Bagian 14

1.8K 181 5
                                        

Puskesmas terasa lenggang. Hanya ada Septa dan satu Perawat magang, yang merupakan penduduk asli Desa Rantru. Namanya Maya, gadis berumur 24 tahun, perawakannya sedikit berisi, dengan rambut hitam pekat, dan kulit sawo matang.

"May.. Jangan ngelamun" ucap Septa, membuat Maya sedikit terkejut.

"Ah, iya Pak Dokter" jawab Maya gelisah.

"Kalau ada yang mengganggu fikiranmu, atau sekiranya kamu tidak enak badan, pulang saja gakpapa, Puskesmas juga lagi sepi"

"Engga Pak Dokter, saya di sini saja" ucap Maya mencoba meyakinkan Septa.

"Yasudah kalau memang itu mau kamu" Septa tak lagi memaksa

Karna suasana sunyi, Septa mencoba membuka obrolan. "Emh, kamu tau gak rumah Bu Mega dimana? Saya mau berkunjung, kemarin kan Bu Mega dateng ke rumah, mungkin beliau butuh bantuan" tanya Septa, sembari menjelaskan kejadian semalam.

Bukanya menjawab, Maya menatap Septa dengan tatapan tak percaya, wajahnya yang sedari tadi lesu semakin pucat, bibirnya bergetar, hingga tak terasa kalimat yang seharusnya tidak di ucapkan keluar dari mulut Maya. "Bu Mega sudah meninggal Pak" ucap Maya tanpa sadar.

"Lohh, sejak kapan? Karna apa? Orang semalam masih mengunjungi rumah saya kok sekitar 6 sore" balas Septa tidak percaya.

Maya membekap mulutnya tanpa sadar, lalu menggelengkan kepalanya.

"Kenapa?? Apa yang terjadi dengn beliau" tanya Septa semakin mendesak Maya.

"Engga, Pak! Saya salah ngomong!" ucap Maya nyaris menangis.

"Kalau gitu coba nanti saya tanya sama Pak Dharma" ucap Septa, melunak. Enggan membuat anak orang menangis.

Tapi bukanya membaik, Maya malah semakin ketakutan, bahkan maya sampai sujut di kaki Septa.

"Jangan Pak Dokter! Jangan! Tolong jangan bilang ke siapapun tentang apa yang baru saja saya ucapkan" ucap Maya, menangis kencang.

Septa mengerutkan keningnya, semua yang di lakukan Maya membuatnya semakin bingung dan penasaran.

Septa, mengangkat tubuh Maya lalu mendudukkanya kembali. "Coba ceritakan sama saya. Dan saya gak akan ceritain ke siapa-siapa. Semakin saya tau bahayanya, pasti semakin saya akan menjaga rahasia yang akan kamu ceritakan sebaik mungkin"

Maya terdiam, masih dengan suara isak tangis yang coba dirinya tahan. Hatinya tak karuan, detak jantungnya pun berdetak hebat hingga meninggalkan ngilu yang memaksanya terus menangis ketakutan.

"Hey, saya akan jaga rahasia ini" gumam Septa sembari menggenggam tangan Maya dengan lembut.

Maya menatap Septa lekat-lekat, ya.. dirinya tak punya pilihan lain selain mengatakan sebagian kecil rahasia Desa Rantru.

"Memang benar, Mega sudah meninggal. Tepatnya setelah dia menemui Pak Dokter" ucap Mega sangat pelan, nyaris tak terdengar.

"Apa penyebab kematianya?" tanya Septa, sama pelanya.

"Gantung diri. Tetua Desa, yang tengah mengirim sajen pada Wireng, menemukanya tergelantung pada pohon beringin di tengah hutan larangan"

"Kenapa bisa?" tanya Septa tak percaya, mengetahui sosok yang menemuinya semalam bukan lagi seorang manusia.

Maya menggeleng pelan, tak mau memberi tahu lebih lanjut mengenai alasan hal itu bisa terjadi.

"Saya juga tidak tau" jawab Maya menunduk, enggan beradu tatap dengan Septa.

RUMAH DINASTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang