Adit menghela napas panjang. Dia menatap atas dinding ruang tamu. Dihiasi oleh warna putih yang mendominasi.
Sudah sejam lamanya, Adit terduduk di salah satu sofa yang ada di ruang tamu. Bukan tanpa alasan, ia seperti ini karena menuruti ucapan Bimo, Ayahnya.
"Tunggu saya pulang di ruang tamu. Jika saya pulang, dan kamu tidak ada. Siap-siap kamu, Adit!"
Dari nada bicara Bimo melalui sambungan telepon, pria itu tidak sedang memerintahkan Adit, melainkan mengancam anaknya. Adit tampak gusar di tempat. Ayahnya belum juga kunjung datang, dan sekarang ia sudah dilanda kebosanan.
"Ayah di mana, sih? Kenapa lama sekali? Aku bosan. Ingin cepat keluar dari rumah sepi ini, tapi kalau Ayah marah ..."
Adit mengusap wajah kasar kemudian kembali berkata, "tidak, tidak bisa. Aku tidak ingin menambah kemarahan Ayah."
Adit berusaha menetralkan napasnya. "Oke, tunggu sebentar lagi, Adit. Pasti Ayah lagi kerja. Dia lagi meeting dengan relasi bisnisnya yang punya anak dengan sejuta kepintaran. Menyebalkan saja!"
***
Pasokan oksigen di sekitar Adit merasa semakin menipis. Seorang pria tegap bersetelan lengkap jas itu menatap tajam Adit.
Tubuh Adit spontan berdiri dari tempat duduknya. Dia kemudian menundukkan kepala, karena sampai saat ini pun Adit belum berani membalas tatapan setajam elang itu.
"Kamu tahu kenapa wajah saya terlihat begitu marah?" tanya Bimo dengan nada pelan, tetapi mampu membuat Adit meneguk ludahnya kasar.
'Setiap hari, Ayah selalu marah. Dan, kebanyakan tanpa alasan. Lalu, kenapa Ayah harus bertanya kepadaku? Aneh sekali!' gerutu Adit dalam batin.
"Saya tanya, dan itu butuh jawaban. Bukan hanya diam, dan menunduk seperti kamu, Adit!"
"A-Adit nggak tau kesalahan Adit kali ini apa, Ayah," cicit Adit.
"Nggak tau?!" ulang Bimo dengan berang. Pria yang sudah masuk kepala empat itu kemudian mencengkram bahu anaknya.
"Apa yang sudah kamu lakulan di sekolah, Adit?"
"Adit ..."
"Selalu membuat nama saya jadi buruk. Selalu. Kamu tidak pernah berpikir, hah? Apa kamu ini diciptakan untuk membuat saya malu setiap hari? Kamu tahu? Gara-gara kelakuan kamu di sekolah, salah satu perusahaan besar yang ingin kerja sama dengan perusahaan saya tadi memutuskan perjanjian." Semakin lama, cengkraman itu semakin kuat. Sekuat jiwa, Adit juga menahan ringisan sakit yang nyaris keluar dari mulutnya.
"Ma-maaf, Ayah," ucap Adit, meskipun belum tahu kelakuan dirinya yang mana.
"Kamu tahu kesalahan kamu sekarang?" Lagi, Adit menggelengkan kepalanya, membuat amarah Bimo kembali memuncak ke udara.
"Dasar sialan! Anak tak berguna! Lebih baik kamu mati saja! Menyusul ibumu yang selalu menyusahkan saya!" pekik Bimo lalu menggapai salah satu ikat pinggang yang tergeletak di meja ruang tamu.
"A-Adit minta maaf, A-Ayah ..."
"Tidak ada kata maaf untuk kali ini Adit. Kamu sudah keterlaluan. Kenapa kamu mempermalukan Ayah setiap hari, hah? Lalu, sekarang kamu mempermalukan Ayah dengan menghina Kara di depan umum. Padahal kamu tahu kalau keluarga Kara itu lebih terpandang dari keluarga kita. Bodoh kamu, Adi!"
Pikiran Adit melayang. Mengingat kejadian di sekolah tadi. Di mana ia sedikit memberikan pelajaran terhadap Kara dengan cacian. Namun, yang didapatkannya setelah itu harus berkali-kali lipat. Mendapatkan hukuman dari guru, dicaci maki oleh banyak orang, dan sekarang juga akan mendapatkan hukuman dari Ayahnya.
Adit tersenyum getir. "Sebegitu sayangnya orang lain kepada orang-orang yang terpandang status kekayaan," gumam Adit.
Bimo mulai melakukan aksinya. Pria itu menghujani tubuh Adit dengan ikat pinggang miliknya. Semua lontaran kotor terus terlontar dari mulut Bimo, dan itu semua tertuju kepada Adit.
"Ayah, maafkan Adit."
"Adit, minta maaf, Ayah!"
"Shh ..."
Suara rintihan dari seorang remaja 17 tahun terdengar begitu lirih. Namun, suara itu tetap saja kalah dengan suara cambukan ikat pinggang yang sedari tadi melesat di tubuhnya.
"Ayah, Adit minta maaf."
"Nggak ada kata maaf untuk anak nakal kayak kamu!" sentak Bimo dengan garang. Ia kembali mencambuki tubuh Adit tanpa belas kasihan dengan seikat pinggang berbahan dasar kulit itu.
Luka-luka memar sudah tercetak di beberapa bagian tubuh Adit. Rasanya sakit. Namun, sebanyak apapun Adit meminta berhenti, dan maaf, Bimo tidak akan pernah menghentikan ini semua sebelum hati pria itu merasa phatia
Adit dipaksa berdiri tegap. Dipaksa merasakan perihnya puluhan kali cambukan ikat pinggang. Dipaksa untuk tidak boleh ambruk, dan terjatuh. Atau akibatnya akan jauh lebih menyakitkan dari ini.
Sayang sekali, tubuh Adit tak bisa lagi menopang semua sakit yang ada. Tubuh Adit hilang keseimbangan, hingga lelaki itu harus tersungkur jatuh ke lantai.
"Adit!" pekik Bimo. Emosinya kembali membuncah. Anak lelakinya yang sudah dirawat lima tahun tetap saja lemah seperti ini.
Bimo menarik lengan Adit. Memaksa anak itu untuk kembali berdiri tegap. Adit pun terpaksa bangkit berdiri seraya menahan rasa perih, dan sakit di sekujur tubuhnya.
"Anak laki-laki itu nggak boleh lemah!" geram Bimo, "kamu laki-laki apa perempuan?!"
Mulut Adit tak bisa lagi berkata-kata. Hanya ringisan sakit yang keluar dari mulutnya. Suaranya tak lagi sanggup mengeluarkan banyak kata.
"Kalau dikasih tahu itu jangan diam saja!" seru Bimo lalu melayang satu tonjokan di pipi kanan Adit.
Tubuh Adit terhuyung ke samping kanan. Aliran darah keluar dari sudut bibirnya. Air mata Adit terbendung di pelupuk matanya, hingga matanya memerah sebab menahan tetesan-tetesan itu untuk tak jatuh.
"Dasar lemah!"
Usai itu, Bimo melenggang pergi. Meninggalkan Adit tanpa ingin membantu sedikit pun. Pergi tanpa rasa bersalah.
Adit menatap kepergian Bimo. Dia tersenyum getir.
"Aku hanya butuh pembelaan diri saat harga diriku terinjak jatuh. Apa itu tidak boleh, Ayah? Adit lelah."

KAMU SEDANG MEMBACA
LELAH
Teen FictionSemua orang boleh berusaha sekeras mungkin untuk mencapai sesuatu. Namun, semua orang juga boleh beristirahat sejenak untuk melepas lelah. Tanpa terkecuali seorang pun, tetapi kenapa Adit tidak boleh lelah? *** Adhitama Sabian. Lelaki 17 tahun yang...