16. Lepas Emosi

9 1 0
                                    

Adit menapaki jalan dengan langkah demi langkah kakinya. Tangannya masih terkepal kuat, menahan gejolak amarah akibat Bram yang kembali hadir di kehidupannya. Mengingatkan Adit untuk sebuah kejadian yang telah merenggut sumber kebahagiaannya.

Adit menghentikan sejenak. Ia menatap dalam-dalam rumah yang sudah lima tahun ia jadikan tempat tinggal. Rumah bagai neraka versi dunia. Setidaknya, itulah opini Adit untuk rumah yang diatas namakan Bimo.

Ia menghela napas. Lalu kembali melangkahkan kaki, masuk ke rumah. Membuka, dan menutup pintu secara kasar. Hingga seorang pria yang tengah menyesap aroma kopi hitam panas di ruang tamu tiba-tiba tersedak.

"Adit, apa-apaan kamu ini!"

Adit berhenti. Tangannya masih terkepal, tetapi Adit tetap membalikkan badannya. Menghadap ke seorang pria bernama Bimo yang memanggilnya dengan murka.

"Kenapa?" tanya Adit seraya mengangkat tinggi-tinggi wajahnya. Seperti sedang menantang seorang Bimo.

Bimo menautkan kedua alisnya. Lalu ia menggeram marah, karena merasa Adit sudah kurang ajar terhadap dirinya. Bimo lantas menggapai segelas kopi hitam panas di meja, kemudian menyiramkan kopi hitam panas ke baju Adit.

Adit memejamkan mata sejenak. Menikmati sensasi panas yang ia terima baru saja. Tangannya semakin terkepal kuat tanpa disadari oleh Bimo. Berselang lima detik, Adit kembali membuka kelopak matanya. Menatap tajam ke arah Bimo. Tatapan yang selama ini tidak pernah ia layangkan ke seorang pria yang suka mengatur hidupnya.

"Dasar kurang ajar!"

Bimo melayangkan satu tonjokan ke pipi Adit. Namun, dengan cekatan Adit mampu menangkisnya. Hingga dua lelaki yang menjadi Ayah, dan Anak itu saling berkelahi. Tanpa ingin mengalah dari satu sama lain.

Bimo terhuyung ke belakang, lantas terjatuh ke lantai saat tubuhnya tak lagi siap menerima tendangan maut dari Adit. Bimo menyeka kasar derai darah berwarna pekat yang keluar dari beberapa bagian wajahnya.

Bimo menatap heran Adit. Adit yang tidak pernah ia kenal sebelumnya. Bukan, Adit yang selama ini menurut, bahkan menerima apa saja yang ia lakukan. Dan, sekarang dengan beraninya Adit memukulinya habis-habisan.

"Ayah tahu? Selama ini Adit dendam sama Ayah! Benar-benar dendam. Berawal dari kesal, benci, lalu dendam. Ayah bukan orang lama yang kenal Adit! Namun, Ayah dengan mudahnya menjadi pengatur hidup Adit setelah ibu tiada." Adit mengeluarkan unek-uneknya yang selama ini ia simpan, meskipun dari nada bicaranya tak meyakinkan bahwa Adit sepenuhnya berkata jujur.

Adit tertawa miris. "Di saat banyak orang tua di luar sana mendukung anaknya untuk berprestasi sesuai minat bidangnya. Ayah sendiri yang selalu menyuruh Adit untuk menghempaskan jauh-jauh mimpi Adit sebagai atlet. Ayah, Adit ingin jadi atlet, tapi apa pernah Ayah mengizinkannya walau hanya latihan sehari saja?"

"Adit ..."

"Nggak pernah, Ayah!" sela Adit berteriak. Seperti tidak ingin memberikan jeda untuk Bimo berbicara. Adit menguatkan kepalan tangannya. Giginya bergemalatuk, menahan gejolak rasa yang bercampur aduk dalam jiwa rusaknya.

"Ayah selalu bilang kalau jadi atlet itu gak ada masa depan! Ayah selalu bilang kalau satu-satunya Adit bisa berhasil hanya dengan Adit bisa mendapatkan nilai matematika yang selalu bagus. Ayah, Adit lelah." Adit membuang napas kasar. Dadanya menggebu-gebu, sakit tapi tak berdarah. Ingin rasanya sekarang juga Adit berhenti berbicara, tetapi semakin lama ia sembunyikan, semakin lama itu juga rasa sesaknya dia tahan.

"Adit, Ayah ..."

"Ayah, pernah tanyain Adit gimana di sekolah? Nggak! Ayah cuma selalu mengingatkan Adit untuk gak memalukan Ayah. Padahal Adit hanya butuh perhatian, Ayah. Adit butuh dukungan Ayah secara baik, dan benar. Ayah, Adit sudah nggak punya siapa-siapa lagi di dunia ini, selain Ayah."

"Yan dahulu Adit harapkan sebagai tempat pengaduan ternyata menjadi tempat penyiksaan bagi hidup Adit." Sorot mata yang semula tajam berubah sendu. Kecewa, tentu saja Adit merasakan itu. Bimo dapat melihat itu dari mata Adit yang selalu gagal menyembunyikan rasa sedihnya.

Bimo susah payah berusaha bangkit berdiri. Lalu berjalan mendekati Adit dengan tertatih-tatih. Satu tangan ingin menggapai bahu Adit, tetapi terlalu cepat untuk terhempaskan oleh tangan Adit.

"Kenapa Ayah dekat? Bukannya Ayah nggak sudi punya anak seperti Adit?"

Bimo menggelengkan kepalanya. Berulang kali, hingga Adit merasa muak sendiri.

"Apa?" tanya Adit tak sabaran. "Ayah mau bicara apa lagi sama Adit? Mau caci, dan maki Adit? Iya?"

Bimo menggelengkan kepala untuk kedua kalinya. "Saya mau bicara jujur denganmu, Dit."

"Ayah mau bicara apa sama Adit? Belum cukup Adit merasakan lelah akibat perlakuan Ayah selama ini?"

Bimo menggapai bahu Adit. Mencengkram erat bahu seorang anak lelaki yang selama lima tahun dia rawat. Bimo menghela napas begitu panjang sebelum berbicara. Seperti akan berbicara berat

"Ayah, mau bicara apa?" tanya Adit mengulangi pertanyaannya lagi. Dia menggunakan nada yang lebih rendah dari sebelumnya saat tahu jika Bimo ingin berbicara penting dengannya.

"Kamu tahu kenapa saya selalu bersikap seperti ini kepada kamu?"

Adit menggelengkan kepalanya. Membuat Bimo tersenyum tipis.

"Kamu mau tahu?" Adit mengangguk lirih.

"Kamu bukan anak kandung saya."

LELAHTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang