17. Terkuak?

14 2 0
                                    

"Kamu bukan anak kandung saya."

Tubuh Adit menegang. Dia melayangkan tatapan tidak percaya ke arah Bimo. Lantas Adit menggelengkan kepala berulang kali, berusaha untuk tidak mempercayai ini semua.

Adit menepis tangan Bimo dari kedua bahunya. Ia menatap tajam Bimo, meskipun matanya tak bisa bohong. Jika Adit benar-benar terkejut sekaligus sedih setelah mendengarkan penuturan Bimo.

"Kalau saya bukan anak kandung Anda, lalu kenapa Anda merawat saya selama lima tahun ini? Ya, memang, tak bisa dipungkiri jika saya merasa begitu tersiksa selama hidup dengan Anda!"

Bimo menghela napas panjang. "Itu belum harus kamu tahu, anak malang."

"Kenapa saya nggak boleh tahu?"

"Karena belum tepat waktunya. Anggap saja apa yang lakukan selama ini kepadamu hanya sebagai bentuk balas budi saja."

Adit berdesih. "Balas budi apa? Bahkan Anda, seorang Bapak Bimo yang terhormat, tak pernah sekali pun memperlakukan saya secara baik."

"Memang kalau balas budi harus memperlakukan seseorang dengan baik?"

Adit mengangguk mantap membuat Bimo tertawa.

"Bukankah memang seperti itu caranya?" tanya balik Adit seraya menautkan dua alisnya.

Bimo menggelegarkan tawanya. Tawa yang begitu mengerikan saat tertangkap di indera pendengaran Adit.

"Anak baru lahir kemarin sore seperti kamu tahu apa, Adit? Adit, Adit, bodoh sekali kamu ini seperti ayah kandungmu."

Mendengar Bimo menyebut "ayah kandungmu" kembali membuat Adit mematung. Tangannya terkepal kuat, lantas melayangkan tatapan murka ke arah Bimo. Tatapan yang selama ini belum pernah Adit tunjukkan di hadapan Bimo.

"Di mana Ayah kandung saya?"

"Di mana-mana hatinya pasti sedih, sih." Bimo tertawa sinis. "Mungkin dia sudah mati. Mungkin, lho, ya, tapi nggak menutup kemungkinan juga kematiannya benar adanya."

Tangan Adit semakin terkepal kuat. Ia melayangkan satu bogeman ke rahang Bimo, tetapi lebih dahulu ditepis oleh Bimo.

"Jangan main-main sama saya, Adit! Kamu belum tahu siapa saya yang sebenarnya!" ancam Bimo yang sama sekali tak membuat Adit merasa terancam.

Ini semua demi ayah kandungnya.

Rahasia yang terkuak di hari ini.

Tentang hidupnya yang terkurung dalam kebohongan selama lima tahun.

Sebercanda itukah takdir hidup seorang remaja bernama Adhitama Sabian?

"Saya tidak takut dengan ancaman Anda, Tuan Bimo! Beri tahu saya sekarang, di mana keberadaan Ayah kandung saya!"

"Dia sudah mati. Mati, hancur, dan lenyap." Bimo tertawa puas. Lalu satu tangannya mencengkram dagu Adit, hingga kepala Adit harus sedikit terangkat ke atas.

"Jangan terlalu sedih begitu, Adit. Saya tahu, saya memang bukan ayah yang baik dalam merawatmu. Namun, saya masih berbaik hati memenuhi segela kebutuhanmu, meskipun kamu sendiri bukan anak kandung saya!"

"Apa motif Anda sebenarnya?" tanyanya seraya menepis tangan Bimo dari dagu Adit.

"Motif apa? Motif pakaian saya hari ini?" Bimo masih sempat-sempatnya mengulas senyum lebar.

"Bukan itu, anjing!" umpat Adit yang mulai kehilangan kendali dalam dirinya sendiri.

Adit menarik kerah baju Bimo. "Di mana Ayah kandung saya? Siapa dia? Apa motif atas perbuatan Anda selama ini kepada saya?"

"Kamu mau tahu?" tanya balik Bimo dengan nada tenang.

"Tentu saja!"

"Kamu marah dengan saya?"

Adit mengangguk seraya mengencangkan tarikan di kerah baju Bimo.

Bimo mengulum senyum tipis. "Kamu marah hanya karena saya berkata seperti itu? Lalu bagaimana jika saya mengatakan semua hal tentang Ayah kandungmu? Apa kamu akan membunuh saya sekarang juga?"

"Apapun demi ayah kandung saya!"

"Kasihan sekali kamu, Adit. Bahkan Ayahmu selama ini tidak pernah mencarimu. Padahal ia tahu sendiri jika kamu adalah anak kandungnya."

"Apa maksudmu?" tanya Adit.

"Ayahmu terlalu fokus dengan anak tirinya. Dan, kamu dilupakan oleh dia. Atau mungkin ayah kandungmu itu sudah menganggap kamu mati. Oh, berbanggalah kamu, Adit masih saya rawat, dan penuhi kebutuhanmu selama ini."

"Ayah saya masih hidup? Berarti Anda membohongi saya tadi?"

Bimo mengangguk mengiyakan. "Kamu yang memaksa saya untuk berkata jujur. Namun, saya tak pernah akan bisa tanggung jawab jika kamu menerima sebuah keterkejutan yang mungkin bisa membuatmu berpikiran untuk melenyapkan diri sendiri."

"Cepat katakan semua yang terjadi! Jangan ada kebohongan yang terlontar dari mulutmu, sialan!" maki Adit dengan air muka penuh kemurkaan.

Bimo kemudian duduk di sofa yang ada di ruang tamu. Tubuhnya disandarkan di sandaran sofa. Ia menatap langit-langit ruangan sofa. Lain dengan Bimo, Adit terus menggertakkan giginya, menahan sebuah penjelasab yang katanya akan dilontarkan Bimo.

"Cepat katakan!" seru Adit yang telah hilang batas kesabarannnya.

"Ayah kandungmu itu atasan saya di perusahaan, tempat saya bekerja dahulu. Dia tahu kamu, dan ibumu. Bahkan saat ibumu meninggal pun, dia yang meminta tolong kepada saya untuk merawatmu. Padahal saat itu, pikiran saya sedang kacau-kacaunya."

"Lalu kenapa Anda tidak menolak permintaannya?" sela Adit bertanya.

Bimo tersenyum tipis. "Saya kira dengan merawatmu sejak lima tahun lalu, saya bisa membalaskan budi sekaligus dendam saya kepadanya."

"Apa maksudmu?"

"Begitu banyak budi yang ia torehkan dalam kehidupan saya. Dan, ada satu kelakuan dirinya yang menjadikan saya sebagai seorang penuh kedendaman. Kamu tahu? Istri saya direbut oleh ayah kandungmu."

"Hanya karena masalah cinta, Anda jadikan saya---"

"Memang, benar begitu adanya. Saya terlampau kecewa dengannya. Perlu kamu ketahui juga, ada banyak orang yang mengincarmu di luaran sana."

"Mengincar saya? Kenapa?"

"Mereka membenci kamu, Adit. Perlakuan saya selama ini terhadap kamu itu hanya semata-mata agar kamu jadi lelaki kuat, dan tangguh saat di kemudian hari kamu menghadapi musuh."

Adit terpaku. Hatinya melunak. Tidak ada lagi koaran emosi. Berubah sekejap menjadi perasaan haru.

Adit bersimpuh lutut di hadapan Bimo. "Maafkan saya," ucapnya seraya menundukkan diri.

"Tidak perlu meminta maaf. Saya hanya ingin memberi tahu kepadamu jika ada dua orang yang mengincarmu untuk mati sekarang juga. Namun, ada seorang gadis yang selama ini diam-diam melindungi, dan mengkhawatirkanmu."




Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Jun 03, 2021 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

LELAHTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang