neunundzwanzig

71 15 0
                                    

stσrʏ вʏ кσsmσstєrвαng

-

"MISS HANA!" seru mereka kompak.

Wanita yang disebut malah tersenyum lebar dengan bangga. "Ternyata kalian tidak melupakanku."

"Apa yang kau lakukan di sini hah?!" seru Nedvan.

"Ah lihatlah anak muridku satu ini, ke mana sopan santunnya?" Miss Hana menyahut dengan senyuman tak luntur dari wajahnya, lebih terlihat seperti senyuman evil.

Semuanya diam, menunggu Miss Hana melanjutkan. Tapi tidak dengan Nedvan yang memang sedari tadi mengepal tangannya erat.

"Hem sepertinya kalian harus diberikan pelajaran agar sopan pada orang yang lebih dewasa." Wanita itu melirik ke kiri. "Tapi sebelum itu, aku ingin Camelia menyerahkan bunga amaryllis itu kepadaku!"

Camelia yang mendengarnya jadi menggeleng. Ia tidak akan pernah memberikan bunga itu, walau sekalipun bunga itu tak ada padanya.

"Oh tidak mau ya?" Wanita itu mengangkat sebelah alisnya seraya tersenyum sinis.

Miss Hana maju, membuat Gain di depan Camelia bersiaga. Begitu pun dengan keempat temannya, mereka bersiaga jikalau Miss Hana melayangkan serangan.

"Minggir!"

Mereka tidak menyingkir, namun semakin berusaha menghalangi Miss Hana untuk mendekati Camelia yang berada  di belakang Gain.

"Anak-anak ini!" geramnya membuat ia mengangkat tangannya lalu mengarahkannya pada keempat remaja itu yang menghalanginya.

Wush!

Suara kesiur angin itu berasal dari tangan Miss Hana. Wanita itu kembali mengarahkan tangannya ke arah keempat remaja itu lagi.

Sebelum mereka sempat membuat tameng seperti tadi, semuanya terhempas dari tempat berdirinya. Semuanya terjatuh, tak terkecuali Camelia.

"Aw!" ringis Idalina merasakan sikunya perih karena bergesekan dengan tanah langsung.

"Idalina!" Sebuah serangan lagi kini hendak mengenai Idalina membuat Fane berseru.

Sebelum serangan berikutnya mengenai Idalina, Fane segera membuat tameng dengan sihirnya. "Ehk" Fane mengerahkan seluruh tenaganya membuat ia berseru tertahan.

"Idalina! Bangun!" Idalina yang merasa sikunya masih perih berusaha menyingkir secepat mungkin dari tempatnya.

Semuanya segera ikut berdiri. Viola membantu Idalina yang menutup sikunya dengan tangan kirinya untuk bergeser lebih dekat.

"Kau tidak apa-apa?" tanya Viola memastikan.

"Hanya lecet sedikit," jawabnya membuat Viola mengangguk, entah mengangguk untuk apa.

"KALIAN!" Miss Hana berseru marah.

"BERIKAN BUNGA ITU PADAKU CAMELIA! JIKA TIDAK ..."

"AKU TIDAK AKAN MEMBERIKANNYA!" balas Camelia.

"Benarkah?" tanya Miss Hana tiba-tiba menurunkan volume suaranya. "Kau tidak sayang terhadap mereka?" tanyanya lagi membuat Camelia dan yang lain mengernyit.

"Keluar Green!"

Setelah mengatakan itu, seorang pria dengan pakaian sama hitamnya dengan Miss Hana muncul dari balik punggungnya. Tidak hanya sendiri, melainkan dua orang lagi bersamanya serta ular raksasa berkepala tiga yang kemarin mereka lumpuhkan.

Kelimanya tidak tertarik dengan ular raksasa itu. Namun ada yang membuat mereka lebih terkejut.

"Ayah?" ucap Camelia dan Gain kompak.

Because Of A Reincarnation✔Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang