3. Makam

12 1 0
                                    

Adit menatap getir tubuhnya dari pantulan cermin. Banyak luka memar baru yang tercetak di sekujur tubuhnya.

Lima tahun bukan waktu yang sebentar. Lima tahun adalah waktu yang lama. Terlebih di setiap harinya, Adit selalu mendapatkan berbagai luka. Baik dari fisik maupun batin.

Lelaki itu tertekan. Ingin menangis, tetap takut dikatai lemah. Tak menangis, dadanya menyesak saat sesuatu di dalamnya tak bisa dikeluarkan secara bebas.

Adit resah. Dia bimbang. Mengambil langkah selalu saja dianggap salah. Apa harus Adit tetap berdiri di situ saja?

Sebab satu kesalahannya, ia harus menerima ribuan perih. Karena dirinya membolos sekolah dari jam istirahat hingga jam pulang, Adit harus menanggung semua rasa yang diakibatkan oleh Bimo, Ayahnya.

Adit tahu, kesalahannya memang benar-benar salah. Tidak seharusnya seorang murid berperilaku seperti itu. Namun, apakah semua orang juga bisa mengerti alasan dia melakukan itu?

Semata-mata hanya ingin menghirup udara bebas. Bebas dari polusi-polusi yang selalu menekan batin, dan jiwanya. Polusi dari semua orang yang berhati sampah, seperti Bimo, dan Kara.

Mengingat nama Kara. Otak Adit berputar, dan melayang. Mengingat kalimat lirih yang diucapkan oleh Kara tadi pagi saat di sekolah.

"Kapan kamu kembali, Dit?"

"Sebenarnya, apa maksud dari Kara?" gumamnya bertanya.

Kembali. Apa yang kembali? Ke mana Adit harus kembali?

Aneh. Manusia senyawa Kara memang tak perlu dipikirkan. Perempuan itu pasti hanya berniat membuat Adit bingung.

Adit mengacak-acak rambutnya. Ia melihat pantulan cermin. Rambutnya yang semula rapi berubah acak-acak atas perbuatannya sendiri.

"Persetan dengan Kara!" sergahnya lalu melenggang berjalan. Menjauhi cermin, tetapi masih tetap di dalam kamar.

Adit mendekati kasur. Dia merebahkan tubuhnya ke kasur. Matanya menelisik dinding kosong berwarna putih. Menerawang bagaimana esok hari ia bisa bahagia atau tidak.

Adit menghembuskan napas panjang. Dia kembali bangkit duduk.

"Lebih baik aku pergi ke sana saja."

***

Hujan deras dilalui Adit. Kakinya terus menjejaki jalanan beraspal yang licin karena terkena air hujan. Semakin ia melangkah, semakin deras pula air hujan menderai.

Adit tak ingin beranjak menepi. Dia terus memacu langkahnya. Tak peduli bagaimana anggapan orang-orang di sekitarnya tentang seorang lelaki yang memilih menghalau hujan deras yang kasar mata.

Tak ada seorang pun tahu, kecuali Adit sendiri. Hanya dia sendiri yang tahu, bagaimana keadaannya. Hancur. Menangis dalam riuhnya hujan. Berteriak tatkala guntur-guntur saling memekakkan telinga manusia.

Hujan sore ini menjadi saksi bisu atas Adit yang melepas beban yang ditanggung. Melepasnya dengan tangisan yang tidak diketahui banyak orang.

Luka-lukanya mencuat perih tatkala ribuan jeruji air hujan memercik ke luka-lukanya. Banyak luka baru yang sudah dibuat oleh Bimo tadi siang.

Hal itu membuat beban Adit semakin sesak. Banyak beban yang harus ia tanggung. Namun, sedikit pun orang tidak ada yang mau mengerti seberapa banyak beban dari seorang anak lelaki yang masih berusia 17 tahun.

Perjalanan Adit tak berhenti. Padahal hujan mulai mereda. Langkah-langkah kecil dari kaki-kaki Adit membawa lelaki itu ke sebuah area sepi.

Hawa dingin langsung menyergap tubuh Adit. Bulu-bulu halusnya berjengkit, menandakan bahwa ia merinding. Meski begitu, tak gentar Adit tetap melangkahkan kaki menuju tempat tujuannya.

Di sini lah Adit berjongkok. Di hadapan sebuah gundukan tanah yang berisi jasad yang tak bernyawa. Adit melemparkan tatapan sedihnya ke arah batu nisan yang bertuliskan nama 'Alia'. Nama yang paling ia sayangi: ibunya.

Alia telah berpulang lima tahun lalu. Sejak usia Adit masih 12 tahun. Usai kematian Alia jugalah Adit harus menanggung beban yang banyak.

Kekerasan terhadap fisik, dan verbal. Bimo yang selalu melukai fisik, dan batinnya. Teman-teman di sekolahnya yang selalu bertindak sebagai pelaku bullying.

"Ibu, Adit rindu." Adit bergumam. Dia menciumi batu nisan milik makam Alia.

Setetes air mata jatuh dari pelupuk mata Adit. Adit menepis kasar air mata itu. Ia tak boleh terlihat lemah di hadapan makam Ibunya.

"Ibu, Adit boleh cerita?"

Adit mengusap batu nisan itu. Lalu tangannya beralih mencabuti satu per satu rumput liar di sekitar gundukan tanah yang di dalamnya berisikan jasad tak bernyawa Alia.

"Adit lelah, Bu. Adit sudah nggak kuat lagi. Adit lelah, sangat lelah. Tetapi Ayah selalu saja tidak berubah."

Adit menghembuskan napas panjang. Nyeri rasanya saat ingin bercerita tentang apa yang ia alami lima tahun lalu. Terlebih bercerita di hadapan makam mendiang sang Ibu.

"Adit kira, diurus sama Ayah adalah sebuah hal yang baik buat Adit. Nyatanya, enggak sebaik itu. Ayah memang ngurusin Adit, tapi dengan cara kekerasan."

"Bukannya Adit jadi kuat. Adit malah jadi anak yang tertekan, Bu. Pasti Ibu kecewa, ya, sama Adit? Karena Adit nggak bisa jadi anak yang ibu harapkan. Sama seperti Ayah yang sudah kecewa sekali dengan Adit, atau memang Ayah yang sudah benci dengan Adit."

"Maafin Adit, Bu. Adit memang salah," terus Adit lalu kedua tangannya melingkar, memeluk gundukan tanah merah itu.

Adit menyandarkan kepalanya di batu nisan. Ia tersenyum getir.

"Tadi Ayah cambuk Adit lagi, Bu. Sakit rasanya. Adit mau nangis, tapi kata Ayah, anak laki-laki nggak boleh nangis, dan lemah. Adit kesakitan, Bu. Pasti kalau Ibu masih hidup, Adit nggak akan merasa seperti ini," adu Adit kepada gundukan tanah yang tidak bisa berbicara.

Adit menghela napas begitu panjang. Napas yang terasa sesak. Rasanya detik ini juga, Adit tak ingin bernapas.

"A-adit lelah, Bu."

***

LELAHTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang