Sudah satu jam lamanya, Adit tak kunjung keluar dari bilik toilet itu. Ia memilih duduk bersandarkan dinding bilik tersebut.
Tubuhnya tidak lemah. Namun, mentalnya yang lemah. Tidak sekuat apa yang diharapkan oleh Ayahnya. Didikan keras nyatanya tetap tak mampu membuat mentalnya kuat. Berbanding terbalik dari itu, mentalnya semakin lemah.
Bau sampah masih menguar bebas. Adit membiarkan bau-bau itu menyatu dengan tubuhnya. Ingin dibersihkan dengan basuhan air pun tak ada gunanya lagi. Sebab jika tak memakai sabun, sama saja boros air.
Adit beranjak berdiri. Energinya habis. Ia lapar, tetapi tak mungkin kembali ke kantin. Bisa-bisa ia dilempari lebih banyak sampah dari sebelumnya.
Adit melangkahkan kaki. Menjejaki kakinya hingga keluar dari toilet itu. Toilet: tempat pelarian dirinya saat dibully.
Keadaan sekitarnya sepi. Lelaki itu menelisik ke arah jam tangan. Ia menghela napas lega.
"Sudah jam masuk rupanya." Bergumam dengan pelan, bahkan sepertinya suara gumaman Adit tak terdengar meski berjarak setengah meter darinya.
Adit menengok ke kanan, dan kiri. Melihat situasi di sekitar. Sepi, dan tak ada orang berlalu lalang.
Senyum terbit di wajah Adit. Ia melangkah dengan cepat. Semakin berjalannya waktu, Adi
memacu langkahnya.Kini, di hadapannya ada sebuah pagar tembok yang menjulang tinggi ke atas. Adit melihat ujung atas pagar itu. Senyumnya makin dilebarkan. Matanya berbinar terang.
"Waktunya beraksi," ujarnya lalu berlari, mendekati pohon mangga di dekatnya.
Perlahan tapi pasti. Adit menaiki satu per satu pijakan pohon mangga, yang sedari awal sudah dibuat pijakan olehnya dengan sembilah pisau yang tak sengaja ditemukan.
Semakin cepat, semakin kaki Adit menjejaki pijakan pohon. Ia berada di atas pohon. Tatapan,dan senyuman sumringah tertuju kepada pagar tembok tinggi tadi. Tersisa kurang dari lima meter pagar itu setara dengan tubuh Adit yang berdiri di atas pohon. Dalam kurun jarak sependek itu, Adit mampu melompat dengan sekali lompatan.
Adit membersihkan tanah yang menempel di tangan, dan bajunya. Ia mendarat ke permukaan tanah dengan sempurna. Tidak ada kata gagal dalam hal melompat bagi seorang Adhitama Sabian.
Ia beranjak berdiri. Matanya menelisik sekitarm Sebuah jalanan dalam gang yang sepi. Jarang ada orang berlalu lalang di sini. Namun, itu lebih baik daripada kehidupan Adit sejak lima tahun lalu. Ramai, tetapi sakit. Riuh, tetapi hina.
Adit kembali melangkahkan kakinya untuk berlari. Ia terus memacu langkah larinya. Tidak peduli jika nantinya satpam sekolah mengetahui tindakannya. Keluar dari sekolah sebelum waktunya pulang. Yang terpenting sekarang, Adit ingin bebas untuk sementara waktu.
***
Adit menatap pagar rumah yang menjulang tinggi. Ia mengenggam tali ranselnya dengan kuat.
Lelaki itu menghela napas panjang. Berusaha tidak perlu takut memasuki rumah ini lagi. Sebab semua yang terjadi di dalam sana pasti akan seperti yang kemarin-kemarin.
Adit membuka pagar dengan hati-hati. Berusaha sebaik mungkin untuk tidak terdengar decitan pagar terbuka. Sayangnya, pagar itu tak bisa merasakan usaha Adit. Tetap keluar juga suara decitan keras dari pagar itu.
"Adit, Kamu sudah pulang?"
Adit meneguk ludahnya kasar. Di hadapannya, ada seorang pria yang menatapnya. Penuh intimidasi, membuat bibir Adit terasa kering seketika.
"Adit, saya tanya kamu!" Tatapannya makin menajam. Tatapan itu membuat Adit menjatuhkan pandangannya ke bawah; tak berani menatap si pemilik tatapan tajam itu.
"I-iya, Ayah."
Bimo menghela napas gusar. Tanpa berlama-lama, pria itu menarik kasar lengan anaknya. Membawa Adit memasuki rumahnya.
Usai mereka berdua berada dalam rumah, Bimo menutup pintu rumah rapat-rapat. Ia menghempaskan tubuh Adit, hingga lelaki itu tersungkur jatuh ke lantai.
Adit memejamkan mata sejenak. Lalu membukanya lagi. Bimo melemparkan tatapan tajamnya lagi ke arah anaknya sendiri.
"Bodoh! Susah sekali kamu ini diatur! Sudah saya bilang, jangan pernah membolos!"
"Bangun kamu!" Bimo menarik seragam belakang Adit. Membuat Adit terpaksa harus berdiri. Tubuh Adit berbalik, menghadap Bimo yang sedang murka dengannya.
"Maaf, A-Ayah." Adit menundukkan kepalanya. Tidak berani membalas tatapan tajam dari Bimo.
"Maaf? Apa katamu? Enak sekali kamu bicara seperti itu, anak bodoh!"
Bimo mempertajam tatapannya. Kemudian, tangannya bergerak melepaskan ikat pinggang yang melingkar di pinggangnya.
Adit memejamkan matanya. Ia tidak ingin melihat lagi suatu hal yang membuatnya lagi-lagi merasa tersakiti.
"Kenapa kamu menutup mata? Buka!" sergah Bimo tambah murka.
Adit mengangguk. Ia kembali membuka matanya. Namun, tetap tidak menengadahkan kepalanya untuk membalas tatapan Bimo.
Senyum miring terbit di wajah Bimo. Ia menyeringai tajam. Seringaian yang sana sekali tak ingin lagi Adit pedulikan.
"Kamu siap?"
Tidak ada yang bisa Adit lakukan sekarang. Selain, harus mengangguk mengiyakan pertanyaan dari Bimo.
Bimo menghentakkan ikat pinggangnya ke lantai. Terdengan suara decitan atas perbuatannya.
Tak lama, Bimo maju satu langkah mendekati Adit. Ia menyabetkan ikat pinggang itu ke beberapa bagian tubuh Adit. Tak sesekali, dua kali, tetapi berkali-kali.
Adit mengepalkan tangannya. Perih. Satu rasa yang ia terima setiap kali tubuhnya tercambuk oleh ikat pinggang berbahan dasar kulit hewan itu.
"Ma-maaf."
Bimo tidak mengindahkan ucapan permaafan dari Adit. Pria itu tetap mencambuk anaknya dengan rasa kejam, tidak ada rasa kasihan sedikit pun.
"Dasar anak menyusahkan!"
"Lebih baik kamu mati! Menyusul ibumu yang selalu saja menyusahkan saya!"
Hantaman demi hantaman ikat pinggang itu terus melipir ke tubuh Adit. Adit meringis kesakitan, tetapi tetap tak dipedulikan oleh Bimo.
Hingga akhirnya tubuh Adit kehilangan keseimbangan. Kesadarannya pun di ambang batas. Adit ambruk tatkala tak bisa lagi menerima rasa sakit dari cambukan-cambukan yang diterima.
Bimo menghentikan tindakannya kepada Adit. Tidak ada raut bersalah yang tampak di wajahnya. Hanya ada raut kepuasan dari raut wajah Bimo.
Bimo berbalik. Tubuhnya memunggungi tubuh Adit yang sudah terkapar lemah dengan mata tertutup di lantai. Lalu pria itu melenggang pergi. Meninggalkan seorang lelaki berusia 17 tahun yang butuh pertolongan darinya.

KAMU SEDANG MEMBACA
LELAH
Teen FictionSemua orang boleh berusaha sekeras mungkin untuk mencapai sesuatu. Namun, semua orang juga boleh beristirahat sejenak untuk melepas lelah. Tanpa terkecuali seorang pun, tetapi kenapa Adit tidak boleh lelah? *** Adhitama Sabian. Lelaki 17 tahun yang...