7. Berhasil?

7 0 0
                                    

Waktu yang ingin diperlambat oleh Adit akhirnya tiba. Waktu penilaian mingguan di bidang pelajaran matematika.

Berulang kali, Adit menghela napas panjang. Dia merasa gugup, karena baru pertama kali setelah lima tahun lamanya, Adit belajar sungguh-sungguh hanya untuk mengerjakan penilaian mingguan matematika.

Demi martabat, dan harga diri seorang Adhitama Sabian. Lelaki itu tidak boleh gagal. Tak boleh kalah dalam jebakan seorang perempuan ular semacam Kara.

Bel masuk sudah berbunyi beberapa menit lalu. Namun, Bu Linda selaku guru di bidang matematika belum juga kunjung menampakkan batang hidungnya.

"Semoga Bu Linda izin nggak masuk," gumam Adit penuh harap.

Ketidak-masukan Bu Linda adalah harapan yang ia tunggu-tunggu terkabulnya. Jika Bu Linda tidak masuk, maka secara otomatis penilaian mingguan matematika akan ditunda kembali. Satu hal yang sangat disukai Adit.

Sepertinya, semesta belum bisa mengabulkan harapan Adit. Bu Linda dengan tas wanita yang dicangklong ke lengan kanan melangkah masuk ke kelas yang diduduki Adit, dan teman-teman lainnya.

Adit berdecak pelan. Kesal? Tentu saja. Harapannya lagi, dan lagi tak kunjung terkabul. Atau memang semesta tak pernah berpihak kepadanya lagi?

"Selamat pagi anak-anak. Mohon maaf ibu terlambat masuk, karena tadi sedang mencari berkas soal-soal penilaian yang ternyata bersembunyi," ujar Bu Linda dengan nada sedikit bergurau.

Beberapa murid tertawa. Beda dengan Adit yang tampak gusar, dan Kara yang terus memperhatikan raut wajah Adit dari seberang.

"Baiklah, apa kalian sudah siap penilaian mingguan matematika?"

"Siap, Bu."

"Bismillah ... siap!"

"Siap, dong."

"Siap, lah, masa enggak!"

Dan berbagai sahutan lainnya yang terus menyatakan bahwa mereka siap. Tangan Adit terkepal kuat, ingin rasanya ia berteriak bahwa lelaki itu belum siap. Belum merasa siap untuk mengerjakan soal demi soal penilaian mingguan matematika, dan belum siap harus mendapatkan hasil yang diperkirakan akan jauh dari nilai A.

Kertas dibagikan oleh Bu Linda sendiri. Adit memegang kertas itu. Matanya membaca sekilas soal-soal yang tertera. Baru membaca sekilas saja, otak Adit sudah serasa mau meledak. Kepala Adit mendidih bak air yang mendidih di atas api besar.

Adit mengatur ritme napasnya. Juga dengan detak jantung yang berpacu terlalu cepat dari biasanya.

"Tenang, Adit ... kamu pasti bisa!"

***

Penilaian mingguan matematika selesai dilaksanakan beberapa menit lalu. Bu Linda juga sudah menghilang dari pandangan anak-anak kelas XI IPA 5.

Adit menghela napas lega. Setidaknya lima puluh soal sudah dikerjakan Adit dalam waktu dua jam. Dan, lelaki itu sepenuhnya yakin jika semua jawabannya benar, serta mendapatkan nilai A.

Adit mengemasi buku-buku matematika. Masih ada dua jam lagi untuk pelajaran Biologi. Satu pelajaran yang menduduki kedudukan kedua dari mata pelajaran yang tak sangat disukai Adit.

"Beruntung mapel biologi gak ada tugas hari ini," gumam Adit melega.

"Eh, biologi ada tugas, nggak, sih?" tanya Abel, seorang perempuan yang duduk di belakang bangku yang diduduki Adit.

"Ada. Minggu kemarin kan suruh ngerangkun materi bab lima. Itu juga termasuk tugas, lho," jawab Jeha, teman sebangku Abel.

Adit menepuk pelan dahinya. Senyum cerah berubah murung. "Astaga, rangkuman materi bab lima belum juga aku kerjakan. Fiks, Adit benar-benar bodoh!"

Oke, sekarang Adit menyerah. Tidak mengerti apa lagi hukuman yang harus ia terima dari Bu Kia, guru yang mengajar bidang pelajaran Biologi.

Berselang beberapa menit, Bu Kia datang. Dia langsung duduk di kursi guru. Lalu menatap satu per satu anak muridnya.

"Selamat pagi. Silahkan kumpulkan tugas rangkuman materi bab lima ke meja guru. Sekarang tanpa nanti-nanti."

Semuanya mengumpulkan buku berisikan tugas rangkuman materi, kecuali Adit yang tengah menelungkupkan kepalanya di atas meja.

Setelah semua buku terkumpul. Bu Kia menghitung jumlah buku. Kernyitan  tercetak jelas di dahi Bu Kia. Guru itu menghitung kembali buku-buku. Namun, kurang satu buku dari jumlah siswa kelas XI IPA 05.

Bu Kia menengadahkan kepalanya. Menatap satu per satu. Meneliti siapa yang tidak mengumpulan tugas. Guru itu menghela napas panjang. Tatapanny berubah menajam. Siapapun yang melihat tatapan tajamnya akan merasa terintimidasi, termasuk Adit yang rasanya nyaris kehilangan pasokan udara.

"Siapa yang belum mengumpulkan tugas?" tanya Bu Kia dengan tegas.

Tidak ada yang menjawab. Semua kecuali Aidt menunduk, dan saling menyalahkan satu sama lain. Adit mengepalkan kedua tangannya. Dia harus mengakuinya. Harus!

"Kenapa tidak ada yang menjawab?" Bu Kia menggertak meja guru. Tatapannya sebringas singa yang sedang marah besar.

"Cepat, mengaku! Siapa yang belum mengumpulkan tugas?"

Adit mengangkat satu tangannya ke atas. "Saya, Bu."

"Adit? Kamu lagi. Wah!" seru Bu Kia, "cepat berdiri ke depan papan tulis!"

Adit mengangguk sekilas. Ia bangkit berdiri lalu berjalan menuju depan papan tulis. Sesampainya di sana, lelaki itu menunduk. Tidak berani menatap teman-temannya yang sedang menyalahkan perbuataannya.

"Adit, apa alasan kamu tidak mengerjakan tugas?"

"Lupa," jawab Adit tenang.

"Lupa? Apa kamu bilang?"

"Saya benar-benar lupa, Bu. Saya kira rangkuman itu tidak dikumpulkan, ternyata ...."

"Makanya kamu lupa mengerjakan?" sela Bu Kia menelak ucapan Adit.

Adit mengangguk sekali lagi. Tatapannya beralih ke arah Bu Kia.

"Jadi, hukuman yang harus saya terima apa lagi?"

***


LELAHTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang