sematkan komentar untuk kritik dan saran, juga vote cerita ini supaya Jiku semangat upp cerita. Nuhun 🙏🏻

RUMAH DINASTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang